Saya tambah lama tambah eneg sama orang yang bernama Munir ini. Sudah terlalu lama Munir ini sibuk memanjangkan kumisnya saja dan memanfaatkan KONTRAS dengan menyesuaikannya dg agenda politiknya. Sekarang begini deh, kalau penjahat saja yg punya segudang barang bukti harus didampingi oleh pembela, kenapa para jendral itu tidak boleh? Artinya apa? Artinya lambang keadilan yaitu seorang dewi dengan mata tertutup sambil memegang timbangan itu tidak punya bekas di Indonesia. Tidak di jaman Suharto, dan ternyata tidak juga di jaman Gus Dur. Seharusnya avonturir macam Munir yg cuman modal brengos ini tidak berhak melarang Buyung untuk membela para jendral. Justru kalau para jendral tidak dapat menyewa pembela (misal yg lain pada mangkir ketakutan kena getah), maka YLBHI harus menyediakan pembela yang sepadan. Dengan perkembangan ini apa yg mesti kita perhatikan? Ternyata perangkat hukum kita masih terlalu lemah, baik visi maupun institusi. Sebetulnya saya tidak terlalu heran dengan mutu para 'penegak' hukum ini. Sudah terlalu lama bidang hukum menjadi kelas kambing dalam sistem pendidikan kita. Semua ingin masuk bidang teknik yang sayangnya maksimum akhirnya kerja di bank, atau jadi tukang asembling. Kalau tidak diterima baru ramai-ramai mendaftar ke fakultas ekonomi. Nah, pilihan terakhir baru ke fakultas hukum. Tak heran bidang hukum kita hanya menghasilkan elite hukum macam Munir yg hanya bermodal berani ambil jalur menentang militer di jaman Suharto mau lengser. Mengenai Buyung sendiri, Buyung dapat saya kategorikan sebagai orang yg selalu sakit hati. Jaman Suharto dikategorikan sebagai musuh. Jaman Habibie sempat naik daun menjadi wakil pemerintah untuk KPU. Sayang Habibie tergusur, sehingga Buyungpun tak sempat naik panggung. Yang terpilih malah si Marjuki yang kualitasnya malah jauh di bawah Buyung. Di bidang kehakiman Yusril pula yg naik daun hanya gara-gara ngotot ikut-ikutan dalam perumusan Indonesia Baru, dan akhirnya berhasil menjadi ketua PBB. Apapun alasannya, langkah Buyung itu sudah tepat. Mengapa pula orang YLBHI yang selama jaman orde baru juga lebih banyak condong ke pemerintah sampai melarang-larang Buyung. Yah, inilah lakon hidup. Buyung yg membesarkan, Buyung pula yg tersandung-sandung. Jeffrey Anjasmara ---------------------------- Munir Yakin : Buyung Akan Tetap di YLBHI Reporter: Djoko Tjiptono detikcom - Jakarta, Koordinator Kontras yang juga pengurus harian YLBHI, Munir SH yakin Adnan Buyung Nasution takkan meninggalkan LBH. Ada banyak alasan yang diutarakan Munir. Apakah itu? �Saya yakin Bang Buyung tetap bertahan di YLBHI,� kata Munir yang ditemui wartawan. Bahkan, Munir sambil bercanda menantang pers, �Ayo akau berani taruhan, Bang Buyung akan tetap di YLBHI dan akan melepas jabatan sebagai kuasa hukum Wiranto,� kata Munir, Rabu (15/12/1999) pukul 20.50 WIB. Alasannya? �Historis. Nggak gampang melepas historis. Bang Buyung tak akan melepaskan LBH,� kata Munir menambahkan. Namun demikian, keputusan Buyung apakah akan berada di LBH atau berada di kubu pengacara para jenderal, menurut Munir belum tentu diputuskan sekarang. Untuk mengambil keputusan seberat itu, menurut Munit, tak cukup hanya satu pertemuan. �Saya rasa malam tak akan ada keputusan, karena prosesnya akan panjang. Minimal ada tiga pertemuan seperti ini lagi di tempat berbeda-beda,� kata Munir. Mengapa harus melalui pertemuan beberapa kali di tempat berbeda, Munir tak menjelaskan secara pasti. Tapi, dia dengan santai mengatakan, �Kan komunitas LBH bukan ini saja, tapi banyak.� Namun, ketika dikatakan bahwa Kamis (16/12/1999) besok Buyung sudah harus berangkat ke Timtim bersama 26 anggota tim advokasi lainnya, menurut Munir itu tak masalah. �Ke Timtim, silakan saja berangkat.� ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
