Gus Dur memang benar-benar buta dan bebal kalau sampai mau bertemu orang
CNRT Horta busuk yang berani-beraninya mengatur nasib Indonesia. Hubungan
yang normal manakah yang akan terjadi kalau negaranya belum terbentuk saja
sudah menghimbau embargo senjata tetap diteruskan.

Gus Dur juga kelihatannya buta untuk melihat bahwa mengadakan kontak dengan
orang-orang eks Timtim masih sangat prematur, apalagi bila dikaitkan dengan
usaha separatisme Aceh, Irja, dan wilayah lainnya. Gus Dur alias Mr. Wa-Hyde
ini lupa kalau jabatannya adalah presiden RI. Silakan teruskan setiap
wilayah yg lepas langsung dirangkul. Aceh lepasin sekalian, lalu diajak
masuk ke ASEAN. Irja dilepas, lalu diajak masuk ASEAN. Genap 5 tahun jadi
presiden, maka wilayah RI tinggal padepokan pesantren Tebu Ireng.

Hai Mr. Wa-Hyde, ingat kalau engkau itu bukan cuman ketua NU. Engkau adalah
presiden RI. Tapi cuma presiden, bukan pemilik RI! Emangnya anda punya
sertifikat hak milik wilayah RI kok seenaknya saja mau dikasih-kasihkan?
Kalau mau ngasih wilayah, kasih saja dulu wilayah Tebu Ireng ke Israel sana.
Undang orang-orang Jews ke Tebu Ireng. Genap satu bulan para santri yang
masih di sana mesti nyingkir ke kebon binatang Surabaya. Jadi cagar budaya
buat tontonan orang-orang Jews.


Jeffrey Anjasmara
'------------------------------------
CNRT Bertemu Gus Dur, Akhir November

Amsterdam, 12 November

Tokoh kemerdekaan Timor Timur di pengasingan Jose Ramos Horta berharap di
masa depan Timor Timur dapat menjalin hubungan yang normal dengan Indonesia.
''Kami ingin melihat suatu masa depan, suatu normalisasi hubungan dengan
Indonesia,'' ujar Horta yang tengah berada di
Amsterdam untuk mencari dukungan internasional bagi pembangunan kembali
Timtim, Kamis (11/11).

Untuk itu pimpinan Dewan Perlawanan Timor Timur (CNRT) akan berkunjung ke
Jakarta memenuhi undangan Presiden Abdurrahman Wahid dan mengadakan
pembicaraan akhir bulan ini. Horta juga menyerukan dihentikannya sanksi
internasional bagi Indonesia tetapi embargo senjata harus tetap diterapkan.
''Sekarang waktunya untuk mencabut sanksi ekonomi maupun keuangan guna
membantu pemerintah Indonesia,'' ucapnya.

Tetapi, ia menggarisbawahi agar embargo senjata tetap diteruskan.
Sebagaimana diketahui, sejumlah negara termasuk Uni Eropa menjatuhkan
larangan ekspor senjata, amunisi dan peralatan militer lainnya ke Indonesia
menyusul aksi kekerasan dan pembantaian pasca-jajak pendapat 30 Agustus.
Horta menekankan, saat ini terlampau dini mencabut larangan yang jangka
waktunya berakhir pada 17 Januari tahun 2000. Sepanjang tidak ada reformasi
serius di tubuh angkatan bersenjata Indonesia, maka embargo tetap akan
dilekatkan. (Rtr/Y-2)

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke