Saya forward dari apakabar analisa ttg Aceh dari seseorang
bernama "Arwah Perwira Alengka".
Apakah ada yang tahu siapa Arwah ini ?

Nasrul
------------------------------------------------------
KOLOM Arwah Perwira Alengka.
Referendum Versi Gus Dur.
4 Desember 1999.
Jam 04.00 WBBI.


*****Bulan madu 40 puluh hari dengan Gus Dur--- yang diisi dengan puasa
tidak menulis selama 40 hari--- telah berlalu. Kini saatnya Arwah Perwira
Alengka bangkit kembali dari kuburnya dan mulai gentayangan lagi di milis
ini. Namun--- sebelum Arwah Perwira Alengka menuliskan patahan kata
lainnya---, izinkanlah Arwah Perwira Alengka terlebih dahulu mengucapkan
selamat atas pengangkatan Mahapatih Wid dan para pimpinan TDA yang baru.
Perlu ditekankan---, kami---, segenap slagorde GM TDA sepenuhnya mendukung
dan sangat loyal pada pimpinan baru kami yaitu mahapatih Wid. Kami bukan
setia pada pribadi pribadi---, melainkan setia pada mantra mantra sakral
*Sapta Marga*, yang antara lain berbunyi : * memegang teguh disiplin---,
patuh dan taat pada pimpinan--- dengan tidak membantah perintah atau
putusan*. Berarti---, kami--- GM TDA---, akan mendukung kebijakan Mahapatih
Wid tanpa reserve---, sampai titik darah yang penghabisan---!!! Sama seperti
terhadap Mahapatih Wir dahulu--- begitu juga pada Mahapatih Wid kini. Untuk
itu--- Mahapatih Wid jangan pernah kikuk atau ragu ragu dalam memerintah
kami. Selamat bekerja---, semoga sukses selalu.


BTW--- empat puluh hari adalah waktu yang cukup untuk berpikir. Kita-kita
yang berpikir---, tetapi tidak bisa merubah keadaan--- adalah orang orang
yang malang. Namun meskipun begitu---, seandainya berpikirpun kita sudah
tidak mau lagi---, lebih malang lagi. Dan yang paling malang dari segala
yang termalang adalah--- kita terlambat menyadari segala kemalangan nasib
bangsa ini. Para elite terdahulu--- dalam kebingungan visinya--- memegang
motto, *Waktu dan tempat--- toh akan menyelesaikan segala masalah---*, yang
tentu dengan berbagai variant ending liar yang sangat amburadul. Semoga---,
tidak demikian dengan motto dan metode kepemimpinan Gus Dur ini nantinya.


Selaku pribadi---, Arwah Perwira Alengka adalah pembela fanatik Gus Dur
sejak pertama kali APA muncul di milis ini dua tahun yang lalu. Namun
kalamana Gus Dur sudah menjadi Raja---, maka pada tanggal 21 Oktober
1999---, sehari setelah pelantikan beliou---, secara resmi Arwah Perwira
Alengka dan Empu Supo menyatakan diri sebagai oposisi. ( buka Gophernya Bung
John ). Berarti---, Arwah Perwira Alengka adalah oposan pertama yang
memproklamirkan diri di Alengka ini---!!! Tetapi, sekeluar dari padepokan
tempat semedi---, setelah ngelmu 40 puluh hari--- melihat begitu banyaknya
oposan yang mengeroyok Gus Dur---, rasanya sudah lebih dari cukup. Dan---,
Arwah Perwira Alengka --- back to basic---, tetap akan mendukung Gus Dur.


Memang---, antara oposan dan pendukung---, banyak sekali bedanya. Tepatnya
bersebrangan. Tetapi jangan pernah terpaku pada posisi kaku. Dihadapan Gus
Dur---, kita boleh menjadi oposisi dan pendukung---, pada saat bersamaan.
Sementara semua itu demi kepentingan negara dan bangsa---, tidak apa apa.
Maka jangan pernah bermain perasaan dengan Gus Dur. Gus Dur tidak punya
perasaan. Juga jangan coba untuk main tangan dengannya, sebab tangannya
tangan besi. Yang paling penting dalam menghadapi Gus Dur adalah---, selalu
aktif dalam menerima muntahan bola liarnya. Dan jangan seperti anak
kecil---, yang justru terlarut dalam permainan emosi dalam langkah langkah
Gus Dur---, sehingga kita malah akan semakin asyiik dipermainkan oleh Gus
Dur---!!! Cobalah mengantisipasi bola bola liar itu dengan berpikir
jernih--- agar tidak terjebak lebih jauh lagi. Untuk itulah---, Empu Supo
dan Arwah Perwira Alengka dkk---, sampai perlu menempatkan diri berada di
luar kekuasaan itu sendiri---, untuk menetralisir permainan bola bola liar
dari Gus Dur ini. Tentu---, dengan niat baik adanya.


