Puasa tidak sekedar menahan lapar dan dahaga. Yang lebih penting adalah
bagaimana menahan diri dari perbuatan dosa. Jadi bukan hal-hal yang dapat
membuat kita berdosa yang dihapus, tetapi kitanya yang dituntut untuk mampu
mengendalikannya.

Ambil contoh, misal bar (yg di sini saya artikan sebagai tempat minum miras)
tidak diharuskan tutup di bulan Ramadhan. Kalau mau melarang, laranglah
secara permanen. Jadi bukan melarang dalam rangka menghormati bulan puasa.
Bulan puasa tidak perlu dihormati, memangnya 'bulan puasa' itu orangtua
kita? Jadi kalau memang keberadaan bar itu diijinkan, maka selama bulan
ramadhan juga harus tetap diijinkan buka. Dengan demikian, yang biasa ke bar
dan ingin berpuasa harus mengendalikan nafsunya untuk tidak ke sana. Jangan
sampai si tukang minum ini nggak ke bar karena barnya yg memang disuruh
tutup.

Kalau mau contoh ekstrim, semua wanita harus memakai semua cadar, atau malah
tidak boleh ke luar rumah, karena bila adat tiap harinya yg suka pakai rok
mini akan membuat kaum adam membelalakan matanya dan nepsong. Wah, bukan
kayak gitu dong. Kalau langkah seperti itu yang mau diambil, maka puasa
dalam Islam menjadi seperti puasa dalam budaya Jawa Kuno, yaitu budaya
NGLAKONI. Bersemedi di gunung, tanpa makan, tanpa minum, tanpa cewek berok
mini mondar-mandir di muka kita. Jelas saja tantangannya nggak ada.
Cobaan-cobaan untuk berbuat dosanya sudah dihilangkan, lalu ngapain?

Seharusnya kegiatan di luar ibadah puasa itu sendiri harus tetap ada, dan
tidak berubah. Yang harus berubah adalah manusia si pelaku puasanya. Sang
muslimah yg demen pakai rok mini diharapkan tahu diri, syukur-syukur
sifatnya permanen. Yang bukan muslimah juga tahu diri tanpa ada tekanan dari
luar. Ini satu contoh saja.

Soal tarawih, tadarus, sahur dapat selalu dilakukan. Toh selama ini juga
dapat dilakukan. Kegiatan siang hari misal lalu diadakan pesantren kilat,
ah, alasan ini nggak cukup. Ini dapat dilakukan selama 3 hari, mulai Jumat
setelah bubaran sekolah sampai minggu malam, atau sampai dini hari. Dan ini
dapat dilakukan secara berlanjut. Yang perlu diakomodasi memang ada, misal
janganlah ada ujian semesteran. Ini saja sudah merupakan kemudahan yg
terlalu mewah.

Menurut saya, semua langkah untuk mempermudah puasa di luar ketentuan Quran
dan Hadits justru bertolak belakang dengan esensi dari ibadah puasa itu
sendiri. Apalagi sekedar pendidikan sekolah yg harus dihentikan dengan
alasan yg tidak pada tempatnya.


Jeffrey Anjasmara

---------------------------
>ternya Anda cukup pinter menganalisis tentang puasa dengan tidur dan
>bermalasan di rumah. Ahhh... kepinteran Anda keliru....
>aktifitas puasa selain siang hari menahan makan dan minum,
>malam harinya adalah sholat tarowih, tadarus qur'an, taklim, dan
>makan sahur....
>yaa.... semua itu bukan aktifitas malas-malasan lhooo....
>dari pada aktifitas nongkrong, main gitar atau nyanyian di baarr,
>lebih malas mana.
>di sekitar  saya anak-anak lebih aktif melakukan hal-hal yang sangat
>posisitif
>
>-----Original Message-----
>From: Jeffrey Anjasmara <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
>[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
><[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Monday, December 13, 1999 8:37 PM
>Subject: [siyasah] Puasa = libur?
>
>
> >Benar-benar keputusan yang sembrono. Masa puasa bukanlah masa untuk
> >bermalas-malasan di rumah. Sudah tahu sektor pendidikan harus dikejar,
>kok
> >malah siswa diliburkan. Benar-benar sembrono. Habis ini masa puasa juga
> >dijadikan alasan agar siswa tidur siang? Biar nggak capek gitu ya? Wah,
>lalu
> >mana hikmah puasa kalau dipakai untuk bermalas-malasan di rumah?
>Benar-benar
> >sembrono.
> >
> >
> >Jeffrey Anjasmara
> >
> >'---------------------
> >Jangan Lagi Meliburkan Sekolah di Bulan Puasa
> >
> >Jakarta, 13 Desember
> >
> >Kendati sudah dijalankan, kritik terhadap kebijakan meliburkan siswa pada
> >bulan puasa masih terus mengalir.
> >
> >Sejumlah orangtua murid dan praktisi pendidikan menilai kebijakan libur
> >puasa sangat kurang menguntungkan, karena waktu belajar siswa terbuang
> >percuma. Untuk itu, mereka mendesak pemerintah agar tahun depan kebijakan
> >ini tidak dilanjutkan lagi
> >
> >Pembantu Rektor I Universitas Negeri Jakarta, Dr Hafid Abbas kepada
>wartawan
> >di Jakarta, Sabtu (11/12) malam mengatakan, tahun depan kebijakan
>pemerintah
> >meliburkan siswa di masa puasa bisa dipinggirkan oleh pemerintah daerah,
> >jika otonomi telah dilaksanakan secara luas. Pemerintah daerah memiliki
> >kewenangan khusus untuk tidak menaati ketentuan pemerintah pusat jika
>kurang
> >sesuai dengan situasi serta kondisi di daerah.
> >
> >______________________________________________________
> >Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
> >
>

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke