Dengan makin terorganisirnya tindak militerisme AGAM, maka TNI dan polisi
harus makin profesional. Usulan DPR agar Polisi diberi ketrampilan perang
gerilya adalah tepat. Selain itu, saya punya pikiran agar dibentuk pasukan
gerak cepat AD, dengan mendayagunakan helokopter sebagai senjata untuk
segera membantu pasukan yg dijebak (misal akibat jembatannya diledakkan).

Untuk menghindari kemungkinan penggunaan senjata peluncur roket, maka
helikopter ini harus dilengkapi dengan perlengkapan yg memadai. Perlengkapan
intai malam juga perlu. Tidak perlu helikopter Apache, cukup heli-heli
bikinan IPTN yang dimodifikasi juga bisa. Kita kan sudah beken sebagai
bangsa yg pinter otak-atik, masak ngakalin yg kayak ginian nggak bisa.

Dengan pengoperasian helikopter ini, maka diharapkan korban jiwa tentara
dapat diminimalkan. Selain itu, kegiatan patroli terhadap lokasi terpencil
yg digunakan untuk latihan militer dapat tercover.


Jeffrey Anjasmara

'--------------------
Pertempuran di Lokasi Latihan Militer GAM
* Satu TNI dan Dua Sipil Luka
* Satu Jembatan Diledakkan, 28 Ruko Dibakar
* Seribuan Warga Mengungsi

Serambi-Matangkuli Satu peleton Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kamis
(16/12) sore, terlibat "pertempuran" sengit dengan pasukan Gerakan Aceh
Merdeka (GAM) saat kembali dari menggerebek lokasi latihan militer gerakan
bawah tanah tersebut di kawasan Desa Blang Pante, Kecamatan Matangkuli, Aceh
Utara. Akibat insiden itu, dua sipil dan satu TNI terluka, 28 ruko dilalap
api, satu jembatan diledakkan serta seribuan warga dari enam desa mengungsi
ke masjid.

"Pertempuran" itu sendiri meletus di Keude Puep. Dandim Aceh Utara
Letkol Inf Suyatno yang dikonfirmasi dan diklarifikasi berulangkali dari
sore hingga malam tadi mengatakan, ketika sedang dalam perjalanan pulang
dari lokasi latihan militer GAM persis di jembatan irigasi Keude Puep, truk
pasukan TNI diserang dengan serangkaian tembakan. Dan tiba-tiba, jembatan
Keude Puep yang akan dilintasi truk TNI meledak. Berdasarkan penjelasan
Dandim maupun pengakuan sejumlah penduduk, jembatan irigasi Alue Ubai
dimaksud porak-poranda karena ledakan bom yang telah dipasang terlebih
dahulu. Karena ruas tersebut merupakan satu-satunya jalan menuju lokasi
latihan militer GAM.

Bersamaan dengan meledaknya jembatan tersebut, pasukan TNI berloncatan
dari dalam truk karena terkejut. Seorang di antaranya, Sersan Joko,
menderita patah tangan kiri. Dalam suasana terkejut itu, sebagian anggota
pasukan terus melakukan pengejaran terhadap gerilyawan GAM yang setelah
melakukan serangan menghambur ke hutan. Sampai malam tadi, tidak ada satupun
di antara gerilyawan GAM yang tertangkap.

Menyusul peristiwa tersebut, dilaporkan, aparat keamanan melakukan
penyisiran sejumlah desa yang dicurigai sebagai lokasi yang dilintasi dan
dijadikan tempat persembunyian gerilyawan GAM. Dalam kegiatan tersebut,
dikabarkan, sejumlah masyarakat mendapat perlakuan kurang pantas dari
aparat. Bahkan, dua di antaranya yang sedang berpuasa, M Harun (48) dan
Sulaiman (21), penduduk Desa Blang Gunci harus dilarikan ke Puskesmas
Matangkuli karena menderita luka-luka
serius.

Di antara suasana itu, sekitar seribuan warga dari enam desa sekitar
lokasi peristiwa berbondong-bondong mengungsi ke Masjid Besar Paya Bakong,
Matangkuli, mengikuti jejak ratusan warga lainnya yang lebih dahulu
mengungsi begitu melihat truk aparat keamanan memasuki kawasan mereka
sekitar pukul 14.00 WIB.

Pengungsian itu menderas karena beberapa saat sebelumnya sejumlah rumah
penduduk dirusak dan sekitar 28 ruko hangus terbakar. Sejauh ini masih
simpang siur soal pelaku pembakaran ruko itu. Masyarakat menuding aparat
sebagai pelaku. Sementara Dandim mengatakan, pihaknya
mendapatkan bukti bahwa itu dilakukan GAM karena kabel peledak bom rakitan
yang berhasil disita berada dan paralel dengan salah satu ruko yang
terbakar.

Melihat arus pengungsian warga yang mulai terjadi sebelum peristiwa
meletus, Dandim memperkirakan, serangan terhadap pasukan TNI dan peledakan
jembatan irigasi Alue Ubai di Keude Puep telah dipersiapkan dan dirancang
sedemikian rupa. "Namun, Tuhan masih menyelamatkan pasukan kita," ungkap
Letkol Suyatno yang sangat menyesalkan aksi-aksi gangguan keamanan di bulan
suci Ramadhan ini.

Secara kronologis Dandim memaparkan, sebelum aksi itu berkecamuk, satu
peleton plus pasukan TNI -- sekitar 30 personel -- meluncur ke Desa Blang
Pante, Matangkuli, karena di kawasan tersebut, dilaporkan masyarakat, telah
dijadikan lokasi latihan militer bagi para gerilyawan GAM. Lokasi itu,
dijelaskan Dandim, berhasil digerebek pasukannya. Namun, para gerilyawan GAM
berhasil melarikan diri dari tempat latihan yang berluas 80 x 120 meter di
kawasan saluran Irigasi Alue Ubai, sekitar 24 km dari Matangkuli.

Dari lokasi latihan GAM itu, dikatakan dandim, pasukan berhasil menyita satu
unit Taft Hiline warna hijau tua nomor plat polisi B 1244 CG yang di
dalamnya berisikan satu unit bom molotov, satu aki plus wayer sepanjang 25
meter, dua kotak mercon, satu pucuk senjata api
laras panjang rakitan, satu pucuk pistol rakitan, dan satu magazine M-16,
serta dua kopel rem. (tim)


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke