Saya pribadi sih, ingin agar wilayah Indonesia tercinta terus bersatu.
Tapi saya rasa kita juga tidak bisa melihat masalah memisahkan diri
provinsi-provinsi Indo dari satu pihak aja.
Kita (termasuk saya) bersyukur bisa dibesarkan di Jakarta/Jawa di masa
ORBA, dan untuk sebagian dari kita bisa belajar di luar negri.

Banyangin apa yang di rasakan rakyat Tim-tim, Aceh, Ambon, Irja, dll
dimasa Orba. Dibunuh, kakek-ayah-anak-buyut dimasukin penjara, provinsi
tidak di bangun, cari makan susah. Mau jadi tentara nggak bisa karena
asal provinsi (inget teman di Jakarta yang asal aceh+tim-tim, nggak bisa
jadi tamtama TNI AL dan POLRI karena masalah asal provinsi :( )
Basic HAM sudah hampir tidak ada.

Terlepas akan kemungkinan "trick $$uharto" (yang anda-anda masih
nebak-nebak), terlepas akan hasutan orang-orang lain (yang mungkin
dari hati emang ingin membantu wilayah tsb, atau tidak) yang ingin
provinsi-provinsi tsb melepaskan diri,
biasanya "cry for freedom" dari rakyat suatu wilayah, saya rasa,
secara normal dikarenakan perasaan terinjak-injak (kasarnya terjajah)
dan kebutuhan basic sudah terampas dari force diluar wilayah tsb.
(Kalo pelajaran sejarah US saya nggak salah, Texas secara suka-rela
bergabungdengan US dikarenakan practise-practise di US yang bisa
memajukan Texas di masa datang).

Kita bisa bilang ini masalahnya ORBA. Saya merasa, provinsi Aceh
terutama, merasa bahwa mereka tidak percaya dengan pemerintahan
GusDur+Megawati yang sekarang. Walaupun ini bukan ORBA lagi.
Saya pribadi yang bukan orang Aceh merasakan hal yang sama.
Menurut saya, seharusnya GusDur+Megawati harus menunjukan bahwa
mereka komitted untuk memajukan daerah yang sangat tertindas masa
ORBA. Cara yang paling cepat dilakukan, saya rasa, adalah membawa
kepengadilan orang-orang yang terlibat. Ini akan menunjukan GusDur+Mega
care akan provinsi tsb.
Bayangin, sampe sekarang aja $$uharto (biang keladi segala masalah)
belum disentuh sama sekali. Jangangkan Jendral-jendral yang bertanggung
jawab akan nyawa ratusan orang di daerah tsb. Orang-orang seperti ini
musti diadili, bukan karena perasaan dendam, tapi ketegasan dan juga
memberi contoh yang baik.
Salah satu cara yang lain, ya ... perbaikan economy dan HAM wilayah tsb.
Tapi ini perlu memakan waktu lama, sedangkan masalahnya cukup mendesak.

Jadi ya ... masalah perlepasan wilayah Indo ini, saya rasa, tidak
semudah apa yang kita pikir. Kalo kita memaksakan agar Aceh tetap
ikut Indo, dan kenyataannya rakyat Aceh nggak mau. Lho .. kita
bisa jadi memaksakan kehendak (kasarnya : penjajah). Saya rasa fair
kalo rakyat Aceh meminta janji "concrete" dan pelaksanaan yang nyata
dari pemerintah Jakarta, kalo mereka rela terus bergabung dengan Indo.
Nggak janji seperti yang di bacotin $-$abibie.

igg



On Thu, 11 Nov 1999, Arya Indrathama wrote:

> Jeffrey Anjasmara betul tuh...
>
> eh kalau saya sih orang yang menurut saya betul saya bilang betul, kalau
> menurut saya salah..ya saya argue.
>
> Tapi coba lah kita lihat...di mailing list ini saja. Saya yakin sekali kalau
> ada penulis, entah itu mahasiswa atau kaum pekerja yang malah lebih menyukai
> pemecahan Indonesia "at all cost"!!
>
> Dalihnya macam macam...dengan dalih kemanusiaan, hak azasi manusia,
> kemiskinan dan ketidakadilan, orang orang macem yang saya sebut diatas ini
> demen banget yang namanya kemerdekaan. Dan kalau di mailing list ini ada satu
> saja orangnya, bagaimana jumlah mereka yang ada di real world? berapa jumlah
> mereka yang ada di Indonesia...
> Berapa jumlah mereka yang ada di Aceh, di Sulawesi dan di propinsi lainnya?
>
> Orang orang ini sebenarnya cuma demen hura huranya saja. Dalam artian senang
> ikut terlibat dalam romantika kemerdekaan suatu golongan dengan ikut
> menghasut, penyusupan kedalam demonstrasi massa dan penyebaran flyer
> dsb...biar nanti kalau tua bisa cerita sama cucu nya kalau dia ikut berjuang
> memerdekakan Aceh atau Sul-sel atau Timor misalnya..
> Padahal setelah propinsi propinsi itu merdeka, apa mereka lantas peduli?
> Saya taruh duit saya buat tarohan...ngga bakalan mereka ini peduli!!
> Palingan mereka mereka ini pergi berlibur sambil makan duit hasil dari LSM
> LSM luar negeri. Saya ngomong gini ngga fitnah loh...bukti buktinya banyak di
> luar sana, dan kalau ngga salah beberapa koran Indonesia juga pernah
> memberitakan hal ini sewaktu era Habibie dan referendum Timor timur.
>
> Jadi kalau Ichal dan Jeffrey sependapat dengan keutuhan Indonesia, siap siap
> saja hadapi orang orang ini yang notabene orang Indonesia sendiri juga. Anda
> para netter ngga percaya pendapat saya? silahkan baca email email disini,
> cermati dan anda akan tau sendiri siapa para "so-called" pejuang kemerdekaan
> dan hak azasi manusia itu.
>
> Orang orang tersebut sangat saya benci. Kenapa? tau kalau Indonesia itu
> bermasalah, bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menimbulkan masalah.
> Kalau peduli dengan Aceh, ya pergi dong ke Aceh dan bantu rakyat sana
> mencapai kemakmuran dan keadilan. ( dan ingat! ini bukan pekerjaan sehari dua
> hari...butuh waktu tahunan. )
> Kalau peduli dengan Ambon, ya datang dong ke ambon dan coba bantu
> menyelesaikan masalah sara disana.
>
> Nah orang orang ini kan ngga! pengennya cuma jadi provokator...trus sambil
> teriak merdeka! merdeka!
>
> Kampungan...
>
> Dan banyak sekali orang orang diluar sana yang seperti itu.
> Di email ini saya berharap teman teman Permias tidak begitu, karena masa
> depan Indonesia ada di "middle class and educated people". Anda semua
> termasuk golongan ini. Bantu lah negara kita ini dan jangan jadi orang orang
> kampungan yang mau dibayar $ 1000 atau $ 2000 cuma buat teriak teriak merdeka
> dan ketawa terbahak bahak sambil mabok melihat Indonesia pecah belah ngga
> karuan.
>
>
> Arya
>

Kirim email ke