Ah, dewa keadilan dan dewa HAM kita tuan besar kulit putih Aussie dan kawan-kawannya. Mari kita baca kelakuan mereka terhadap bangsa Papua Nugini yang katanya mereka tolong itu. Dasar bangsa bekas penjahat tak tahu diri. Jeffrey Anjasmara ----------------------------- >Sebuah kutipan dari Majalah bulanan Intisari Edisi Desember 1999; No. >437; XXXVI; hal 183 > >Di penghujung tahun 1990-an, saya bertugas pada sebuah proyek pengeboran >minyak dan gas bumi di Kutubu, Papua Nugini. Banyak sekali orang >Australia yang bekerja di sana, mulai dari koki sampai manajer. >Kebetulan pasangan kerja saya asli Papua Nugini. Rekan saya ini fasih >berbahasa Inggris; maklum di universitasnya bahasa Inggris dipakai >sebagai bahasa pengantar. Anehnya setiap kali berhadapan dengan orang >kulit putih, ia selalu mengambil jarak atau paling-paling hanya >tersenyum. >Belakangan ia meminta saya saja yang mengambil laporan-laporan buatan >bule-bule Australia itu. Rupaiiya, setiap kali. memasuki ruang kerja >mereka, ia sering menerima perlakuan yang kurang bersahabat. >Suatu saat karena banyaknya pekerjaan, kami berdua tertinggal kendaraan >jemputan. Celakanya, kami harus menunggu 12 jam lagi untuk ikut jemputan >berikutnya. Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan dengan >berjaIan kaki menembus hutan rimbun, yang akan makan waktu satu jam. >Bagi rekan saya yang kelahiran Papua Nugini, berjalan kaki di antara >semak belukar bukan masalah. Narnun buat saya yang tidak terbiasa, >sungguh merupakan siksaan berat. Belum lagi sepatu kerja yang makin lama >makin terasa berat. >Akhirnya kami putuskan mencari tumpangan. Anehnya, ketika teman saya >mencoba menghentikan mobil, beberapa bule cuma berhenti sejenak untuk >kemudian tancap gas lagi sambil tertawa mengejek. Siasat pun kami ganti. >Kini saya yang menghentikan kendaraan, sementara teman saya berdiri di >kejauhan. Ternyata berhasil. Dengan ramah, saya diajak naik ke sebuah >pikup terbuka. Tentu saja pihak pembawa kendaraan kecewa berat begitu >melihat teman saya ikut melompat ke kendaraan mereka. >Perlakuan kurang simpatik terhadap pribumi Papua Nugini juga terjadi di >ruang makan proyek. Di sana terpampang tulisan besar, "Pribumi harap >jangan makan banyak-banyak. Petugas catering harap membatasi jumlah >makanan yang diambil orang lokal!" >Dari kejadian di etas apakah Australia masih boleh disebut sebagai >pendekar kemanusiaan? Tindakan yang mereka lakukan itu jelas tidak >manusiawi, lebih-lebih bila itu dilakukan di negeri berdaulat seperti >Papua Nuginil (Mimbar Bambang S.) ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
