Saudara Moko,

Terima kasih atas tanggapannya. Sungguh suatu cara pandang yang menarik yang
dapat kita kaji dan diskusikan bersama. Sebagai background information,
mungkin ada baiknya anda sampaikan kira-kira kapan acara brownbag seminar
itu, sebelum atau setelah SU-MPR. Apa topik dan siapa pembicaranya.

Kalau acara itu dilakukan sebelum SU-MPR, saya sendiri juga dapat mengerti
sepenuhnya sikap sinisme dari peserta seminar itu terhadap demokratisasi di
Indonesia. Jangankan orang AS, orang Indonesia saja tidak yakin pada saat
itu apakah negara kita memang akan menempuh jalan menuju demokrasi, atau
justru akan hancur berantakan. Bagaimana kita dapat meyakinkan orang lain
mengenai itu, kalau kita sendiri tidak yakin. Namun kalau seminar itu
dilakukan setelah SU-MPR bulan lalu, saya melihatnya justru kondisi itulah
yang menjadi tantangan bagi kita semua. Kenapa masih demikian?

Tujuh koran besar di AS, antara lain New York Times, Washington Post, Wall
Street Journal dalam editorial maupun laporannya telah menyambut baik SU-MPR
dan hasil-hasilnya, terutama terpilihnya Gus Dur dan Mega menjadi Presiden
dan Wapres melalui suatu proses pemilihan yang demokratik. Mereka mengakui
bahwa lembaga MPR (yg sebagian anggotanya diangkat bukan dipilih) dan sistem
Pemilihan Presiden yg tidak langsung merupakan suatu catatan kaki bahwa
sistem politik kita belum demokratik sepenuhnya. Namun mereka tidak dapat
menyangkal, bahwa Indonesia Baru saat ini memang secara serius mengikuti
jejak demokratisasi yang sesungguhnya. Mereka juga mengakui bahwa duet Gus
Dur-Mega, dan Amien Rais-Akbar Tanjung, walaupun "aneh" dilihat dari
kacamata check and balance-nya demokrasi liberal AS yang dwi-partai itu,
namun tidak dapat disangkal sebagai outcome terbaik yang dapat mencegah
"proses balkanisasi di Indonesia"

Kenapa perkembangan itu tidak langsung "diterima" oleh rakyat AS secara
menyeluruh. Argumentasi saya sederhana saja. Bad news travels much faster
than good news. Itu adalah suatu fakta yang tidak dapat dipungkiri dalam
dunia media massa dan public opinion. Berita yang mengandung tragedi
kemanusiaan jauh lebih menarik daripada berita baik. Disamping itu, publik
AS terkenal sangat ignorant terhadap hal-hal yang terjadi di belahan dunia
lain (salah satu adalah kecilnya reaksi publik thd penolakan Senat AS
terhadap CTBT), kecuali kalau berita itu memang sensasional atau kalau
mereka melihat dan mendengar dari sumbernya langsung.

Oleh karena itu, saya cukup senang melihat bahwa "perhatian" publik dan
media massa AS yang sekalipun dimulai dengan berbagai peristiwa tragedi
mulai Mei 1998, ternyata sampai saat ini masih cukup besar mencermati
berbagai perkembangan di Indonesia. Namun saya juga realistis bahwa mereka
tidak akan secara besar-besaran menempatkan good news itu di halaman muka
atau dengan foto yg besar-besar, karena berita mengenai kita sudah berkurang
news value-nya (bad news is good news, while good news is not interesting
enough).

Disitulah saya melihat Permias yang memiliki anggota di seluruh penjuru AS
memiliki posisi strategis untuk membantu pulihnya citra Indonesia. Hal itu
tidak berarti kita harus "menipu" diri seperti diwaktu yang lalu. Alasan itu
pula yang membuat saya pribadi juga tidak terlalu optimis dan bersemangat
dalam mengajak Permias bekerjasama melaksanakan hal seperti ini diwaktu
lalu. Penipuan seperti itu tidak akan efektif karena dalam era globalisasi
seperti sekarang, tindakan menipu diri sendiri itu hanya menjadi tertawaan
orang lain.

Dilain pihak, meningkatnya keyakinan publik AS mengenai perkembangan
demokrasi di Indonesia akan memperbaiki kesempatan kita mencapai kepentingan
nasional. Usaha meningkatkan citra Indonesia di AS bukan supaya orang-orang
AS menjadi senang seakan-akan kita adalah client state-nya mereka yg harus
menuruti apapun yang diperintahkan atau diinginkan oleh mereka. Pemulihan
citra itu diperlukan karena untuk membangun kembali ekonomi, Indonesia
memerlukan modal dan kerjasama baru dengan berbagai negara, termasuk dengan
negara adikuasa tunggal ini. Bahwa kita melakukan proses demokratisasi dan
penghormatan HAM, itu adalah karena kehendak rakyat Indonesia, bukan untuk
menyenangkan bangsa lain. Now it's up to us, each and everyone of us to
promote it. Mungkin anda melihat pemilihan kata "strike back" itu terlalu
keras, dan lebih tepat "long-term partnership in promoting Indonesian
democracy?. Terserah saja.

Saya menunggu tanggapan anda dan teman-teman lainnya.

Salam
Mahendra

-----Original Message-----
From: Moko Darjatmoko <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Monday, November 08, 1999 12:49 AM
Subject: Re: Kerjasama Permias-KBRI/KJRI


>Ada sebuah "adegan" dalam satu brownbag seminar di kampus, dimana seorang
>mahasiswa asal Indonesia dengan semangat menyala berusaha menepis image
>buruk tentang negerinya. Dengan berapi-api dia bertanya kenapa si
>pembicara tidak mengikut sertakan negerinya dalam kelompok negara yang
>demokratis ... "what you expect from us [Indonesia], what Indonesia
>supposed to do to be called a democratic country?" Dengan halus si
>pembicara menjawab: "It is very simple ... just be like one, or at the
>very least, act like one!"
>
>Sudah terlalu lama problem 'image' ini dihadapi dengan "strike back" pada
>mereka yang mengritik kita. Sudah lama pula --kalau kita mau melihat
>relita-- kita seharusnya mengetahui bahwa pendekatan seperti ini tidak
>akan jalan. "Kegagalan" kita dalam diplomasi, soal Timtim misalnya, bukan
>karena kurang pandainya Menlu Ali Alatas atau Dubes untuk PBB Makarim
>Wibisono bersilang kata --dibandingkan Ramos Horta misalnya-- tetapi
>karena memang hampir mustahil meyakinkan orang bahwa loyang adalah emas.
>It is a complete waste of time and energy.
>
>Daripada habis buat "kampanye ke AS", alangkah baiknya kalau seluruh
>usaha itu dicurahkan sekuatnya untuk memperbaiki diri kita sendiri. Masih
>jauh jalan ke masyarakat demokratis, masih banyak problem dalam diri kita
>sendiri, baik didalam maupun diluar negeri -- sebagai individu, kelompok
>kerja, instansi, komunitas dan bangsa. Ini pekerjaan yang kolosal, yang
>hanya bisa dilakukan kalau setiap orang menyadari masalahnya dan mau
>kontribusi, paling tidak mulai dari dirinya sendiri dan lingkungan
>terdekatnya.  baru kalau semuanya ini sudah terlaksana, orang akan
>menyebut dan memperlakukan sebagai bangsa yang demokratis -- tanpa perlu
>kampanye lagi.
>
>
>Moko/
>
>"One of the most untruthful things possible, you know, is a collection
> of facts, because they can be made to appear so many different ways."
>                        -- Karl Menninger
>

Kirim email ke