Saya sudah baca tulisan orang geblek di Republika itu. Perlu dilihat lagi
apa dia anak buah Hasan Di-Tiro bukan?

Mula-mula si penulis geblek itu berusaha menutupi kebenciannya terhadap
orang Jawa. Jelasnya suku Jawa. Cuma dibalut dengan istilah orang yang
tinggal di tanah Jawa. Contoh yang diambil dengan setting cerita Majapahit
vs. Orang Melayu dan Banjar kan sudah jelas maunya ke mana. Si penulis ini
persis seperti Hasan Di-Tiro yang berusaha memanas-manasi orang-orang di
Sumatra, dengan memberi kesan sedang dijajah orang orang Jawa.

Ada baiknya pengalihan ibukota dari Jakarta ke wilayah yang netral
dihidupkan kembali. Mungkin rencana untuk dipindahkan ke Palangkaraya perlu
dihidupkan kembali. Sayangnya menurut saya kota itu terlalu dekat dengan
Malaysia. Justru Banjarmasin mungkin lebih cocok untuk dijadikan ibukota RI
yang baru. Secara geografis memang sudah menguntungkan, cuma secara geologis
memang Banjarmasin kurang menguntungkan. Kota lain yang agak pas mungkin
kota di Sulawesi Tengah. Mungkin kota Palu. Pertanyaan selanjutnya,
bagaimana dengan bahaya dari Utara? Soalnya kalau kita kembali ke peta,
memang dari segi pertahanan Jakartalah yg paling sip. Lebih sip lagi kalau
dipindahkan ke Bandung. Belanda tahu persis hal ini, makanya mereka memilih
Jakarta (dan Bandung juga sudah didesain sebagai ibukota Hindia Belanda,
tata kota sudah disiapkan). Mereka tahu bahayanya untuk beribukota di
wilayah atas karena terlalu dekat dengan wilayah-wilayah kekuasaan Inggris.

Rencana pengalihan ibukota ini saya rasa penting selain untuk menghabisi
suara-suara seperti penulis geblek dari Republika (yang baru belajar ke
Jerman saja sudah bangga) itu, juga penting untuk memisahkan pusat
perdagangan dengan pusat pemerintahan. Jelas biayanya sangat besar, dan
mungkin tidak masuk akal, tetapi ide ini harus terus dihidupkan. Kali saja
dengan memaksakan kekuatan kita sampai limit ini membuahkan hasil. Misal
dapat mengurangi kemudahan KKN, menyebarkan pembangunan dengan lebih cepat,
dlsb.

Oya, saya masih geregetan dengan sejarawan kesiangan dari Republika itu.
Rasanya tidak pernah ada hikayat atau peninggalan sejarah yg menyebutkan
pemerintahan Lambung Mangkurat pernah mampir ke ibukota Majapahit. Apalagi
sampai si Gajah Mada terkencing-kencing. Kalau si penulis Republika itu
ngibul misalnya kejadiannya terjadi setelah Majapahit menurun sih masuk
akal. Masak pas lagi jaya-jayanya diberitakan raja dan patih sampai
terkencing-kencing gemetaran. Ngibul sih ngibul, tapi pakai ukuran mas. Biar
bisa dipercaya gitu lho.

Saya bukan ahli sejarah, tetapi saya pernah baca bahwa dalam pemerintahan
Majapahit dulu tidak ada kekuasaan mutlak Majapahit. Yang ada negara-negara
kecil itu dibiarkan ada, tetapi mereka diharuskan mengakui hegemoni
Majapahit. Ini mirip dengan Kubilai Khan yg mengharuskan kerajaan Singasari
tunduk ke mereka. Tentunya tak heran kalau banyak kerajaan di Sumatera yang
membantu Majapahit menaklukan Pasai. Bukannya karena mereka sudah terikat
dengan Majapahit? Apa karena mereka sukarela mengeroyok Pasai? Kalau begitu
kenapa sih Pasai tidak disenangi oleh kerajaan se-Sumatera itu? Kok sampai
dikeroyok begitu itu?