Bola liar pertama yang di smesh kan Gus Dur ke TDA adalah soal referendum
Acheh. Smesh itu begitu menggelegar---, nyaris membuat sesepuh Cilangkap
gemetar. Ini Gus Dur mau bikin Tweede Oest Timoer--, mau berantem dengan
TDA-- atawa cuma sekedar cari popularitas murahan di kalangan Thaliban
Acheh. Tapi rasanya Gus Dur tidak akan memainkan jurus sesederhana itu. Jadi
jurus apa lagi ini ya ----?. Namun--- jangan harap jurus bola gila
"Referendum Gus Dur" ini bisa berlama lama membingungkan TDA---!!!.
Tidak---!!!. Jurus referendum itu tidak apa apa kok. Jurus itu bukan jurus
sesat. Referendum boleh boleh saja di Acheh. TDA malah mendukung Gus Dur
sepenuhnya dalam hal referendum ini. Dan dukungan TDA terhadap referendum
ini justru berdasarkan hasil analisis yang sangat mendalam---, didukung oleh
referensi referensi mulai dari catatan I Tsing sampai Snouck Hurgronye dan
laporan triple agent Jakarta-Washington-Lybia.


Mengapa TDA mendukung referendum di Acheh---? Argumentasi rasionalnya
begini. Rakyat Acheh adalah rakyat pemberani---, pejuang dan jago perang.
Malah panglima perangnya pun banyak yang perempuan. Keumala Hayati, Cut Nyak
Dhien dll adalah bukti nyata. Dan tidak ada daerah dimanapun di Alengka ini
yang menamakan nama daerahnya dengan nama senjata---, yaitu rencong. Acheh
kita kenal dengan sebutan Tanah Rencong. Tidak ada tanah keris---, tanah
badik---, tanah mandau--- atau tanah tanah senjata lainnya di Alengka. Hanya
ada satu--- yaitu Tanah Rencong. Berarti---, masyarakat Acheh memang
mempunyai pride--- dignity dan semangat perjuangan yang sangat tinggi. Dan
menurut Arwah Perwira Alengka---, Gus Dur justru sangat mengetahui
kharakteristik ini. Dan berdasarkan pengetahuan kharakteristik budaya inilah
maka---, menurut penafsiran Gus Dur---, jika mereka semua---, semua rakyat
Acheh sudah sepakat mau merdeka---, maka mereka pasti tidak perlu minta
referendum segala. Langsung saja merdeka sendiri. Buat apa pakai referendum.
Toh mereka orang pejuang dan sejarah etnis Acheh toh penuh dengan nilai
nilai heroik itu. Jadi jika mereka minta referendeum--- yang tujuannya untuk
minta merdeka--- buat apa---??? Toh mereka bukan pengemis---!!!! Mereka
bisa merdeka sendiri---!!!!


Berarti masih ada sesuatu dibalik itu. Dan menurut analisis Arwah Perwira
Alengka yang semoga sesuai dengan Referendum versinya Gus Dur---, yang
mereka butuhkan dengan referendum adalah sebuah kesepakatan diantara mereka
yang tataran degreenya belum sampai tahapan merdeka. Tetapi masih sekedar
mencari kesamaan pandang dahulu. Nah untuk mendapatkan kesamaan pandang
ini---, maka harus disosialisasikan dulu apa itu referendum versinya Gus
Dur. Menurut Arwah Perwira Alengka---, di otak Gus Dur itu hanya ada dua
opsi tentang referendum Acheh. Opsi pertama yaitu otonomi seluas luasnya
dengan menjalankan syariah Islam. Sedang opsi kedua adalah opsi perang
saudara---, yaitu perang antara GAM melawan TDA---!!! Dan bila GAM bisa
memenangkan TDA---, dalam perang entah memakan waktu lima atau sepuluh
tahun---, yaaa---- silahkanlah Acheh mendapatkan kemerdekaannya. Peperangan
inilah yang membutuhkan kesepakatan / referendum rakyat Acheh. Berarti Gus
Dur sangat demokratis. Untuk berperang saja---, rakyat Acheh di tawari untuk
bersepakat dahulu. Dan kita jangan terlalu alergi dengan perang---, toh
dimana mana peperangan dalam suatu negara itu ada dan biasa. Srilanka punya
Macan Tamil Elam. Inggris punya IRA. China punya Tibet, Rusia punya
Checnya---, Jugo punya Kosovo dll dll.


Nah---, jika referendum dengan opsi seperti ini yang diinginkan oleh Gus
Dur---, why not---??? Kenapa tidak---??? Siapa takut---? Kenapa referendum
ini mesti kita tentang. TDA tidak menentang referendum versinya Gus Dur. TDA
malah sangat mendukung opsi begini. Tidak ada perpecahan antara Gus Dur dan
Cilangkap. TDA tetap setia pada Gus Dur. Tidak ada dusta diantara kami.
Hanya memang smeshan Gus Dur ini cukup menaikkan pompa adrenalin para
pemikir muda di Cilangkap. Tapi yaitu tadi--- tidak apa apa. Opsi satu yaitu
otonomi seluas luasnya. Opsi dua adalah perang saudara. Jika GAM menang
lawan TDA nantinya---, dalam perang gerilya yang berlama lama---, berdarah
darah---, penuh korban jiwa di kedua belah pihak---, dan membawa bencana dan
penderitaan bagi penduduk Acheh---, maka TDA akan menyerah dan seikhlasnya
memberikan kemerdekaan bagi rakyat Acheh. Tetapi sayang sekali---, GAM hanya
2000, sedangkan kami 200.000 ( Yaa Tuhan---, mengapa Engkau berikan kami
pilihan sesulit ini---, haruskan anak istri kami---, keluarga para prajurit
TDA---, mesti selalu harus menangisi jenazah - jenazah kami---, yang pulang
dalam kantung kantung plastik--- , hanya karena para elite politik kita
gagal berkomunikasi dengan tokoh tokoh Acheh---???? )


Dalam konteks referendum versi begini---, Arwah Perwira Alengka tidak bisa
menjadi oposan terhadap Gus Dur---!!! Wong versinya sama. Jadi Arwah Perwira
Alengka adalah pendukung referendum. Begitupun---, Arwah Perwira Alengka
sesungguhnya tetap menyatakan opsi ini sebenarnya masih sangat berbahaya.
Orang Acheh itu suka perang. Mereka pemberani. Mereka jagoan. Mereka merasa
lebih baik berputih mata dari pada berputih tulang. Kalau kemudian---
ternyata Gus Dur salah hitung--- dan ternyata rakyat Acheh tetap memilih
opsi kedua---, yaitu perang saudara---, yaah apa boleh buat.


Pelajari sejarah dan sosiocultural kepahlawanan rakyat Acheh. Dan juga
jangan lupa tentang tekad TDA yang tidak akan bergeming satu inchi pun dari
prinsip Kerajaan Kesatuan Alengka. Prinsip kedua belah pihak ini adalah
harga mati---!!! Ingat--- *Sumpah Prajurit* kami---, yaitu setia kepada
Kerajaan Kesatuan Alengka---, dan bukannya setia pada pemerintah--- !!!.
Artinya---, boleh boleh saja Gus Dur setuju referendum---, lalu ternyata
yang menang adalah opsi kedua---, yaitu opsi perang saudara---, dan demi
menghindari pertumpahan darah---, lalu Gus Dur minta agar TDA mengalah pada
GAM--- yang berarti kemerdekaan bagi Acheh dan selanjutnya kemerdekaan bagi
daerah lainnya--- maka jawabnya: No Way----, we will do it our own
way---!!! Military way. And--- for the sake of Alengka's unity---, coup de
etat is better. (Nuwun sewu Gus--- )


Dan bagi rakyat Acheh---, kenyataan ini tentu sangat menyakitkan. Tetapi
keadaan tidak mesti selalu harus baik dan harus sama. Beda dengan Timor Loro
Sae----, lihatlah bagaimana reaksi dunia---, misalnya. Amerika---, Asia
Pasifik---, China, Arab--- dll yang mendukung tetap bersatunya Acheh dalam
wilayah Kerajaan Alengka. Mereka semua mendukung kebijakan kedaulatan
kerajaan Alengka. Tidak ada kerajaan dalam kerajaan. Lihat jugalah reaksi
domestic saat ini. Selagi common enemynya masih TDA---, memang pers dan
upper middle class masyarakat Alengka yang alergi terhadap TDA masih akan
mendukung rakyat Acheh. Tetapi ketika fase sudah berpindah kepertaruhan
Alengka,s Unity---, mereka akan berbalik mendukung TDA--- menekan rakyat
Acheh. Believe it or not---, biasanya analisis Arwah Perwira Alengka tidak
jauh dari benar.


