Geger Aceh adalah geger warisan ABRI. Yang repot bukannya Gus Dur mengurusi
keadaan dalam negeri, malah pesiar keliling ASEAN. Kalau kondisi belum
menguntungkan, mengapa pula mesti pergi-pergi dulu?
Yang repot dari Aceh adalah adanya contoh soal dari Timtim. Inilah kalau RI
punya presiden yang dapat bicara lebih cepat dari bayangannya. Bukannya
dicerna dulu, eh, Habibie asal saja main celetuk kanan kiri. Keinginan
daerah-daerah yg merasa kaya alamnya saat sekarang ini lebih didasari
keinginan untuk cepat menjadi Brunei kedua. Ini terjadi pada Aceh dan Riau.
Saat-saat ini adalah saat menentukan untuk berdirinya negara bernama
Republik Indonesia. Kerikil Timtim yang jatuh di timbunan salju, saat ini
hanya disangga oleh batu Aceh. Sekali Aceh diberi pilihan referendum, maka
bola salju tak akan tertahankan lagi. Keretakan-keretakan berujud rasa
KEAKUAN kedaerahan setiap saat dapat merubah RI menjadi kepingan-kepingan
kecil tak berarti. Hai engkau Gus Dur, Wiranto, dan Widodo, siap-siap saja
dengan avalanche yang akan datang. Lihat saja sekarang LSM-LSM eks Timtim
telah bereorganisasi dan berganti nama.
Presiden Gus Dur menciptakan lagi satu kesalahan fatal. Ajakan Gus Dur
kepada Xanana untuk bergabung ke ASEAN adalah tindakan bodoh yang
menyepelekan negara-negara tetangga yang was-was dengan kehadiran Aussie di
Timtim (Singapura dan Malaysia pernah menyatakan demikian di harian nasional
masing-masing). Keinginan Gus Dur yg sempat terlontar untuk bertemu dengan
Anwar dan Auk juga merupakan kesalahan diplomasi luar negeri dari Gus Dur.
Mengenai ajakan kepada Xanana, selain tidak strategis untuk kepentingan LN,
juga tidak strategis untuk kepentingan ke dalam negeri. Gus Dur jelas-jelas
tidak berpikir bahwa ini dapat menjadi senjata makan tuan buat
kelompok-kelompok yg ingin memisahkan diri dari NKRI.
Saya rasa, bila pemerintahan Gus Dur tidak mampu mengendalikan situasi di
dalam negeri, maka militer akan turun tangan kembali. Kelihatannya, waktu
untuk itu tidak akan lama lagi.
Suatu perkembangan menarik terjadi pada Marwah Daud Ibrahim. Dapat dilihat
bahwa Marwah ini juga tidak mempunyai rasa kebangsaan cukup kuat. Rasa
kedaerahannya yang lebih besar. Bukti untuk itu adalah setelah kecewa dengan
kekalahan Habibie, pemikiran federalisme tiba-tiba mencuat dari benak ibu
satu ini. Marwah terlihat mempunyai keinginan terpendam untuk menjadi
pejabat terpandang, bila tidak di dalam pemerintahan RI, maka dia punya
harapan di negara Sulsel.
Yang juga menarik adalah tuntutan mahasiswa Sulsel untuk membentuk negara
federal atau merdeka. Kehendak mereka untuk membentuk Negara Indonesia Timur
buat saya agak menggelikan. Orang-orang Makasar diusir dari Timtim, diusir
dari Maluku, dan diusir dari Irja. Bagaimana mungkin mau mendirikan Negara
Indonesia Timur?
Bila mahasiswa Makasar memaksakan kehendaknya seperti mahasiswa Aceh, yang
akan terjadi adalah negara Sulsel, negara Sultra, negara Irja, dan negara
Maluku. Masing-masing berdiri sendiri, bukan merupakan negara federasi.
Setelah satu atau dua tahun, maka negara Sulsel juga akan pecah menjadi
negara Bugis, Negara Makasar, dan Negara Mandar. Sedangkan di Maluku akan
muncul negara Maluku Selatan dan negara Maluku Utara.
Bagaimana di wilayah Sumut? Sama juga. Akan jadi negara Sumut. Setelah itu
orang melayu di Medan akan memisahkan diri untuk bergabung dengan Riau, atau
mendirikan negara sendiri. Masyarakat Batak akan mengungsi ke wilayah
Tapanuli kembali, dan akhirnya membentuk negara Batak. Berhubung rasa
kedaerahan juga ada di kalangan orang Simalungun yg merasa menjadi orang
sukses pertama di wilayah itu, maka akan terpisah lagi dari negara batak,
menjadi negara Simalungun. Demikian pula dengan wilayah Dairi dan Sibolga yg
punya karakteristik berbeda dengan yg di kawasan Toba.
Bagaimana di Jawa? Mula-mula akan menjadi negara Jawa atau negara Indonesia
Kecil dengan wilayah seluruh Jawa dan Madura, sampai NTT. Setelah itu akan
muncul negara Pasundan karena merasa mereka terpisah dari orang Jawa bahkan
jauh ke jaman Majapahit dulu. Setelah itu Madura menyusul, juga Bali, Sasak,
Timor, dlsb. Setelah habis terbagi, maka Negara Jawa juga akan terpisah
yaitu antara orang Jawa Timur yg merasa punya rasa egaliter lebih besar
daripada orang di wilayah tengah yg banyak unggah-ungguh. Telah itu yg di
Jateng akan terbagi lagi yg utara dan selatan.
Apakah anda tertawa dengan tulisan saya? Pikirkan lagi deh. Permintaan saya
terutama saya tujukan kepada mereka yg sibuk mendukung Timtim untuk
berpisah.
Jeffrey Anjasmara
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com