Syukur basis pertahanan Kupang sudah mau ditingkatkan. Pengawasan terhadap
para pencuri ikan juga akan ditangani oleh AU. Rasanya senang kalau
kebetulan posting kita lalu ternyata mirip dengan keputusan yg diambil
pemerintah. Kayak menang lotere senangnya......:)

Berhubung potensi konflik di kemudian hari lebih banyak di wilayah timur,
ada baiknya skuadron tempur F16 di Madiun dipindah sekalian ke Kupang.
Memang ada bahayanya yaitu lebih mudah dijangkau dan dihancurkan dari
wilayah tenggara. Atau ada baiknya mulai membuat proposal pembelian tambahan
pesawat. Bisa diambil dari Rusia atau Perancis. Model yang seperti BAe Hawk
100 juga tidak apa-apa lah. Negara lain juga banyak yg memproduksi. Perancis
memang susah-susah gampang. Nanti bukannya pesanan dikirim malah bisa juga
ditangguhkan dg waktu tak terbatas. Tapi rasanya tak akan lebih berisiko
daripada beli dari Inggris yg jelas-jelas punya pertalian erat dengan
Australia. Paling enak dari Rusia saja lah. Biar sekalian negara barat agak
berkurang kekuatan tekanan diplomatik dg boikot militernya. Paling tidak
mereka akan berpikir dua kali lipat.

Yang juga perlu adalah keperluan kapal cepat dan kapal destroyer. Destroyer
cukup punya satu juga tidak apa-apa. Paling tidak bahaya kapal selam dari
Aussie langsung dapat dieliminasi dengan kehadiran kapal destroyer. AL tanpa
destroyer namanya bukan AL, tapi Angkatan Nelayan. Makanya mungkin ganti
nama saja jadi TNI-AN. Sedangkan pengadaan kapal cepat seharusnya dapat
ditangani oleh PT PAL. Tinggal beli satu kapal cepat, lalu contek dengan
diubah sana-sini. Habis perkara. Masa kita kalah sama Taiwan.

Jane Defense Book 99 kemarin menyebut kita pernah beli kapal dari mereka
dengan imbal beli. Kita juga pernah beli kapal produksi Korsel. Korsel? Iya
Korsel...:) Buku ini juga menyebutkan PT PAL memenuhi kebutuhan kapal-kapal
kecil dari TNI-AL. Asal nggak dikorupsi masak nggak bisa lagi pesan lebih
banyak. Keuntungan toh masuk negara lagi. Ini kalau nggak ditilep sama
Habibie sih.


Jeffrey Anjasmara

http://www.kompas.com/kompas-cetak/9911/08/NASIONAL/ksau06.htm

'----------------------------
KSAU: Basis Pertahanan Kupang Ditingkatkan

Yogyakarta, Kompas

Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU)Marsekal Hanafie Asnan mengemukakan,
dengan perubahan peta politik dan  strategi menyangkut wilayah Timor Timur
dan sekitarnya, maka Pangkalan Udara(Lanud) TNI AU di Kupang, Nusatenggara
Timur (NTT) akan ditingkatkan dari tipe C ke tipe B dengan penambahan unsur
taktis udara, skadron, serta jumlah
pasukan.

"Perubahan itu disebabkan oleh pertimbangan strategis setelah Timtim
kita tinggalkan," kata Marsekal Hanafie Asnan menjawab pers usai Wisuda
Penerbang dan Navigator TNI AU di Lanud Adisucipto Yogyakarta, Jumat(5/11).

Dalam wisuda Sekolah Penerbang (Sekbang) Angkatan ke-58 dan Sekolah
Navigator (Seknav) angkatan ke-7 yang diikuti 35 dan 12 orang itu, dipilih
dan dinyatakan sebagai lulusan terbaik masing-masing Letda (Pnb) Yulmaizir
serta Lettu (Nav) Anang Surdwiyono.

Hadir pada kesempatan itu antara lain Panglima Komando Operasi TNI AU I
Marsda Suprihadi, Komandan Lanud Iswahyudi Madiun Marsma F Djoko Poerwoko,
serta Komandan Lanud Adisucipto Yogyakarta Marsma Wresniwiro selaku "tuan
rumah".

KSAU tidak memberikan rincian tentang perubahan tipe pangkalan tersebut
karena hingga kini masih terus dalam pengorganisasian,
termasuk jenis-jenis pesawat yang disiapkan. "Tetapi tidak harus
jenis pesawat tertentu ada di Kupang, karena untuk pesawat udara
sebenarnya tidak perlu disiapkan di tempat, karena faktor kecepatan
pesawat, bisa mengantisipasi keadaan," demikian KSAU.

Meskipun pemerintah telah menyatakan seluruh pasukan TNI-Polri
telah kembali ke Indonesia, menurut KSAU, masih ada berbagai peralatan
taktis udara yang ditinggal di pangkalan udara Dili, Timtim. "Kalau semua
pesawat dan lain-lain sudah kita ambil, tetapi sejumlah peralatan udara
tetap di pangkalan itu karena digunakan, ya istilahnya dipinjam oleh Unamet
(Misi PBB untuk Timtim-Red)," kata KSAU.

Pengawasan laut

Menjawab pertanyaan tentang perubahan cara pandang pemerintah yang mulai
memperhatikan potensi kelautan, yang diikuti pula dengan pengangkatan
Panglima TNI dari Angkatan Laut, Hanafie mengemukakan, TNI AU akan ikut
mendukung kebijakan pemerintah itu dan TNI AU akan melakukan pengawasan jauh
di luar wilayah.

"Seperti pencurian-pencurian ikan di laut oleh kapal-kapal asing itu,
TNI AU bisa memantaunya dan memberitahukan kepada TNI AL," katanya.

Sebaliknya, KSAU juga sangat berharap pemerintahan baru di bawah Presiden KH
Abdurrahman Wahid ini segera bisa memulihkan situasi ekonomi sehingga
peluang TNI AU memperoleh tambahan peralatan utama sistem pertahanan akan
segera terwujud. "Kebutuhan strategis TNI AU sudah tersusun, termasuk para
penerbang dan navigator yang diwisuda hari ini," katanya.

Karenanya, embargo Uni Eropa atas enam buah pesawat tempur jenis Hawk 100
yang dipesan Indonesia pun segera bisa dicairkan, dan segera masuk ke
Indonesia. "Kami optimis, masalah ini juga akan selesai dalam masa
pemerintahan baru sekarang," kata Hanafie.

Kepala Dinas Pendidikan TNI AU Marsma Subagyo Saleh
mengemukakan, biaya pendidikan penerbang di Indonesia relatif
mahal, terutama pada biaya penggunaan peralatan pesawat latih.

Biaya pendidikan setiap orang, di luar peralatan pesawat sekitar Rp
10 juta untuk jangka pendidikan 15 bulan, dengan perkiraan biaya per
bulan Rp 650.000 per orang. Sedangkan biaya penggunaan pesawat
latih jenis Mentor dan Hercules 700-1.000 dollar AS per jam. (hrd)

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke