Title: ROL 29-12-1999 - Ambon Berdarah, Wapres Berlibur ke Hong Kong
 
Republika Online
Profil REPUBLIKAMedia KitPenelusuranKembali ke Home Page
Republika Online edisi:
29 Dec 1999


Berita Hari Ini Berita Sebelum Berita Berikut

Ambon Berdarah, Wapres Berlibur ke Hong Kong

JAKARTA -- Ketua Komisi I DPR RI Yasril Ananta Baharuddin menyesalkan rencana Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri berlibur bersama keluarganya ke Hong Kong. Masalahnya, tutur Yasril, saatnya tidak tepat bagi Mega untuk berlibur mengingat Maluku -- persoalan yang harus ditangani Mega sesuai perintah Presiden Abdurrahman Wahid -- masih gawat.

Yasril menyatakan dia tak bermaksud menentang hak-hak pribadi Mega untuk menikmati berlibur. Namun, papar Yasril, hendaknya sebagai pejabat tinggi yang bertanggung jawab dengan masalah Maluku, Mega bisa memprioritaskan kepentingan negara.

''Keadaan Ambon ini begini gawat, sementara itu saya memperoleh informasi Ibu Wapres malah akan berlibur bersama keluarganya di Hong Kong dalam waktu dekat ini. Kalau tidak salah besok (hari ini -- Red), mereka akan berangkat,'' ujar Yasril, di Jakarta, kemarin.

Yasril -- yang memimpin Komisi I yang bertugas menangani masalah politik, luar negeri, dan penerangan -- menyatakan dia menghormati acara berlibur itu sebagai hak Wapres. Namun, Yasril mengingatkan bahwa keadaan negara sesungguhnya harus lebih didahulukan. ''Jadi harus ada sense of priority,'' tegasnya lagi.

Idealnya, papar Yasril, jika Presiden memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Irian Jaya (Irja) pada 31 Desember nanti, umpamanya, maka Wapresnya berada di Aceh, daerah yang juga tengah bergolak. ''Jadi tidak malah berlibur ke Hong Kong, apalagi ditambah urusan Ambon dan Maluku ini lagi gawat. Ini bagaimana? Ini kan menjadi tanggung jawab beliau,'' tutur Yasril.

Di tempat terpisah, Ketua DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) DKI Jakarta, Roy B Janis, mengatakan tak tepat menghubung-hubungkan partainya dengan pertikaian bernuansa SARA di Ambon. Ia dengan tegas menepis tuduhan bahwa PDI-P ikut terlibat dalam kasus Ambon yang berkepanjangan dan makan korban ratusan jiwa.

Menurut Roy, secara internal saja kader-kader PDI-P di Ambon tidak bertikai, apalagi eksternalnya. Ia mengakui pertikaian di Ambon yang telah berlangsung hampir setahun itu makin panas saja belakangan ini. Tapi, menurutnya, konflik itu tak sampai menyentuh kader-kader PDI-P. ''Meskipun ada yang Islam dan Kristen, mereka (para kader PDI-P -- Red) tetap rukun dan saling membantu,'' kata Roy, di Jakarta, kemarin.

Ditemui pada acara Komitmen Bersama Tentang Negara Kesatuan RI di Jakarta, kemarin, Roy berpendapat untuk menyelesaikan permasalahan di Ambon, pemerintah harus mencari dan mengungkap aktor intelektual dan provokator yang telah menyulut kerusuhan.

Maluku Tenggara

Aksi nyata pemerintah untuk menuntaskan pertikaian di Ambon juga menjadi harapan sejumlah tokoh masyarakat Maluku Tenggara yang tergabung dalam Keluarga Besar Masyarakat Maluku Tenggara (KBMMT). Dalam pernyataannya di Jakarta kemarin, mereka menuntut tindakan nyata Kabinet Persatuan Nasional untuk membantu korban kerusuhan sosial di kepulauan yang terletak di tenggara Provinsi Maluku tersebut.

Ketua KBMMT Thaher Hanurun mengaku sedih atas minimnya perhatian media dan pemerintah terhadap gejolak sosial di wilayah tersebut. ''Wilayah Maluku Tenggara memang jauh dari Jakarta. Bahkan, dibutuhkan berlayar semalam dari Ambon, yang kapalnya hanya ada dua pekan sekali. Kalau demikian, apakah kami bukan bagian dari bangsa ini?'' ujar Thaher dalam konferensi pers di Gedung Dewan Pers Jakarta kemarin.

Thaher menegaskan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Maluku Tenggara (Maltra) tidak kalah tragisnya dibandingkan wilayah Maluku lain. Kendati kondisi di lapangan relatif lebih terkendali dibandingkan di Ambon atau Maluku Utara, namun ketegangan sosial masih terjadi sampai kemarin, seperti di Tual, Kepulauan Kei, atau di Larat di Kepulauan Tanimbar.

Saat ini, ungkap Thaher, ada sekitar 50 ribu lebih rakyat Maltra yang mengungsi ke berbagai tempat karena kampungnya sudah rata dengan tanah. Pengungsian terbanyak berada di Tual, ibu kota Kabupaten Maltra, 20 ribu orang lebih.

Kerusuhan sosial bernuansa SARA di Maltra, pertama kali meledak pada 31 Maret 1999 sebagai imbas dari kerusuhan sosial di Ambon. Ini terus berlangsung sampai 3 Mei 1999 lalu dan ketegangan sosial terus dirasakan sampai sekarang. Sebanyak 124 jiwa tewas dan ratusan orang lainnya luka-luka.

Pada hari yang sama, sekitar 20 orang warga Halmahera yang tergabung dalam Komite Solidaritas Kemanusiaan Matiikabansana Jakarta menemui Ketua Fraksi Reformasi Hatta Radjasa di Gedung DPR RI, Jakarta, kemarin. Mereka meminta pimpinan DPR untuk mendesak Panglima TNI agar menambah pasukan di Ternate.

Kerusuhan di Ternate kemarin bahkan sempat menelan ratusan korban jiwa. ''Kerusuhan di Ternate semakin hebat dan warga Muslim tampaknya semakin terdesak,'' kata Hasyim Alhar, salah seorang anggota delegasi.

Dari Surakarta, Front Pemuda Islam Surakarta (FPIS) Jateng menentang gagasan Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) agar mendatangkan pasukan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan menarik ke luar TNI/Polri dalam mengamankan situasi Ambon. ''Kami menolak campur tangan kekuatan asing dalam bentuk pengiriman pasukan perdamaian PBB di tanah air,'' tulis pernyataan sikap FPIS yang diteken ketua dan sekretarisnya, Taharudddin dan Ahmad Sigid.

Menuju lembar atas

[HOME ] [INDEX LENGKAP] [BERITA UTAMA] [NASIONAL] [IPTEK] [EKBIS]
[NUSANTARA] [JABOTABEK] [INTERNASIONAL] [HIBURAN] [OPINI]
[OLAHRAGA] [BIDIK] [TELUSUR]

Diterbitkan oleh Republika Online
Hak Cipta © PT Abdi Bangsa 1999




Kirim email ke