Yth. Bung Nasrul,
Ya saya setuju sekali. Toleransi harus diberikan tanpa harus mengorbankan
kewibawaan pemerintah. Sekarang ini malah bagus buat rakyat Indonesia secara
keseluruhan untuk tidak sekedar menuntut. Media massa yang menyebarkan
kerusuhan di berbagai wilayah akan membuat masyarakat sadar bahaya apa yg
sedang dihadapi bangsa ini. Makanya dari kemarin saya memandang pemimpin TNI
dan Suharto berotak udang dalam menyembunyikan kerusuhan di Aceh tahun
1989-90 itu. Kalau saja masalahnya dibuka, maka simpati justru tidak akan
mengalir ke AGAM itu. Memang AGAM saat itu demikian solid dalam mengangkat
senjata melawan RI. Harusnya TNI membeberkan ratusan TNI yg terbantai oleh
AGAM kala itu. Memang susah kalau punya jendral-jendral yang otaknya sebesar
biji sawi.
Menurut saya, menuntut boleh, menggertak untuk keluar dari NKRI juga boleh.
Tapi setelah itu stop sampai di situ. Itu adalah batas terluar dari
kebebasan kita untuk melaksanakan freedom of speech kita. Kalau kemudian
disusuli dengan tindakan makar, wah, tidak hanya satgas-satgas yang membantu
TNI. Bila dibilang boleh oleh pemerintah, maka milisi-milisi PETA (Pembela
Tanah Air) akan bermunculan. Saya yakin itu.
Saat ini kita juga perlu melihat lagi sikap kita ke TNI. TNI inilah yg biang
susah. Para TNI pula yang mengotaki Golkar sebagai ORBA. Makanya begitu
unsur TNI hengkang dari Golkar dan orang malah mengharu-biru Golkar
sebetulnya salah alamat, dan sangat saya sesalkan. Di lain pihak, kita juga
harus sadar bahwa TNI adalah sekedar institusi. Orang-orangnya berganti.
Kalau mereka sudah menunjukkan itikad baik, kita harus mendukungnya. Kalau
mereka macam-macam lagi, baru kita memusuhi lagi. Nah, saat ini adalah
saat-saat penting bagi kita sebagai bangsa untuk tidak memojokkan TNI lagi.
Nanti kalau mereka tidak dapat legitimasi untuk bergerak, kita juga yang
repot. Memang kita ini serba susah, tapi kalau kita sanggup bermain cantik,
insyaallah semua mau berjalan di-track-nya.
Tentang kerusuhan di berbagai tempat, saya rasa kita harus melihat potensi
campur tangan dari luar. Seperti Aceh dan Maluku saya mempunyai kecurigaan
sangat besar atas keterlibatan orang luar itu. Persenjataan AGAM demikian
modern, darimana mereka mendapatkannya. Sementara itu propaganda agar TNI
baik yang organik maupun non-organik ditarik dari wilayah demikian gencar.
Mana ada negara tanpa tentara? Cuman satu negara kan? Vatikan saja punya.
Ketiadaan tentara organik itu sangat berbahaya. Ini dapat digunakan untuk
membangun tentara AGAM secara besar-besaran. Lalu siapa yg akan mengamati
arus masuk persenjataan dari LN? Harusnya TNI-AL harus lebih sering
berpatroli di perairan perbatasan. Kalau perlu diadakan kerja sama dengan
negara jiran Singapura dan Malaysia.
Kasus Ambon juga demikian menarik. Mereka tidak berusaha melepaskan diri,
tetapi pertikaian terus menerus akan membuat citra Indonesia di LN akan
hancur. Investasi akan tetap seret. Sikap aparat harus makin diperkeras. Toh
korban ada di pihak Islam dan Kristen dalam jumlah sama banyak. Kalau kita
baca SIAR jelas yg disebut banyak di pihak kristen dengan nama-namanya.
Kalau kita baca yg berafiliasi ke Islam juga ada klaim yg sama berikut
nama-namanya. Bila kita jumlah, itulah angka korban yang sahih. Sangat
besar. Pendekatan persuasif terus diusahakan, tetapi senjata harus siap
dikokang bila kerusuhan terus berlanjut. Kadang perdamaian memang harus
sedikit dipaksa. Yang repot LSM HAM sering tidak perduli. Korban 50 orang
meninggal akibat kerusuhan tidak diributkan. Korban 2 orang akibat ditembak
aparat yg mencegah kerusuhan yg makin meluas disebut sebagai pelanggaran
HAM. Ini yang repot. Mana perusuh bawa senapan AK lagi. Tapi mereka sudah
lumayan sadar sih. Mereka justru kemarin mengeluhkan jumlah aparat yg
kurang. Ini pertanda baik.
Yorys lari bergabung dengan OPM? Bagus itu. Jadi bangsa Indonesia tidak
memelihara kecoa lagi. Kalau saja semua mahasiswa yang punya internet mau
berbagi informasi, maka kita dapat mendeteksi ke mana Yorys saat ini berada.
Memang perlu dibuat agar Yorys tidak nyaman lagi di perkotaan. Kalau dia
terputus dari tempat-tempat hiburan yang dipalakinya, maka sumber
perdapatannya akan terputus pula. Risiko pembelian senjata bagi OPM akan
jauh berkurang.
Saya sendiri masih belum melihat sejauh mana Marwah menunjukkan ambisi
pribadinya untuk gerakan Sulsel merdeka. Mari kita lihat. Kalau gerakan
mahasiswa sendiri saya lihat belum ada tanda-tanda ditunggangi pihak LN.
Saya setuju dg pandangan bahwa mereka mengadakan move agar punya bargaining
power untuk desentralisasi itu. Lewat dari itu, electronic warfare memang
harus gencar dilaksanakan. Jangan sampai internet dibanjiri oleh posting
ETAN, posting AGAM, posting SIRA, dan lain sebagainya. Kita-kita pula yg
punya senjata yaitu suara kita. Untuk itu suarakanlah suara kita itu. Ingat
saja, diam artinya setuju.
Sudah saatnya kita aktif melawan posting ETAN, SIRA, atau AGAM. Bung Nasrul,
saya setuju sekali dengan ide anda untuk Yorys.
Siapa saja yng ingin menforward posting saya, silakan. Mari kita secara
aktif berpartisipasi menjaga keutuhan bangsa kita.
Jeffrey Anjasmara
---------------------------------------------
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Aceh dan Papua Merdeka
>Date: Sat, 13 Nov 1999 19:05:17 PST
>
>Saya setuju dengan sikap GUSDUR untuk bersikap keras jika GAM
>tidak mau kompromi dan negosiasi.
>Kalau GAM tidak mau bernegosiasi, TNI+banser NU+pemuda muhamadiyah+
>+Satgas PDI-P+satgas PPP, pokoknya rakyat anti disintegrasi harus
>siap terjun.
>
>Tambahan lagi sebaiknya semua anggota Pemuda Pancasila
>diperiksa karena mereka semakin menjadi jadi. Telah berkhianat
>terhadap bangsa dan rakyat Indonesia. Sejak dulu jadi
>centeng-nya Tommy. sekarang mulai di Maluku,
>Nusa tenggara dan Irja mereka bikin onar.
>
>Sudahkah anda dengar bahwa Yoris Raweyai telah bergabung
>dengan OPM ? dan sekarang dia ingin TNI enyah dari Irja
>serta kelihatannya ingin menjadi pemimpin Papua Barat merdeka.
>Mestinya Yoris segera ditangkap hidup atau mati.
>Dia ini contoh orang yang selalu merugikan rakyat.
>
>Ayo bung Jeffrey.. setuju nggak kalau kita
>siapkan electronic warfare equipment buat nangkap si Yoris.
>Bikin dia "enemy of the state".
>
>Bangsa dan rakyat Indonesia bersatulah...
>jangan terperdaya oleh pemimpin yang pendusta seperti
>Baramuli, Marwad Dauh, Yoris yang meng-iming imingi masa
>depan, padahal mereka sedang kalang kabut mencari perlindungan
>atas segala kejahatan yang meraka lakukan jaman ORBA.
>
>Nasrul I
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com