Umat Toleran


Pertikaian berdarah antarkelompok yang berbau SARA (suku, agama, ras, dan
antargolongan) di negeri ini masih berlanjut. Peristiwa pengusiran dan
pembunuhan hingga kini berlangsung di Ambon. Jumlah korban pertikaian yang
berlarut-larut itu terus bertambah. Ribuan pengungsi menghadapi berbagai
masalah, antara lain, kurang pangan, kesehatan, dan penginapan.

Terkait dengan kasus pertikaian tersebut, menarik untuk dikaji ulang sejarah
hubungan umat Islam dengan umat-umat lain. Paling tidak, hingga kini belum
ada sejarah yang mencatat balas dendam umat Islam kepada umat lain, apalagi
dengan cara yang kejam. Dalam Islam, perbedaan agama bukan menjadi alasan
untuk saling memusuhi. Ajaran Islam tidak akan pernah mengenal permusuhan,
apalagi pembersihan suatu etnis, bangsa, atau pengikut agama tertentu.

Kaum Muslimin tidak diajari Allah SWT untuk mengambil sikap bermusuhan
dengan umat lain, selama umat lain mengajak hidup berdampingan secara damai.
Bahkan, merupakan kewajiban bagi umat Islam menjamin kedamaian dengan umat
yang berlainan akidah. Hal ini berbeda jika mereka yang mengawali membuat
masalah. Sejarah mencontohkannya ketika Deklarasi Madinah terlanggar.
Deklarasi ini memuat kesepakatan antara Muslimin, Yahudi, Nasrani, dan
musyrikin Madinah untuk tidak saling bermusuhan. Yang terjadi, kaum Yahudi
berkhianat, maka Rasulullah saw mengusir mereka dari Madinah.

Tugas dakwah Islam adalah menciptakan dunia yang damai dan tenteram.
Kewajiban menyampaikan kebenaran Islam itu harus dilakukan, tetapi tidak
mengabaikan misi kemanusiaan, yaitu rahmatan lil alamin dan kaffatan
linnaas. Karena itulah, umat Islam adalah umat yang sangat toleran,
sebagaimana dianjurkan Alquran: Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan
berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan
tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berlaku adil. (QS Al Mumtahanah: 8).

Rasulullah Muhammad saw bukan hanya mengajarkan bagaimana umatnya
bertoleransi, tapi beliau langsung memberi contoh dan teladan dalam
memelopori hidup berdampingan secara damai. Rasulullah saw kerap mendatangi
orang yang sakit, mengunjungi orang yang meninggal, padahal berlainan agama.
Agama bukan menjadi penghalang hubungan kemanusiaan. Justru ajaran Islam
memberikan dorongan agar hubungan kemanusiaan ini terjalin erat, harmonis,
dan kompak.

Perlu dipahami pula, bahwa umat Islam tidak mengajari umatnya berambisi
mengislamkan dunia ini. Kebebasan beragama adalah hak yang paling asasi bagi
setiap manusia, di samping itu tidak ada landasan hukumnya bagi umat Islam
untuk melakukannya. Tidak mungkin semua umat manusia bersatu dalam agama
Islam. Allah telah menegaskan: Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah
beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka, apakah kamu hendak
memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?''
(QS Yunus: 99).

Jika bangsa ini tidak menginginkan persatuan dan kesatuannya tercabik-cabik,
maka perlu dikaji ulang oleh berbagai pihak, apa makna hakiki dari toleransi
umat beragama. Wallahu a'lam bis shawab.

Kirim email ke