Masih ada yang belum sadar di dalam kabinet.
Mungkin karena keenakan "bulan madu".
Pekerjaan yang dibebankan Presiden dipundaknya belum juga dikerjakan.
Tidak mampu, tidak mau atau tidak tahu.

Soe

=======================================================
Ambon Mencekam, 5 Orang Tewas


AMBON -- Deretan jumlah korban kerusuhan dua hari belakangan ini di Ambon
bertambah, lima orang tewas dan 20 orang mengalami luka berat dan ringan.
Suasana di wilayah kerusuhan pada kawasan Batumerah dan Karangpanjang pun
masih mencekam. Kedua kelompok yang bertikal dengan membekal senjata terus
bersiaga.

Sementara itu, akibat kerusuhan yang terus berlarut-larut, menyebabkan
Himpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia Nuku (HIPMIN) Makassar maupun Gerakan
Ukhuwah Islamiyah Maluku menuntut Wapres Megawati Soekarnoputri yang
ditugasi menangani masalah Maluku, segera menuntaskannya. ''Agar kasus ini
dapat beres, Ibu Megawati harus secepatnya datang ke Maluku,'' tegas Ketua
Gerakan Ukhuwah Islamiyah Faisal Salembessy.

Wartawan Antara di Ambon melaporkan kerusuhan yang kembali mengguncang Ambon
sejak Senin malam (8/11) hingga Selasa siang (9/11), menambah deretan korban
yaitu Rudy Haulusy yang tewas tertembak pada pinggang bagian kirinya. Selain
Rudy, korban yang lebih dulu tewas ialah Rinto Gunawan Hutul yang terkena
serpihan bom; Hasyim Rumadhan tertembak di pipi kiri; Yakop Salakory
tertembak di dada kanan; dan Edgar Maspaitella yang tertembak di pundak
kanan dan menembus dada.

Berdasarkan data rumah sakit dan Posko MUI Maluku, jumlah korban menderita
luka berat dan ringan bertambah menjadi 20 orang. Salah seorang korban yang
mengalami luka adalah Suryo Edy, aparat keamanan dari kesatuan Armed 11.
''Korban yang meninggal dan luka sebagian terkena tembakan aparat keamanan,
di samping serpihan bom rakitan,'' jelas Sekretaris Posko MUI Maluku Malik
Selang.

Kerusuhan tersebut, menurut Ketua Gerakan Ukhuwah Islamiyah Maluku Faisal
Salambessy, bermula dari pancingan kelompok tertentu. Mereka melontarkan
bom-bom molotov ke arah pemukiman umat Islam di Tanah Miring, Karangpanjang,
kawasan Batumerah Dalam. Selain molotov, menurut Faisal, mereka pun
melemparkan granat. Tujuannya untuk mengobarkan amarah umat Islam.

Dimulai pukul 24.00 hingga 06.00 WITA, pancingan tersebut akhirnya memicu
bentrokan antara umat Islam dan Kristen. Kendati secara sporadis, bentrokan
itu tidak sebatas di kawasan Batumerah Dalam, tetapi menjalar hingga ke
daerah Ponegoro. Akibatnya, menurut Faisal, aparat keamanan sulit untuk
segera memadamkan 'pertempuran' tersebut.

Secara umum, Tim Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas-HAM) yang sejak
awal pekan ini berada di Maluku menilai penempatan aparat keamanan khususnya
di Maluku Utara masih sangat terbatas dibandingkan luas wilayah. Di beberapa
tempat yang rawan, hanya ditempati tiga hingga lima personel.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi kerusuhan di kawasan
Batumerah - Karangpanjang masih mencekam. Masing-masing kelompok dengan
membekal senjata bersiaga menghadapi penyerang maupun aparat keamanan yang
mengeluarkan tembakan peringatan.

Akibat kerusuhan yang berlarut-larut -- diawali sejak tragedi Idul Fitri 1
Syawal 1419 H (19 Januari 1999) hingga kini melebar ke Maluku Utara --
Gerakan Ukhuwah Islamiyah Maluku, menurut Faisal, menuntut agar Wapres
Megawati Soekarnoputri segera ke Maluku untuk mendamaikan keadaan. ''Agar
kasus ini dapat beres, Ibu Megawati harus secepatnya datang ke Maluku agar
tidak ada lagi korban-korban yang jatuh,'' katanya.

Di awal masa pemerintahannya, Presiden Abdurrahman Wahid telah mengumumkan
pembagian tugas Presiden dan Wapres. Yaitu Presiden menuntaskan masalah Aceh
dan perekonomian negara. Wapres diminta khusus menuntaskan masalah Maluku.
Namun, berdasarkan pantauan Republika, hingga kini Wapres belum mengunjungi
Ambon untuk menguraikan permasalahan di Maluku.

Faisal pun mengingatkan Wapres Megawati agar tidak melibatkan orang-orang
PDI Perjuangan, dalam menyelesaikan persoalan Maluku secara damai. ''Itu
bukan menenangkan suasana, tetapi malah memperkeruh ketegangan yang terjadi
di sana,'' tandasnya.

Faisal beralasan orang Islam Maluku keberatan jika mereka [orang-orang
PDI-P] dilibatkan. Artinya, papar Faisal, Megawati harus mengambil
langkah-langkah dan orang-orang yang netral agar perdamaian tercipta. Dia
menilai persoalan di Ambon berbeda dengan di Aceh. Di Ambon, menurutnya,
yang muncul adalah masalah SARA, bukan menuntut kemerdekaan atau referendum.

Tak hanya Gerakan Ukhuwah Islamiyah Maluku yang menuntas penuntasan
kerusuhan di Maluku. Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Nuku (HIPMIN) Makassar
melalui pernyataan sikap yang ditandatangani Ketua Umum Abdul Khalis AS dan
Sekretaris Umum Rudy M Yamin, kemarin, menuntut pemerintahan Gus Dur segera
menuntaskan kasus Maluku yang berlarut-larut.

Selain itu, HIPMIN pada pernyataan sikapnya, menuntut aparat keamanan (TNI
dan Polri), agar tidak menggunakan cara-cara militer yang represif dalam
menangani kerusuhan di Tidore dan Ternate. Selain mendesak tokoh pemerintah
dan tokoh masyarakat untuk segera mengambil tindakan guna mengakhiri
kerusuhan, HIPMIN pun mengutuk tindakan para elite politik daerah yang
memanfaatkan kasus kerusuhan itu hanya untuk kepentingan politiknya.

Sementara itu, Tim Komnas HAM (terdiri atas BM Marbun SH, Mayjen Pur Soegiri
SH, dan Nieke Masiuchiyah) yang khusus meneliti kerusuhan di Maluku Utara,
menemukan sejumlah data di lapangan. Namun, Nieke kepada Antara, enggan
membeberkan data temuan tersebut. ''Kami belum bisa menjelaskan secara rinci
temuan-temuan di lapangan, karena masih ada beberapa aparat yang belum
dihubungi, yang jelas temuan tersebut akan dilaporkan ke ketua Komnas HAM di
Jakarta,'' katanya.

Hingga kemarin pagi, aparat keamanan dibantu masyarakat adat di Kraton
Kesultanan Ternate, terus melakukan sweeping terhadap penggunaan senjata
tajam. Akibatnya sejumlah senjata tajam dan bom molotov berhasil disita.

Gubernur Maluku Utara Surasmin SH pun mengimbau warga Ternate, Maluku Utara,
agar segera meletakkan semua senjata tajam. Penyebabnya, penyelesaian
konflik telah diambil alih oleh aparat keamanan. Berdasarkan pantauan
Antara, suasana aman dan terkendali mulai tercipta di wilayah bagian utara
Ternate. Suasana mencekam masih terasa di wilayah selatan.

Namun, akibat kerusuhan tersebut, para pengusaha Ternate melarikan diri ke
luar dari Maluku Utara. ''Kepada pengusaha dan investor lokal maupun
nasional kami minta segera kembali ke Ternate,'' imbau Sultan Ternate, Drs
Mudaffar Syah.

Kirim email ke