Rakyat Acheh bukanlah musuh TDA. Rakyat Acheh adalah teman kami. Untuk itu,
sebagai analisis---, seandainyapun voting di DPR dan MPR dilakukan
nantinya---, toh rakyat Acheh akan kalah. Bila secara opini dunia kalah---,
secara domestik kalah---, melawan TDA juga kalah---, lalu minta dikasihani
agar kami TDA mengundurkan diri--- yaaa nggak mungkin. Rakyat Acheh akan
semakin terkucilkan. Apalagi setelah Lybia menyatakan mereka tidak berada di
belakang GAM. Belajarlah dari tragedi Banteng Bundar no 11 yang menang tapi
kalah. Why not win win solution or you will get nothing---????.


Arwah Perwira Alengka sudah lama bersimpati dengan penderitaan masyarakat
Acheh, namun bukan perjuangan kemerdekaannya. Sebuah huruf H dalam kata
Acheh adalah sebuah simbol solidaritas. ( mungkin setelah posting ini APA
akan dipanggil provoost lagi ). Tetapi apalah arti seorang Arwah Perwira
Alengka. Arwah Perwira Alengka cuma satu molekul tak berarti dalam sistem
organisasi TDA yang sedemikian besar. Suara satu orang Arwah Perwira
Alengka---, akan kalah dalam dengungan sistem yang menderu. Apalagi Arwah
Perwira Alengka hanyalah perwira rendahan di TDA. Percayalah---,
sebenarnya--- kami--- GM TDA tidak pernah menginginkan perang. Kami pantang
meminta tugas---, namun tabu menolak perintah. Sekali keluar perintah
berarti---, walaupun setelah itu mati---, tidak apa apa. Kami militer. What
ever will be---, will be. What ever must be---, must be. Tetapi apakah rekan
rekan GAM tidak kasihan dengan nasib rakyat Acheh---????


Maka marilah para pimpinan dan tokoh masyarakat Acheh---, marilah bersama
sama kita mencari jalan keluar dari masalah ini secara damai. Sebagai niat
baik pada GAM---, biarlah Arwah Perwira Alengka membocorkan rahasia kekuatan
TDA---, yang sebenarnya sudah melanggar sumpah prajurit. Tetapi demi
solidaritas pada perjuangan rakyat Acheh---, tidak apalah. Paling paling
diperiksa provoost lagi. Arwah Perwira Alengka sudah kebal jadi target dan
bolak balik di periksa provoost. Untuk rakyat Acheh---, tak apalah awak ni
bekurban.


Di bawah ini adalah data kekuatan TDA. Jumlah kekuatan Kaum Bushido Baret
Hijau yang sangat terlatih dalam operasi lawan gerilya ada dua divisi---,
yang berjumlah 48 000 orang combat ready. Belum lagi kaum Samurai, the
Marine, Brimobnya si Plice dll dll. Jumlahnya bisa sampai 100.000 personil
combat ready. Sangat tidak berimbang kekuatan ini dengan GAM. Sama seperti
Falintil---, GAM itu terlalu dibesar besarkan oleh Pers. Katanya Falintil
sangat kuat---!!! Pertanyaannya---, dimanakah mereka berada saat bumi hangus
terjadi di Tomor Loro Sae--??? Katanya mereka sangat kuat---??? Dimana
mereka---??? Mereka tidak di mana mana sebab jumlahnya cuma 250 orang.
Sekarang okaylah---, anggap saja GAM ada 1000 sampai 5000--- dan terlatih
baik di Lybia. Tetapi,--- pertanyaannya---, perlukah semua pertempuran ini
terjadi---? Perlukah hasil minyak dan gas dari Arun---, Lhok Shukon dll,
yang seyogyanya akan dinikmati oleh rakyat Acheh melalui opsi otonomy daerah
seluas luasnya---, justru malah nantinya digunakan untuk membiayai belanja
militer---, yang dipakai untuk melawan GAM dan merugikan rakyat Acheh---???


Perlukah semuanya ini---, jika kita masih bisa berbicara lain--- selain
merdeka---??? Mintalah apa saja pada Gus Dur---, selain merdeka---, pasti
akan diberikan. Gus Dur itu pemurah kok. Tetapi juga ingat kasus Depsos,
Deppen dan Hamzah Haz. Gus Dur itu tangan besi. That why---, Arwah Perwira
Alengka--- yang semula adalah fanatik pendukung Gus Dur---, justru sempat
berpikir untuk menjadi oposan pada hari pertama beliou dilantik jadi raja.
Why---??? Because Empu Supo and I--- know Gus Dur too much---!!!!. Gus Dur
ini akan memimpin dengan cara yang mengagetkan. Keras dan tangan besi. Dia
nothing to lose. Sementara dipihak lain---, kerajaan ini memang membutuhkan
pimpinan kuat dan tegas. Jadi rakyat Acheh pintar pintarlah main dengan Gus
Dur. Luar di kunci---, dalam di kasi hati---, referendum di beri---, tetapi
TDA di siapkan untuk beraksi--- artinya apa???? Gus Dur lemah---?????


Dan cobalah kita lihat data lain yang ada. Data geologi menyatakan hasil
minyak bumi dan gas Acheh akan habis dalam 10 sampai 15 tahun lagi. Dan jika
opsi ke dua yang dipilih---, yaitu perang saudara---, berarti TDA akan
berperang dengan menggunakan uang minyak dari LNG Arun---, tanpa perlu
memaksakan kalah atau menang. Tarik ulur saja---, anggap saja exercises.
Lalu Acheh dijadikan daerah latihan sekaligus proyek percontohan untuk
daerah lain yang coba merdeka --!!! Tapi---, inikan cara gila---!!! Tidak
beradab. Tidak manusiawi. Apa bedanya gaya Oldie TDA dengan Neo TDA. Dan
rakyat Acheh juga yang akan menderita nantinya. Dan apakah prajurit TDA
senang dengan semua ini---??? Tidak juga---!!! Semua orang takut mati
kok---!!! GAM mungkin tidak takut mati. Tapi kami GM TDA adalah orang orang
waras. Kami takut mati. Karena itu jika sampai kami mesti berperang di
sana---, kami akan main ekstra keras dan ekstra hati hati demi keselamatan
kami sendiri. Akibatnya---???? Entah lah---!!! Mengerikan---!!! Acheh akan
menjadi killing field Alengka---!!!!


Menurut Arwah Perwira Alengka---, mestinya---, kalau tidak mau ada yang
menderita---, kalau tidak mau ada yang mati---, yaa rakyat Acheh mesti mau
win win solution dong. Mahapatih Wid malahan sampai bersedia menyembah minta
maaf pada rakyat Acheh---, asal Acheh tidak merdeka---, dan bahkan juga para
patih yang dituduh bertanggung jawab akan minta maaf. Yang bersalah---
hukumlah sekeras kerasnya---, asal ada bukti lengkap yang tidak di
dramatisir.


Jadi intinya--- kami tidak ingin perang. Tetapi---, kalau rakyat Acheh juga
tetap nekad ngajak perang melalui opsi kedua---, maka urusan Acheh adalah
urusan dalam negeri Alengka. Islam lawan Islam. Jika konflik di tempat lain
masih perang antar agama---, disini--- sama kok---, jadi tidak ada yang bisa
ikut campur--- tidak juga Lybia atau negara manapun. Apalagi dengan dukungan
opini dunia---, Alengka berada di atas angin. Karena itu---, TDA memohon---,
jika momentum 4 Desember sampai berlanjut berkepanjangan---, maka---, dengan
seijin DPR dan MPR---, TDA akan masuk ke Acheh dalam formasi tempur
konvensional. Sekali lagi---, formasi tempur konvensional, lengkap dengan
kendaraan kendaraan lapis baja dan helikopter penyerbu. Operasi operasi
Mobud akan secara serentak menghajar kantong kantong GAM. Pembersihan akan
dilaksanakan dan pos pos pemeriksaan akan diadakan di jalan jalan desa
sekalipun. Dalam operasi ini---, Mahapatih Wid akan menggelar 30.000 pasukan
tempur di sana.