Tentang Singapura. Eh, singapura? Saya nggak pernah baca kalau Singapura
punya kerajaan yg kuat. Malaka kali? Tulisan yg dia pakai sebagai referensi
itu tulisan otentik kesejarahan atau science fiction sih?

Sejauh ini menurut saya meributkan Majapahit kok nggak penting. Tulang
belulangnya saja nggak ada lagi kok diributkan. Yang jelas peninggalan nya
ada di mana-mana. Itu saja sudah cukup sebagai bukti. Malaysia saja mengakui
bahwa keris dan batik yg sekarang ada di sana adalah hasil peninggalan
kebudayaan Majapahit kok. Itu ahli mereka sendiri yg bilang. Yang ini bisa
dibaca di booklet pariwisata mereka, bukan di komik. Hmmm.... penulis
gemblek kok dipercaya.


Jeffrey Anjasmara

------------------
>From: Rizal Az <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: [Re: Oyea...? Re: Geger referendum]]]
>Date: Thu, 18 Nov 1999 09:01:51 PST
>
>Yeeaahhhh iya lah..... udah gue baca tuh replubika, and you know what...
>apa
>yang ditulis oleh orang2 di luar jawa itu sama bias-nya dengan yang di
>tulis
>oleh orang2 Majapahit. . Kalau berita tentang kekalahan makapahit yang
>"memalukan" itu di dapat dari buku harian tentara majapahit sendiri, itu
>baru
>bener, tapi kalau yang nulis itu orang2 Aceh, singapore yang ditaklukan
>oleh
>Majapahit. Itu engga' lebih dari usaha2 mereka untuk mengembalikan harga
>diri
>dan martabat mereka!!!. Itu engga' lebih dari denial and withdrawal.
>
>baca nih:
>  "...Teks Sejarah Melayu (edisi Shellabear 1896) memperlihatkan bagaimana
>militer Jawa pulang babak belur dengan kekalahan. Bila Majapahit berhasil
>mengalahkan Singapura, maka itu merupakan kemenangan murahan, karena
>Singapura
>kalah bukan karena raksasa Majaphit lebih kuat, tapi karena pembelotan elit
>di
>dalam negeri Singapura yang menyuruh dan membantu Majapahit menikam
>Singapura
>dari belakang..."
>
>dan ini:
>
>   "Aceh yang diserbu Majapahit secara besar-besaran di dalam teks Hikayat
>Raja-raja Pasai (Koleksi Raffles, MS 67) bukanlah Aceh yang mudah menyerah.
>Sekalipun teks ini menyalahkan Sultan Pasal yang memperlemah kekuatannya,
>tapi
>Majapahit sebenarnya tidak berhasil mengalahkan Pasai. Pasai kalah oleh
>Majapahit bukan karena militer Majapahit lebih kuat dari militer Pasai,
>tapi
>karena Majapahit dibantu oleh aliansi kerajaan-kerajaan Sumatera untuk
>mengeroyok Pasai yang ada dalam kondisi lemah."
>
>  Loe bilang kita babak belur?, babak belur memang tapi end resultnya
>menang
>toh? bukannya itu tujuannya perang, walaupun didapat dengan cara2 yang
>kurang
>terhormat. Come to think of it. Ini sama dengan yang dilakukan GAM sekarang
>ini. Dengan intrik2 dan propaganda, bahkan sampai pegusiran transmigran2.
>
>   Loe mau percaya oleh berita itu atau engga' terserah, tapi yang pasti,
>buat
>gue berita itu engga' lebih dari usaha orang2 untuk mengeruhkan suasana.
>Berita itu sangat mengandung SARA, dan berbahaya untuk persatuan negara.
>Gue
>engga' ngerti kenapa replubika bisa memuat berita gila seperti itu!!!!.
>Anyway
>loe tau engga' siapa yang nulis dan alamat replubika? biar gue tulis surat
>protes ke mereka2 itu, karena yang diberitakan adalah pendapat seseorang
>yang
>walaupun sumbernya jelas, tapi tidak menulis secara tepat apa yang
>disebutkan
>di buku2 tsb. Doktor goblok, seharusnya dia juga tau kalau buku2 yang
>ditulis
>berdasarkan dari cerita2 orang2 Melayu. Dan itu adalah counter atack
>terhadap
