Title: ROL 29-12-1999 - Memprihatinkan, Penjiplakan Karya Ilmiah di PT
 
Republika Online
Profil REPUBLIKAMedia KitPenelusuranKembali ke Home Page
Republika Online edisi:
29 Dec 1999


Berita Hari Ini Berita Sebelum Berita Berikut

Memprihatinkan, Penjiplakan Karya Ilmiah di PT

JAKARTA -- Penjiplakan karya tulis ilmiah di Perguruan Tinggi (PT) sudah sangat memprihatinkan. Itu terjadi di semua jenjang PT: sarjana (S1), master (S2), dan doktor (S3). ''Saya prihatin sekali karena tidak hanya S3, tapi S1 juga di mana-mana banyak terjadi,'' tutur Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Satryo Soemantri Brojonegoro.

Satryo mengemukakan hal itu menjawab pertanyaan wartawan sekitar isu penjiplakan gelar Doktor yang dilakukan Ipong S Azhar di Jakarta, kemarin (28/12), seusai penyerahan hadiah kepada para pemenang pengarang buku terbaik terbitan tahun 1997 dan 1998. Banyaknya penjiplakan karya tulis di PT, menurut Satryo, karena masing-masing PT belum menggunakan norma yang betul. Karena itu, dia minta kepada masing-masing PT agar menggunakan norma yang ada. Sebab kalau sambil lalu, bisa plagiat semua.

Mengenai kasus Ipong, Satryo mengatakan, penguji harus betul-betul punya kemampuan dan pengalaman, di samping menguasai bidangnya. Bukan hanya dilihat dari pangkatnya, tapi penguji itu harus lektor. Minimal harus lektor kepala madya dengan jabatan IV C. ''Di atas itu baru bisa membimbing,'' ujarnya.

Kalau tidak punya kemampuan di bidangnya, kata dia, susah mengetahui apakah itu benar atau tidak, atau apakah pernah diterbitkan atau belum. Penguji, tuturnya lagi, harus punya kemampuan sama dengan yang diuji. Dalam SK jelas disebutkan bahwa penguji harus punya kemampuan yang sama dengan yang diuji, supaya dia tahu persis sejauh mana perkembangannya.

Menurut Satryo, kalau penguji tidak menguasai bidangnya, dia bisa dibohongi oleh penulisnya, yang seolah-olah baru tapi pernah ada.

Ketika ditanya bahwa kasus Ipong bukan kali yang pertama di jenjang S3, Satryo hanya mengatakan, ''Nanti saya minta pertanggungjawaban perguruan tingginya, kenapa begitu.'' Dia menegaskan, sanksi bagi kandidat doktor yang melakukan plagiat, gelarnya bisa digagalkan.

Untuk meninjau kasus ini, menurut dia, Universitas Gajahmada (UGM) -- PT tempat Ipong mengambil gelar doktor -- punya dewan etik. Menurut dia, mestinya hal itu sudah melekat dalam hati masing-masing dosen. ''Karena itu, kita lihat apakah kasus ini benar-benar kesengajaan atau kehilafan,'' tuturnya. Misalnya, penguji tidak menguasai bidangnya.

Terhadap kasus ini, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Yahya A Muhaimin yang ditemui di tempat yang sama menyatakan, ''Kita semua prihatin.''

Mendiknas menilai langkah yang diambil UGM terhadap kasus Ipong sudah tepat, dengan menyerahkan penyelesaian masalah itu kepada dewan etik. Dia yakin, anggota dewan etik tersebut dapat dipercaya.

Menurut Mendiknas, kedang-kadang memang ada kelalaian dan kecerobohan dalam penulisan karya tulis ilmiah untuk meraih gelar doktor. Apakah kelalaian itu dari penulisnya atau pembimbing, dia mengatakan, ''Kalau pengujinya sulit karena kecerobohan itu lebih pada penulis. Penguji, sulit mengecek setiap buku, karena itu kembali ke nurani masing-masing,'' katanya.

Buku-buku terbaik terbitan 1997 dimenangkan oleh enam orang dari masing-masing kategori. Sedangkan buku terbaik terbitan 1998, hanya tiga pemenang, tiga kategori lainnya dinyatakan tidak ada pemenang. Ketiga kategori tersebut adalah bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, bidang ilmu-ilmu sosial, dan bacaan anak-anak. Masing-masing pemenang memperoleh hadiah uang Rp 5 juta.

Pemenang buku terbitan 1997 adalah Dr Ir Yulianto Sumalyo (ilmu pengetahuan dan teknologi), Mestika Zed (ilmu-ilmu sosial), Dodong Djiwapraja (sastra), Asrul Sani (humaniora), Korrie Layun Rampan (bacaan anak), dan Koesalah Soebagyo Toer (karya terjemahan). Tiga pemenang buku terbaik terbitan 1998 adalah Hamid Jabbar (sastra), YC Thambun Anyang (humaniora), dan A Setiawan Abadi (karya terjemahan).

Menuju lembar atas

[HOME ] [INDEX LENGKAP] [BERITA UTAMA] [NASIONAL] [IPTEK] [EKBIS]
[NUSANTARA] [JABOTABEK] [INTERNASIONAL] [HIBURAN] [OPINI]
[OLAHRAGA] [BIDIK] [TELUSUR]

Diterbitkan oleh Republika Online
Hak Cipta © PT Abdi Bangsa 1999




Kirim email ke