Semoga anda bisa menghargai jasa-jasa para pejuang aceh ini yang dulu tetap
setia walau Indonesia masih berumur sejagung, masih miskin, tanpa ibukota,
diduduki oleh para serdadu NICA belanda, BELUM PUNYA ABRI (Tolong kasih tahu
kepada para atase-atase militer terutama di Washington D.C., Tindakan TNI
sangat memalukan, terutama TNI-AD. Sebagai seorang pelajar Indonesia di
Amerika, sungguh memalukan mempunyai Angkatan Bersenjata yang tahunya hanya
berhadapan dengan mahasiswa, orang sipil tak berdosa)

Garuda Indonesia dimodalin dengan Emas Aceh
Duta-duta besar pertama Indonesia pun dimodalin oleh Orang Aceh
Bahkan cikal bakal TNI pun dimulai dari Bumi Aceh, mulai dari pesawat sampai
kapal laut.

Mardhika Wisesa

Jasa Tanah Rencong bagi Indonesia
Oleh T.H.M. Syahrul Azwar

Kunjungan Presiden Pertama RI, Bung Karno, ke Aceh, telah menyentuh hati
nurani rakyatAceh, untuk mendukung dalam menegakkan, mempertahankan, dan
mengamankan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bung Karno dalam pertemuan yang
berlangsung pada 17 Juni 1948, dihadiri ratusan ribu rakyat, melimpah di jalan
raya di depan Markas Divisi di Bireuen , antara lain mengatakan:
��... Saya ingin bertemu muka dengan rakyat Aceh yang selalu menjadi
kenanganku. Bagi seluruh rakyat Indonesia, rakyat Aceh cukup dikenal, bahkan
oleh seluruh dunia, sebagai rakyat yang tidak mau dijajah Belanda. Rakyat Aceh
yang telah mengalahkan beberapa bagian tentara Belanda; Rakyat Aceh yang telah
mengadakan perjuangan mati-matian, bertempur, menolak, dan menahan
imperialisme Belanda masuk ke daerah Aceh, sehingga karenanya Aceh menjadi
�daerah modal� Republik Indonesia ... Rakyat Aceh menjadi inspirasi untuk
mengobarkan semangat Bangsa Indonesia ... Saya mengetahui bahwa rakyat Aceh
adalah pahlawan. Rakyat Aceh adalah contoh perjuangan kemerdekaan seluruh
rakyat Indonesia, seluruh rakyat menjadi obor perjuangan rakyat Indonesia
...��
Kegigihan perjuangan rakyat Aceh dalam mempertahankan kedaulatan negara
Indonesia pada umumnya dan wilayah Aceh pada khususnya, membuat kawasan ini
menjadi daerah yang utuh, tidak diduduki Belanda pada masa Perang Kemerdekaan
1945-1949.
Kegigihan perjuangan rakyat Aceh menggugah hati Presiden Pertama RI, Bung
Karno, hingga beliau menyebutkan Aceh sebagai ��Daerah Modal�� bagi perjuangan
bangsa Indonesia ketika hampir seluruh wilayah Indonesia kembali dikuasai
Belanda.
Hanya sedikit yang mengetahui tercatat dalam sejarah, setelah Proklamasi
dikumandangkan Soekarno-Hatta di Jakarta, Keresidenan Aceh adalah yang pertama
berani dan sanggup mengibarkan Sang Saka Merah Putih di seluruh wilayah Aceh
dari tingkat keresidenan sampai ke tingkat desa. Pada saat itu Jepang masih
berkuasa penuh, dan Belanda bersama sekutunya mulai menguasai Sabang.
Tanah Rencong itu termasuk lebih dulu dari daerah lain. Dalam waktu hanya
sepuluh hari setelah Proklamasi, tepatnya pada 27 Agustus 1945, para perwira
eks Giyugun di Koetaradja (sekarang Banda Aceh) mendirikan API (Angkatan
Pemuda Indonesia), yang menjadi cikal bakal Angkatan Perang Indonesia.
Kemudian namanya diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), lalu Tentara
Republik Indonesia (TRI) dan terakhir menjadi Tentara Nasional Indonesia
(TNI).
Keberhasilan mendirikan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Tanah Rencong ini
diakui oleh Jenderal Besar AH Nasution, mantan Menko Hankam/Kasad (dalam buku:
AH Nasution, Sekitar Perang Kemerdekaan, jilid I, hal 444):
��... Aceh adalah daerah di Sumatra yang paling sempurna melaksanakan
Proklamasi 17 Agustus 1945 berkat ketegasan pimpinan Teuku Nyak Arief dan
kawan-kawan dan semangat kemerdekaan rakyat yang eksplosif yang pada tiap
kesempatan meledak untuk merebut kemerdekaan kembali. Adalah aneh nampaknya,
justru daerah yang paling jauh dari pusat, yang dapat berbuat demikian, yakni
yang jauh dari pimpinan dan yang kurang sekali menerima instruksi-instruksi.
Justru hal yang demikian membuktikan proklamasi sudah kehendak seluruh rakyat
dan bukan bikinan Soekarno-Hatta dan Panitia Persiapannya saja. Mereka hanya
menyalurkan. Di Aceh ini jauh lebih maju dan lebih konsekuen daripada di
Jakarta sendiri tempat pemimpin Soekarno-Hatta.��
Wilayah Indonesia
Aceh kemudian berhasil berperan menjadi ��daerah modal�� bagi bangsa Indonesia
untuk melanjutkan perjuangan, ketika hampir seluruh wilayah Indonesia kembali
dikuasai Belanda.  Dengan cara ��barter��, keperluan perlengkapan tentara dan
pemerintah RI diselundupkan ke Aceh dari Penang dan Thailand, antara lain
senjata, amunisi, obat-obatan dan lain-lainnya. 
Selain itu, Aceh juga membiayai kegiatan duta-duta dan perwakilan RI di luar
negeri dan perwakilan di PBB pada masa Perang Kemerdekaan. Di samping
membiayai misi perjalanan Menteri Muda Luar Negeri RI, H Agus Salim ke Timur
Tengah, dan mengikuti Konferensi Asia di New Delhi, Aceh juga membiayai
pemerintah pusat di Yogyakarta ketika dalam keadaan vakum.
Bantuan lain dari daerah Serambi Mekkah dalam usaha dapat mempertahankan
kemerdekaan kita adalah dua pesawat jenis dakota dari rakyat Aceh kepada
pemerintah RI, yakni Seulawah RI-001 dan Dakota RI-002, ditambah dengan sebuah
pesawat jenis Avro Anson RI-004 dari pengusaha-pengusaha Aceh yang dibeli di
Thailand, dengan pembayaran dalam bentuk emas murni. Pesawat RI-004 ini
diserahkan sebagai sumbangan dari CTC (Central Trading Corporation) di
Bukittinggi kepada Angkatan Udara RI. Tiga buah pesawat sumbangan dari rakyat
dan pengusaha Aceh itu merupakan armada pertama milik RI yang digunakan untuk
menembus blokade udara Belanda.
Sedangkan kepada Angkatan Laut RI disumbangkan oleh pengusaha-pengusaha Aceh
(melalui CTC) sebuah kapal berbobot mati 100 ton yang terkenal dengan nomor
registrasi PPB 58 LB di bawah Komando Mayor (Laut) John Lie, untuk menembus
blokade laut Belanda.
Radio Rimba Raya di Takengon, Aceh Tengah, yang berkekuatan 350 watt telegrafi
dan 300 watt telefoni, memiliki jangkauan pancaran sampai ke luar negeri.
Radio yang kadang-kadang menamakan dirinya Suara Indonesia Merdeka itu,
menyiarkan berita-berita perjuangan serta membantah isapan jempol Radio
Batavia dan Radio Hilversum di Belanda, yang menyatakan Republik Indonesia
lumpuh ketika Ibukota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda dan pimpinan
perjuangan Soekarno-Hatta ditahan dan diasingkan ke Bangka.
Ketika hampir seluruh wilayah Indonesia kembali dikuasai Belanda, sejumlah
pimpinan dan kesatuan TNI dari Jawa dan daerah lain hijrah ke Aceh. Di sana
mereka mempersiapkan gerakan rakyat dalam bentuk perlawanan rakyat semesta.
Untuk mengantisipasi segala kemungkinan, Banda Aceh dipersiapkan bila
diperlukan untuk menjadi ��ibu kota darurat�� II bagi Republik Indonesia.
Namun dalam perkembangannya Belanda tidak sanggup lagi melanjutkan nafsu
perangnya. Belanda terpaksa menerima penyelesaian melalui perundingan
Konferensi Meja Bundar, 23 Agustus 1949 di Den Haag.
Sebagai rasa memiliki komitmen terhadap tegaknya proklamasi kemerdekaan
Indonesia, rakyat Aceh melakukan long march ke front ��Medan Area�� ketika
kota Medan (Sumatra Timur) jatuh ke tangan Belanda.
Pada masa perang kemerdekaan di antara daerah-daerah di Sumatra, Aceh terkenal
memiliki barisan pertahanan yang kokoh dan persenjataan yang kuat. Kegigihan
dan keberanian yang sudah menjadi ciri khas masyarakat Aceh mendasari alasan
mengapa rakyat Aceh gigih dalam setiap perjuangan mengusir penjajah.
Sifat dasar masyarakat Aceh ini juga diakui pemerintah Jepang, sehingga Aceh
menjadi basis pertahanan tentara terkuat di Sumatra untuk menghadapi
kemungkinan serangan Sekutu dari utara. Hal ini membawa dampak, persenjataan
tentara Jepang sebagian besar disimpan di Aceh.
Dua faktor inilah yang membuat Aceh memiliki barisan pertahanan yang kukuh dan
kuat pada masa awal Kemerdekaan RI tahun 1945. Aceh mampu membentuk sebuah
Komando Resimen Istimewa Medan Area atau RIMA. Dari hasil rampasan senjata
tentara Jepang, pejuang Aceh melakukan long march ke front Medan Area, untuk
membantu saudara-saudaranya sebangsa ketika kota Medan kembali dikuasai
Belanda/NICA.
Pengiriman pasukan ke Medan Area, yang bermarkas besar di kota Binjai, juga
didasari adanya radiogram Panglima Komando Tertinggi Sumatra kepada
pemimpin-pemimpin Aceh pada masa itu.
Dengan berperan sebagai Daerah Modal, Aceh telah menjadi bidan bagi perjuangan
bangsa Indonesia setelah kemerdekaannya diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta.
Peranan Daerah Istimewa Aceh yang tidak kecil dalam menegakkan, mempertahankan
dan mengamankan proklamasi kemerdekaan Indonesia di berbagai buku sejarah
hampir tidak mendapat tempat yang proporsional dan tidak tercatat secuil pun
dalam buku sejarah yang disusun Sekretariat Negara berjudul 30 Tahun Indonesia
Merdeka periode 1945-1975.
Sesungguhnya dalam sejarah masa lalu, jiwa rakyat di Aceh ada di Indonesia.
Jiwa rakyat Aceh mewujudkan komitmen tegaknya negara Republik Indonesia telah
dibuktikan pada masa-masa kemerdekaan. 
Batin rakyat Aceh sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari jiwa dan semangat
seluruh bangsa Indonesia. Adanya pemikiran agar Aceh dipisahkan dari Indonesia
adalah berawal dari sebagian kecil masyarakat yang menamakan dirinya GAM
(Gerakan Aceh Merdeka) yang merasa kecewa yang sangat mendalam melihat
kenyataan tidak adanya keadilan dan hampir seluruh kekayaan Aceh mengalir ke
pusat. Kemudian berkembang lebih luas setelah penanganan dari pihak pemerintah
Orba dan penerusnya secara kekerasan dalam menyelesaikan permasalahan di
provinsi paling barat di Indonesia ini tidak pernah berakhir.  Ditambah lagi
sampai dengan saat ini tidak ada sanksi hukum yang adil dan tegas kepada
pelaku pelanggaran HAM pada masa DOM dan pasca DOM di Aceh yang menyangkut
harkat dan martabat bangsa Aceh membuat rakyat Aceh menjadi sangat marah.
Seperti diketahui korban pembunuhan, penculikan dan perkosaan pada masa DOM
dan pasca DOM pada umumnya adalah rakyat banyak yang tidak tahu apa-apa.
Akibat kekecewaan rakyat Aceh yang sangat mendalam selama ini, dan kesalahan
Pemerintah Pusat yang dinilai sangat lamban dalam menyelesaikan permasalahan
Aceh, tuntutan ��referendum�� (opsi: otonomi luas, federal atau merdeka) telah
kental bergema di bumi Serambi Mekkah pada saat ini. Banyak yang memperkirakan
bilamana referendum ini dilaksanakan sebagian besar rakyat Aceh akan memilih
merdeka atau berpisah dengan Indonesia. Namun ada juga sebagian yang
berpendapat, masih ada koridor kecil bagi pemerintah dalam mempertahankan Aceh
tidak berpisah dengan Indonesia, yaitu dengan cara segera melakukan dialog
dengan tokoh-tokoh masyarakat Aceh, ulama, mahasiswa, LSM dan tentunya juga
pihak GAM, diikuti dengan langkah-langkah konkret oleh pemerintah.
Dalam penyelesaian masalah Aceh ini kiranya semua pihak perlu mengenang
kembali dan tidak
melupakan sejarah masa lalu. Selain itu, setiap pihak harus selalu waspada
terhadap
tindakan-tindakan provokator yang dapat menjadikan keadaan bertambah rumit
yang akhirnya
dapat mengakibatkan perpecahan persatuan bangsa. u
Penulis adalah seorang intelektual Aceh dan tinggal di Jakarta



____________________________________________________________________
Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

Kirim email ke