>perasaan kalah mereka. Mereka menulis itu untuk mem-boost up perasaan
>nasionalistik mereka.
>
>Gue engga' akan musingin itu karena, itu kejadian undah ratusan tahun yang
>lalu. Gue sebagai orang campuran, engga' bisa bangga dengan Jawa, walaupun
>gue
>tinggal di Jakarta, who cares???, karena gue tidak terikat dengan suku
>apapun
>juga. Gue orang Indonesia dan bangga sebagai orang Indonesia. Buat gue
>kebanggaan gue adalah melihat negara gue yang terbentuk dari variety of
>ethnic
>and culture. Kalau saudara2 ada yang tidak setuju dengan saya... well...
>****
>YOU!.
>
>   Balik lagi GAM... Loe tau tentang exodus transmigran2 yang di Aceh?? apa
>loe
>pikir itu sebenarnya engga' etnis "cleansing"?. GAM keparat itu berusaha
>mengusir orang2 "luar Aceh", supaya waktunya tiba referendum, mereka bisa
>menang. Apa itu engga' curang namanya??.
>Mereka engga' mau Gus Dur kesana, karena mereka takut brain-wash mereka
>terhadap rakyat Aceh akan hilang, begitu mereka bertemu Gus Dur. Soalnya
>buat
>gue engga' make sense. Orang paling tolol pun tau kalau Pemerintah udah
>berusaha keras, untuk baik kepada daerah2 yang waktu jaman Soeharto di
>peras
>habis2an. Dan kalau Gus Dur kesana dia bisa counter attack/ couter
>propaganda
>yang akan bisa menghancurkan propaganda GAM itu sendiri. Makanya si
>Abdullah
>Sapi (baca Tempo) engga' mau Gus Dur ke Aceh.
>
>   Anyway segitu dulu nanti gue sambung lagi....
>
>Salam Reformasi
>(Reformasi Rugi Bandar)
>
>Ichal
>
>Sekarang buat saudara2 yang bukan orang Jawa, tapi tinggal di Jawa.
>Marah engga' kalau tiba2 anda2 sekalian di "usir" dari Jawa, dengan
>intimidasi, dan berbagai cara lainnya? padahal anda2 sudah settle dan KTP
>anda
>juga sudah menunjukkan kalau anda sebenaranya sudah menajadi warga di Jawa.
>Ini sama seperti yang terjadi terhadap transmigran2 tersebut.
>
>
>
>
>Muhammad Nahar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>Oyeaa... ayo perangi mereka. Kemudian.... kita malu sendiri menanggung
>kekalahan seperti nenek moyang kita dahulu. Kemudian.... kita tipu lagi
>yang
>lain. Kita tipu lagi cucu kita pula seperti nenek moyang kita menipu kita
>dengan buku ceritanya (Mpu Prapanca)
>
>Let's take a look at:
>http://www.republika.co.id/9911/18/31267.htm
>
>
>
>
>On Sat, 13 Nov 1999 17:44:50   Rizal Az wrote:
>
>[deleted]
>
> >   Sekarang ini pemerintah sudah bersedia melakukan hal2 tersebut, tapi
>apa
> >yang GAM lakukan? sekarang mereka ingin merdeka, mereka tidak akan mau
> >kompromi denga pemerintah. Kenapa berubah total, dan keras kepala? karena
> >mereka berpendapat bahwa pemerintah itu lemah, tidak berdaya lagi, bisa
> >dipecundangi, dll, dll!!!. Kalau mereka bisa segitu keras kepala, kenapa
>kita
> >harus lemah? sudah sewaktunya kita keras juga, kasih ultimatum berunding
>atau
> >perang. kasih tau sama mereka kalau kita bisa mengerahkan TNI untuk
>melakukan
> >seperti yang sudah2, jadi jangan macem2!!
> >Kalau tidak mau berunding, gunungpun bisa kita ratakan supaya GAM keparat
>itu
> >tidak punya tempat untuk bersembunyi!!!.
>
>
>
>Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com
>Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com
>
>
>____________________________________________________________________
>Get your own FREE, personal Netscape WebMail account today at
>http://webmail.netscape.com.
>

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke