Dari Hilversum.

JA
------------------------
* SIAPAKAH GOLONGAN TURKI MUDA DALAM TNI?

Dua pekan menjelang tahun 2000, perbedaan pendapat di kalangan TNI
bahkan di kalangan eksekutif dan legislatif mulai tersingkap. Hal ini
nampak dari ucapan-ucapan beberapa jenderal serta diundangnya seorang
Pangdam
ke DPR. Suatu gempa politik tampaknya akan terjadi. Dan siapa berada
dibelakang manuver-manuver politik akhir-akhir ini? Laporan
koresponden Syahrir dari Jakarta:

Siapa lagi kalau bukan Soeharto, mantan presiden yang pura-pura sakit
dan terus menerus berhubungan dengan orang-orangnya yang ada di dalam
pemerintahan dan khususnya di TNI. Kalangan-kalangan politik di
Jakarta menunjuk pada pernyataan Pangkostrad  Letjen TNI Djaja
Suparman yang mirip-mirip ancaman. Ia mengkuatirkan para prajurit
Kostrad akan sakit hati dan bersikap membabi buta karena berita
pemanggilan sejumlah jenderal ke DPR dan KPP-HAM.

Di satu sisi memang pendapat perwira pendukung Soeharto ini dianggap
bisa memperburuk citra TNI sendiri. Namun di sisi lain sikap Djaja
dianggap masih wajar dan merupakan bentuk ketersinggungan pribadi
sebagai prajurit. Seorang pendukung Menko Polkam Wiranto yang lain
Kapuspen TNI Mayjen Sudrajat, mengatakan kepada harian Terbit: "Itu
wajar dan bukan ancaman. Ini kenyataan nyata yang dihadapi prajurit
yang begitu loyal kepada korps, di negara mana pun".

Tetapi pengamat militer Hasnan Habib mengaskan, sikap Djaja itu malah
akan memperburuk citra TNI di mata rakyat Indonesia dan
internasional. Rencana pemanggilan itu bukan merupakan tuduhan bahwa
sejumlah jenderal telah melakukan pelanggaran hak-hak asasi manusia
di beberapa wilayah Indonesia. Pemanggilan itu sebatas meminta
konfirmasi dan penjelasan lebih lanjut atas penemuan bukti di
lapangan. Bagi Hasnan, pernyataan Pangkostrad itu merupakan upaya
mencegah pemanggilan tersebut.

Seharusnya Djaja bersikap terbuka. DPR berhak memanggil siapa saja
termasuk Presiden sekalipun. Jika Pangkostrad ini bisa meramalkan
tindakan membabi buta akan dilakukan para prajurit, maka ia wajib
mencegahnya. Sebagai komandan dia harus mampu meredam gejolak emosi
bawahannya. Sesuai hukum Jenewa, setiap petinggi militer yang
melakukan tindakan melawan hukum, perusakan gedung sekalipun, maka ia
harus dihukum. "Jika pengadilan militer internasional yang bertindak,
apa jadinya wajah TNI kita?", ujarnya.

Sebaliknya pengamat LIPI Indria Samego mengatakan, sikap Djaja itu
hanya meminta agar TNI tidak dipermalukan di depan publik. Ia
mempertanyakan mengapa seorang Sofyan Wanandi tidak disikapi secara
negatif? Ia menilai adanya perlakuan diskriminasi hukum saat ini.

Yang menarik perhatian banyak orang adalah  ucapan seorang jenderal
lain yaitu Mayjen Agus Wirahadikusumah. Sebelumnya ia sudah
melontarkan ide penghapusan koramil, babinsa dan pembatasan
kodam-kodam yang cenderung berpolitik. Lalu ia bilang ada kekuatan
yang bermaksud menjatuhkan pemerintahan Presiden KH Abdurrahman
Wahid. Di TNI saat ini Agus Wirahadikusumah merupakan jenderal
pemikir yang menonjol bersama  Agus Wijaya, Kaster TNI.

Yang mengejutkan adalah keterangannya bahwa orang yang mau
menjatuhkan Gus Dur itu adalah orang "yang merasa keinginannya tidak
tercapai. Baik untuk menjadi wapres maupun presiden". Maka dari
petunjuknya itu tidaklah sulit bagi para pakar politik untuk menebak
siapa orang itu. "Jelas yang ditujunya adalah Jenderal Wiranto, Menko
Polkam saat ini yang masih belum mau minta berhenti dari TNI. Padahal
jenderal-jenderal lain di kabinet Gus Dur sudah mengirim surat
meminta berhenti dari TNI", kata seorang pengamat.

Di DPR, Mayjen Agus Wirahadikusumah mengaku pandangan-pandangannya
hanya didukung sebagian kecil perwira TNI. "Hanya sekitar 20 persen",
ujarnya. Tetapi mengapa ia berani mengkritik kebijakan TNI? Padahal
mantan pendukung Benny Moerdani, Letjen Purnawirawan Bambang
Triantoro mengatakan, Agus seharusnya melepaskan terlebih dahulu
uniformnya kalau ia mau berbicara soal politik. Seorang prajurit itu
harus patuh kepada atasan. Maka kini timbul pertanyaan mungkinkah
Agus berani mengutarakan pikiran-pikirannya karena merasa didukung
Panglima Tertinggi TNI yaitu Presiden Abdurrahman Wahid?

Yang jelas, menurut seorang mantan komandan batalyon di Timor Timur,
"jenderal yang paling banyak menguasai pasukan adalah Pangkostrad dan
bukannya KSAD". Tetapi bukankah Prabowo Subianto dahulu pun menguasai
Kostrad tetapi tidak berhasil? tanya seorang pengamat.

Sehubungan dengan itu menarik untuk menyimak tulisan di harian Kompas
kemarin mengenai "Young Turks" yang dibentuk tahun 1973 di Muangthai.
Tahun 1977 mereka merekayasa kudeta terhadap pemerintahan Thanin.
Kudeta dilancarkan tahun 1981 karena mereka konon mencium ada usaha
sekelompok orang mau mengubah sistem negara.

Di Filipina pun pada tahun 1986 ada kelompok perwira militer muda
yang bergerak di bawah kepemimpinan Gregorius Honasan. Mungkinkah
Kompas ingin membuka tabir "Young Turks" di TNI yang saat ini tidak
puas terhadap para senior mereka. Ataukah Kompas yang sangat dekat
dengan Gus Dur ingin mengingatkan elit politik sipil tentang  gempa
politik yang datangnya tiba-tiba ibarat suatu gempa tektonik?
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke