Tumben DPR mau bekerja. Biasanya kalau nggak ada duitnya nggak mau kerja. Biasanya kan maunya ygbasah-basah doang. Giliran basah oleh darah baru blingsatan sembunyi di kolong. Langkah penyelesaian Ambon yg dibuat kelihatan simpel, dan rada mirip yg kita inginkan tempo hari. Memang penyelesaian harus dibuat sesimpel mungkin. Hanya orang Amerika saja yg suka bikin penyelesaian mbelit. Masalah Ambon dibilang makin kusut sih nggak juga. Kusutnya sih masih tetap kayak dulu. Bedanya dulu dipedam di dalam hati sekarang dikeluarin dalam bentuk golok dan senjata rakitan. Suatu lompatan yg terlalu besar, makanya pada kejedot karena sama-sama terjerembab. Menurut saya langkah TNI/Polisi sudah okay, demikian juga si Gus Dur sudah okay. Walaupun saya nggak mendukung kunjungan MS ke Ambon, saya nggak mau nyebut MS dah, percuma. MS ada atau tidak ada kan nggak pengaruh lagi buat RI. Yang saya heran adalah JE Sahetapy ini lho. Sebagai anggota DPR kenapa nggak dari kemarin ngomongnya? Si JE ini apa nggak tahu kalau gara-gara dia dan sebangsanya itulah TNI jadi terkagok-kagok. Mau memisah malah kena pelor di kepala. Mau menghalau dibilang memihak. Ini kan repot. Si JE ini pula yang asal ngomong dari Jakarta sambil nonton TV malah menyuruh si Max dan Latucosina yang turun. Kalau saya sih mending menyuruh JE Sahetapy ini saja yang turun. Si JE ini juga bingung dan gelagapan dengan opsi darurat sipil atau militer. Di satu pihak bilangnya sudah gawat dan kusut atau busuk, tetapi nggak mau ada darurat sipil atau militer. Kalau saya boleh usul sih mending bikin darurat sipil saja kalau memang masih terjadi serang menyerang. Garis demarkasi juga jangan menjadi barang tabu. Toh ini dimaksudkan untuk sementara saja, sampai kepala orang-orang itu rada dingin sedikit. Kalau mau dibuat tembok Berlin baru deh si JE boleh nggak setuju. Jeffrey Anjasmara ---------------------------------- Mulai Bekerja, Panja DPR Soal Ambon *Nyoman Gunawan Ketua Panja Jakarta, Kompas Panitia Kerja (Panja) DPR untuk masalah Ambon mulai melakukan rapat, Kamis (9/12). Rapat tertutup yang dipimpin Ketua Panja Nyoman Gunawan (F-PDI Perjuangan), baru menginventarisasi permasalahan dan belum menyentuh inti persoalan. Usai rapat, Nyoman Gunawan yang terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Panja, mengatakan, pembahasan memerlukan bahan dan data-data yang akurat. "Tujuan dibentuknya Panja ialah untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di Ambon, dengan prioritas pertama memberi rasa aman dan tenteram kepada masyarakat setempat," kata Nyoman seusai rapat didampingi Wakil Ketua Panja Astrid Susanto (F-PDKB) dan Sayuti Rahawarin (F-PDU). Tetapi Astrid mengungkapkan, data-data yang dimiliki untuk mulai bekerja sudah siap, sehingga Panja tidak harus mengumpulkannya lagi. Menurut dia, Panja harus sudah selesai bekerja pada 27 januari 2000 mendatang, sesuai keputusan Badan Musyawarah (Bamus) DPR. "Kita harus ngebut kerja," katanya. Ditambahkan, Panja mulai rapat kembali pada 13 Desember. Tentang siapa yang bakal dipanggil untuk memberikan keterangan soal Ambon, Astrid Susanto mengatakan, sejumlah pimpinan militer, pejabat, dan unsur masyarakat. "Yang jelas kita (Panja) mau mencari solusi. Mereka kami undang untuk keperluan cek dan ricek, bukan untuk menghukumnya," ujarnya. Wakil Ketua DPR yang menangani bidang politik dan keamanan Soetardjo Soerjogoeritno (F-PDI Perjuangan) di tempat terpisah mengatakan, ruang lingkup pembahasan Panja mencakup pula peredaran senjata yang kini dengan mudah sudah berada di tangan orang-orang Ambon. Panja juga akan berusaha mencari solusi persoalan berdasarkan adat istiadat setempat sampai kepada timbulnya konflik. "Soal beredarnya senjata di Ambon Panja akan meminta Panglima Kodam dan komandan batalion untuk mengadakan penelitian guna cek dan ricek, apakah senjata kedua belah pihak itu didapat dari pihak ketiga atau dibeli dari oknum TNI/Polri," kata Soetardjo. Sudah membusuk Anggota DPR JE Sahetapy (F-PDI Perjuangan) menilai, masalah Ambon sudah menjadi benang kusut sehingga sulit untuk diselesaikan. Menurut Sahetapy, Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya Jenderal Wiranto, terlalu membiarkan persoalan itu berlarut-larut. "Ibarat luka yang telah membusuk, menyembuhkannya sulit," katanya. Sahetapy yang berasal dari Ambon ini meminta Wiranto yang kini Menko Polkam ikut bertanggung jawab. Dijelaskan, Ambon merupakan pulau yang kecil, yang apabila diselesaikan secara tentara akan mudah. Bahkan Sahetapy mengatakan, tidak perlu orang sampai sekolah jenderal untuk menyelesaikannya masalah keamanan di Ambon. Tapi dia melihat militer seakan-akan tidak bisa berbuat apa-apa. Sahetapy mempersalahkan pimpinan-pimpinan militer di masa lalu yang dinilainya harus bertanggung jawab. Selain itu, lanjut Sahetapy, Panglima Kodam Pattimura yang sekarang (Brigjen TNI Max Tamaela, Red.) dan Gubernur Saleh Latuconsina harus diganti. Meskipun Ambon sedemikian gawat, Sahetapy belum melihat perlunya diberlakukan darurat sipil maupun darurat militer karena dianggap tidak akan menyelesaikan masalah. Secara pribadi, pihaknya telah membuat surat yang ditujukan kepada Menteri Pertahanan agar orang-orang yang melakukan penembakan seenaknya ditindak. Sahetapy juga tidak setuju diberlakukannya garis demarkasi (pemisah) antara dua kelompok yang bertikai. Sahetapy berpendapat, hal itu akan membuat Ambon seperti Beirut atau Irlandia. "Ini masalah manusia, yang mungkin punya perasaan terpendam yang belum bisa mengatasinya. Ini butuh waktu. Selama proses penyembuhan terhadap luka ini yang penting tentara harus obyektif, juga aparat pemda dan gubernur. Harus diikutsertakan pula pranata-pranata adat seperti kepala desa dalam dialog intensif," papar Sahetapy. Ditanya berapa lama waktu yang diperlukan untuk "menyembuhkan" luka-luka Ambon, Sahetapy mengatakan, sedikitnya diperlukan tiga tahun. "Itupun kalau pemerintah konsekuen menindak tentara yang menembak seenaknya," katanya. Meskipun langkah Presiden Abdurrahman Wahid dalam menyelesaikan masalah Ambon tersendat-sendat, tetapi dia mendukung langkah presiden tersebut.(pep/rts) ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