Tahapan prosesnya begini. Pertama TDA masuk dengan formasi tempur--- dan
menyisir serta menguasai semua kota kota kecamatan dan desa dengan tidak
mengganggu rakyat. Tahapan berikutnya---, melalui jalur cultural---
dilakukan pemilihan pimpinan Acheh. One man one vote. Setelah pimpinan de
facto ini terpilih, pemerintah pusat akan segera membagi kue pendapatan
daerah yang jumlahnya sangat besar itu langsung ke pimpinan Acheh yang baru.
Sementara itu---, GAM biarlah bergerilya di hutan hutan dahulu. Bersamaan
dengan masuknya aliran dana pendapatan daerah---, para cerdik cendekia Acheh
dari seluruh nusantara akan di pulangkan ke Acheh untuk membangun Acheh
dengan dana yang tersedia dari minyak dan hasil bumi tersebut bersamaan
dengan milai berjalannya roda pemerintahan otonom. Setelah itu---, silahkan
tentukan sendiri apa yang mau mereka laksanakan dalam membangun Acheh. Mau
bikin apa saja silahkan---, asal jangan minta merdeka. Setelah semua
tertata---, maka TDA akan di tarik dari tanah rencong. Demikian bocoran dari
penasehat militer Gus Dur.


Jadi artinya apa---? Artinya pemerintah pusat tegas sekali. Silahkan
masyarakat Acheh bicara dengan Gus Dur dan minta apa saja--- selain
merdeka--- TDA akan mendukungnya. Bagi TDA---, cukup satu Timor Loro Sae.
Yang lain----, no more. Mintalah porsi pendapatan daerah sebesar
besarnya---, itu hak kalian. Mintalah keadilan se adil adilnya---, itu hak
kalian. Tetapi jangan minta merdeka dulu. Dan mohon cobalah berpikir satu
sampai dua tahun sebelum memutuskan perang. Setelah setahun dua tahun
berlalu---, kalamana swakelola otonomi daerah mulai terasa ---, barulah
putuskan. Bagi rakyat Acheh yang sudah mulai merasakan nikmatnya uang hasil
pendapatan daerah---, dan bagi mereka yang masih ingin sekolah atau pergi ke
Bandung, Jakarta dll tanpa passport---, maka mereka tentu akan berpikir
ulang untuk merdeka---!!! Bila kenikmatan akan keadilan ekonomi sudah
terpenuhi. Tinggal menjaga hati---, dignity dan pride Achehnese agar jangan
sampai disakiti lagi.


Dan apa bedanya pasukan yang dahulu dengan pasukan yang akan dikerahkan
sekarang---??? Pasukan yang sekarang---, ( jika GAM ngajak perang ) adalah
pasukan murni tempur dari Kaum Bushido Baret Hijau dan pasukan pemukul
Kodam. Mahapatih Wid tidak akan melakukan operasi intel intelan lagi. Tidak
ada operasi cipta kondisi---, tidak ada rekayasa situasi apapun. Kehadiran
TDA di Acheh--- adalah murni sebagai penjaga keamanan. Mereka segera akan
berada dibawah subordinasi pimpinan sipil terpilih Acheh nantinya. Jika
kemudian terjadi hal hal yang menyangkut konflik masyarakat dengan
militer---, oknum sipil langsung diserahkan ke pimpinan adat, sementara
oknum militer ke Polisi Militer. Langsung diselesaikan saat itu juga.
Militer tidak berhak lagi mengurung, menginterogasi, atau menyiksa
tawanan---, baik GAM maupun sipil.


Juga pasukan yang di tugaskan di Acheh tidak di bebani dengan target pucuk
senjata. Semakin dibebani target---, para komandan pasukan akan semakin
membabi buta mengejar GAM sampai ke kampung kampung demi mengejar target
senjata---, yang akhirnya malah akan menyakiti hati rakyat lagi. Satu
anggota GAM terbunuh--- hanya akan menumbuhkan seribu dendam baru bagi sanak
saudaranya. Gugur satu tumbuh seribu. Untuk apa---??? Kami --- GM TDA
adalah profesional. Kami ingin damai. Maka---, mohon jangan paksa kami
untuk perang. Sekali lagi--- kami ingin damai. Tapi kami tidak takut untuk
perang. Permohonan Arwah Perwira Alengka pada rekan rekan GAM adalah :
"Mintalah apa saja pada Gus Dur---, selain merdeka---, pasti akan di
penuhi---"!!! Win win solution--- or we will get nothing---!!!!.


NB : Minggu depan Arwah Perwira Alengka akan bicara tentang Ulrich Duchrow,
dengan bukunya Mengubah Kapitalisme Dunia. Bagi siapapun yang merasa dirinya
cerdik cendekia---, dan terutama anak anak LSM---, mohon bacalah buku ini.
Dan kaum sipil jangan kaget bila kami GM TDA---, mulai terbiasa membaca buku
buku berat model begini.


Hidup Neo Alengka
Hidup Neo TDA.


Arwah Perwira Alengka.
Di
Mayapada.

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke