Malam ini saya mendapat cerita menarik tentang kejadian tahun 1965 dulu.
Kejadian ini jauh dari hiruk pikuk politik tingkat tinggi di Jakarta.
Setting cerita di wilayah Jatim dan Jateng. Saya sengaja menyimpan
pertanyaan tentang apa situasi di lapisan bawah, siapa korbannya, apakah
benar Cina keturunan juga dibantai, apakah benar ABRI membantai.

Sumber cerita mengatakan bahwa kondisi sebelum pemberontakan PKI 30
September juga sudah demikian ramai. Keramaian sudah mencapai tingkah
kelurahan, sampai dukuh-dukuh terpencil. Setiap partai saling berlomba
mengerahkan massa dengan memberi pancingan/semangat seperti drum band. Hal
ini sampai ke tingkat kelurahan. Hebat ya? Jaman modern aja drum band nggak
masuk desa tuh.

Waktu itu, suasana saling ancam dan saling tindas sangat mewarnai kehidupan
masyarakat. Tidak ada rasa aman di hati setiap anggota masyarakat. Bahkan
untuk seorang anak kecilpun. Tiga kekuatan utama adalah PNI, PKI, dan Islam.
Bila rekan Mardhika Wisesa mengatakan bahwa PKI tidak akan memusuhi PNI,
ternyata tidak demikian halnya. Yang benar semua partai/pihak saling
bermusuhan. Cuma kadarnya berbeda. Kalau PNI vs. Islam, kasus saling bantai
relatif kecil. Tidak demikian dengan konflik PKI vs. PNI dan PKI vs. Islam.

Setiap wilayah kondisinya berlain-lain, tergantung konsentrasi kekuatan itu
berada. Perbedaan ini sampai ke desa-desa. Misal desa A banyak komunisnya,
di desa B banyak nasionalisnya. Dlsb. Saling culik dan bantai sudah ramai
sebelum G30S.

Bagi penduduk yang tidak mau berpihak, bukan berarti dia akan selamat,
tetapi malah dapat menjadi sumber kecurigaan dan incaran ketiga pihak.
Sentimen pribadi sudah cukup untuk menyuruh suatu kelompok untuk menculik
dan membunuhnya. Tiap malam ada saja kelompok ninja yg beroperasi ke tiap
rumah mencari dokumen atau apa saja yang mencurigakan.

Setiap kelompok mempunyai list masing-masing, yang berisi orang yg harus
diculik. Kejadiannya jadi seperti saling dendam. Mungkin mirip kejadian di
Maluku saat ini. Bedanya dulu kejadiannya selalu malam hari. Bila satu rumah
digedor, maka si pemilik rumah yg dibawa dan diseret keluar desa akan
berteriak dan melawan sekerasnya. Si korban tidak akan berhenti melawan
karena semua orang sudah tahu kalau diculik tidak akan pernah selamat.

Sebuah pertanyaan saya bagaimana tentang tentara dan polisi? Sumber saya
menyampaikan bahwa polisi dan tentara waktu itu dapat dikatakan tidak ada.
Polisi hanya ada di koramil, yaitu di tingkat kecamatan. Sejauh yang dia
tahu, gerakan yang ada adalah gerakan massa. Keberadaan polisi adalah zip,
boro-boro ikut berkiprah.

Waktu saya tanya bahwa banyak sumber yg mengatakan ABRI yg membantai PKI,
dia katakan mungkin saja terjadi di Jakarta saja. Kalau di wilayah dia,
tidak ada tentara. Yang ada adalah kekuatan massa.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana dengan orang WNI keturunan Cina yg
kata mereka sendiri banyak dibantai. Rekan saya bilang bahwa bisa saja ada
yang terbunuh. Suasana benar-benar kisruh. Rasa tidak senang kepada tetangga
yang kaya sudah cukup untuk menyuruh kelompok lain untuk menculik. Jelasnya
saat itu fitnah setara dengan pembunuhan. Dengan demikian, mungkin saja
terjadi orang WNI keturunan Cina ini ada yg jadi korban. Cuma satu hal yg
rekan saya ingatkan. Keberadaan mereka paling hanya sampai di tingkat
kecamatan. Dengan demikian, sebetulnya relatif aman karena dekat dengan
koramil. Korban di sana sini pasti ada, tetapi kalau disebut sebagian besar
dibunuhi maka cerita itu tidak betul. Yah pasti ada saja yg main ambil
gampang bahwa komunis berasal dari Cina, maka setiap orang Cina dianggap
anggota komunis; atau iri hati bisa juga.

Nah, ini sekelumit kisah dari dua orang rekan yg berbeda tempat tinggal dan
asal usul. Sebagai tambahan, satu orang rekan dulu tinggal di wilayah di
mana PNI kuat, dan satu lagi di wilayah PKI kuat. Yg satu bapaknya pengurus
PNI dan dikejar-kejar PKI, yg lain pedagang yg netral tapi dimusuhi oleh
pamong desa PNI yg iri, tapi selamat gara-gara dibela NU karena pernah
menyumbang kapur dan bata untuk buat masjid.

REkan ini juga mengatakan bahwa setelah ORBA, suasana serba ketakutan
langsung hilang. Para pengijon (tukang tebas, atau cakepan) yang sering
membohongi petani (ada banyak juga yg menolong petani) langsung kehilangan
mata pencaharian karena ORBA saat itu langsung membuat regulasi di bidang
itu. Semua happy dengan ORBA sampai 10 tahun kemudian.

Moral cerita:
- Semua cerita kejadian nyata itu ternyata sinkron dengan dugaan saya.
- Sumber CIA dapat dikatakan tidak benar bahwa ABRI yg membantai sekian ribu
atau juta PKI. Mungkin itu adalah jumlah total orang yg terbunuh karena
saling bantai itu.
- Sukarno selalu dibilang jasanya hanya memerdekaan RI saja.
- Suharto dibilang berhasil membawa kemakmuran pada 10 tahun
pemerintahannya.

Tak heran bila banyak kalangan tua yang tetap senang dengan Suharto. Jangan
salahkan mereka karena mereka mereferensikan kondisi saat ini dengan kondisi
tahun 1965.


Jeffrey Anjasmara

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke