Untuk bung Priyo:
In a message dated 11/4/99 7:53:28 AM Eastern Standard Time, [EMAIL PROTECTED]
writes:
> Wah...Detik.Com kok sering banget misleading
> pembacanya sih. Maklumlah banyak wartawan belum punya
> jam terbang cukup di rimba persilatan, tapi harus
> buru2 bikin berita...;-)
Irwan:
Kita harus bisa membedakan mana yg misleading dan
mana yg informasinya terbatas atau belum lengkap.
Contoh berita yg 'misleading' adalah:
Bila kejadiannya tidak minta maaf, lalu diberitakan
meminta maaf. Contoh kejadian adalah berita di
Kompas ketika Emmy Hafild (Walhi) dalam teks di foto
diberitakan meminta maaf ke Gus Dur. Akibat berita
yg misleading ini maka Emmy Hafild perlu melakukan
konferensi pers yg beritanya dapat anda baca di:
http://www.detik.com/berita/199911/19991102-1125.htm
Nah, kalau soal detik.com dalam berita soal Amien Rais
vs Dubes AS tidak memuat kata2 yg menunjukkan Dubes
AS memintaa maaf, menurut saya bukan termasuk kategori
misleading. Lha, kalau dubes AS selama yg wartawan
detik.com dengar tidak pernah mengucapkan kata2
minta maaf, kenapa juga wartawan detik.com harus
memuat berita dengan menulis dubes AS minta maaf?
Ini justru malah termasuk kategori 'misleading' tsb.
Priyo:
> Contohnya: PDI-P ternyata menempatkan posisi 4 Menteri
> di Kabinet, Kwik, Laksamana, M. Prakosa (Mentan), dan
> Sonny Keraf (PDI-P dari NTT), kok cuma ditulis 2
> posisi Menteri. Unsur kesengajaan -- atau emang nggak
> tahu nih? Ya...gua maklum lah, wartawan baru..;-)
Irwan:
Wah, saya kirain juga tadinya cuma dua.
Soalnya di media2 lain sewaktu masih draft juga
PDIP nya saya lihat cuma dua. Tapi baguslah kalau
memang ada 4 wakil PDIP di kabinet karena memang
menurut saya sangat wajar mengingat PDIP adalah
partai yg paling besar mendapat suara rakyat.
Oh ya, ngomong2 apa memang dua orang tersebut,
M. Prakosa dan Sonny Keraf diangkat dari PDIP
atau mungkin diangkat dari Utusan Daerah?
Bisa anda cari konfirmasi akan hal ini?
Kalau memang ternyata dari Utusan Daerah, wah
gimana ya, berita bahwa cuma 2 dari PDIP itu
bisa menjadi benar dan bisa juga kurang benar
tergantung dari sudut mana kita memandangnya.
Priyo:
> Kenapa Detik.com juga mesti malu untuk menulis: Dubes
> AS minta maaf. Selesai.
Irwan:
Seperti yg saya jelaskan di atas, ada kemungkinan2
yg tampaknya mungkin belum anda perhitungkan
sebagai suatu kemungkinan. Kalau anda mengikuti
berita2 di detik.com, mereka sering kali nulis ngga
pake basa basi. Ngga malu2. Coba deh lihat lagi,
di detik.com toh kita bisa lihat kutipan2 atas ucapan
Amien Rais ke dubes yg cukup keras.
Jadi menurut saya, detik.com hanya mencoba
memegang kode etik jurnalistik yg salah satunya
adalah kutiplah/beritakanlah apa yg dikatakan
dan bukan apa yg tidak dikatakan.
Priyo:
> Mana, harga diri kita sebagai
> bangsa, kalau maunya memojokkan bangsa sendiri dan
> membela bangsa lain terus?
Irwan:
Nah, yg ini menurut saya sudah kejauhan nih.
Apa menurut anda detik.com membela bangsa lain terus
dan memojokkan bangsa sendiri?
Ngomong2 kalau detik.com ngejar kasus Bank Bali,
apakah menurut anda ini termasuk kategori memojokkan
bangsa sendiri? Kalau detik.com mengejar kasus Andi
Ghalib, apakah ini menurut anda termasuk kategori
memojokkan bangsa sendiri? Kalau detik.com mendapat
konfirmasi dari Mar'ie Muhammad atas peristiwa Brawijaya,
apakah ini anda kategorikan termasuk memojokkan bangsa
sendiri?
Wah, anda sudah terlalu jauh tampaknya dalam melihat
satu permasalahan.
Untuk bung Renaldo:
Renaldo:
> Kasus Dubes AS selesai sudah. Dalam Cakrawala ANTV,
> Liputan 6 SCTV, juga di Seputar Indonesia RCTI tadi
> sore diberitakan, Dubes AS sudah ketemu Ketua MPR
> Amien Rais untuk menjernihkan persoalan dan keduanya
> sepakat,
> persoalannya sudah dianggap selesai. Detikcom juga
> memberitakan ini.
> Cuma bedanya, berita Detikcom samasekali tidak
> menyebutkan Dubes AS sudah minta maaf (di ANTV, SCTV
> dan RCTI ketiga-tiganya ada disebut Dubes AS minta
> maaf), dan di Detikcom masih diembel-embeli pernyataan
> Mar'ie Muhammad yang mengatakan "tekanan itu tidak
> ada".
Irwan:
Saya hanya minta konfirmasi dari anda, bung Renaldo,
apakah dalam tayangan ANTV, SCTV, RCTI, tersebut
ada disiarkan perkataan langsung dari dubes AS
yg mengucapkan kata2 minta maaf?
Atau kata2 maaf dari dubes itu hanya disebutkan dalam
berita saja? Kalau memang ada rekaman gambar
(atau juga rekaman suara) yg menunjukkan dubes AS
mengucapkan kata2 minta maaf, jelas disini wartawan
detik.com kurang lengkap yg bisa terjadi karena
keterbatasan informasi dalam pemberitaan.
Jadi tidak tepat bila dikatakan "misleading".
Mengenai dikutip-ulangnya perkataan Mar'ie Muhammad,
menurut saya itu adalah naluri seorang wartawan yg
melihat ada sesuatu yg ganjil pada peristiwa tersebut.
Manakah peristiwa yg sebenarnya terjadi?
Apakah Mar'ie berbohong?
Ataukah dubes AS mencari jalan tengah demi kepentingan
yg lebih besar antara AS dengan Indonesia karena
AS lebih melihat Gus Dur nya.
Dan untuk menyampaikan hal tersebut, wartawan
detik.com tidak menambah2kan berita tapi hanya
mengingatkan pembaca adanya dua versi yg masih
belum jelas. Wartawan tersebut mempersilahkan
sidang pembaca untuk mengambil kesimpulan.
Perlu diingat, tindakan jalan tengah yg diambil dubes
AS tersebut bisa dilakukan tanpa harus meminta maaf,
tapi mengclearkan masalah yg sebenarnya terjadi.
Renaldo:
> Kesimpulan: memang benar Dubes AS
> "menyarankan/mengharapkan" agar Glenn Yusuf jangan
> diganti. Tapi "saran atau harapan" itu oleh Amien Rais
> diterima sebagai keterlaluan, sebagai "tekanan",
> sebagai "campur tangan". Jelas dan gamblang, dan
> dengan demikian memang kasusnya selesai sudah.
Irwan:
Lho, apa ada konfirmasi positif dari dubes AS
bahwa dia berkata demikian?
Kalau kita tidak bisa mendapatkan konfirmasi positif
dari dubes AS, maka sumber yg bisa dipakai untuk
klarifikasi adalah pihak yg saat itu hadir dalam
pertemuan. Dalam hal ini salah satunya adalah
Mar'ie Muhammad. Silahkan lihat kembali
penuturan Mar'ie Muhammad:
http://www.detik.com/berita/199911/19991103-2105.htm
Pernyataan ini bisa anda abaikan kalau anda
berpendapat bahwa Mar'ie Muhammad yg sering kita
kenal dengan julukan Mr. Clean ini berbohong.
Mari kita lebih obyektif dalam melihat permasalahan.
Tidak ada yg perlu dibela dalam kasus ini.
Benar katakan benar, salah katakan salah.
Yang benar kita jaga/pertahankan, yg salah
kita perbaiki.
Sebagai penutup, saya kutipkan quote dari
John F. Kennedy:
"Right or wrong is my country. When it's right
keep it right. When it's wrong make it right."
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu