Title: PARADIGMA ILMUWAN INDONESIA
 


PARADIGMA ILMUWAN INDONESIA

Oleh : Nasrullah Idris


AAAAAParadigma "ilmuwan" di Indonesia itu perlu segera dirubah untuk kemudian disosialisasikan, disesuaikan dengan produk pemikiran yang akan menjadi pasaran pada era globalisasi dalam rangka mengantisipasi persaingan bebas. Mereka harus dirangsang untuk mencapai prestasi kelas dunia untuk bidangnya masing-masing.
AAAAASosok ilmuwan seperti itu lain dengan yang masyarakat intepretasikan atau gambarkan sekarang, yang sering hanya bergulat pada beragam referensi asing, tanpa tindak lanjut yang berujung temuan baru yang orisinil.
AAAAANamanya juga kelas global. Berarti harus menelorkan ilmu yang tidak, kurang, atau belum terpikirkan oleh masyarakat di berbagai pelosok dunia.
AAAAAJangankan itu. Untuk kelas nasional pun adakalanya masih diragukan.
AAAAAAda juga kalangan akademik merasa dirinya ilmuwan. Tetapi kalau berbicara sifatnya penuh kutipan. Terlebih kalau nara sumbernya berasal dari negara maju. Itu sih bukan ilmuwan, meskipun memori ilmu dalam otaknya sudah melimpah. Lebih tepat disebut "mediator ilmu" atau "public relation". Bisa juga dianggap sebagai "kolektor ilmu". Apalagi untuk dikatakan ilmuwan kelas global. Tentu saja kalau dikatakan langsung, "Loe bukan ilmuwan", mereka akan merasa tidak enak, malah mungkin tersudutkan atau tersinggung. Yang lucunya lagi, ada di antara Doktor di Indonesia yang tidak lebih dari sosok selebritis. Ia dibesarkan oleh media massa melalui berbagai statemennya ketimbang pemikiran kritis/kreatif secara utuh sebagai kajian dalamnya. Terlebih mereka yang berpenampilan wah, kemudian diwawancarai media massa terkenal. Opini selebritis yang melekat pada mereka membuat publik mempredikatkan ilmuwan padanya. Padahal publikasi mereka hanya merupakan kumpulan kliping koran atau makalah seminar. Sangat jarang ia menulis karya dalam artian hasil riset/ eksperimen secara utuh. Tesis doktornya pun hanya menjadi monumen akademis terakhir.
AAAAAApakah semua itu bisa dijadikan indikasi sosok ilmuwan para Doktor kita? Yang jelas jurnal akademis skop internasional dari para pakar kita nyatanya sangat minim. Malah masih kalah oleh Malaysia, Thailand, dan Pilipina.
KULTUR PENDIDIKAN
AAAAA Mengapa itu sampai terjadi? Jawabnya akan beragam, tergantung dari mana kita melihat latar belakangnya. Namun pendidikan di Indonesia selama alam kemerdekaan ini tanpa sengaja mengarahkannya ke sana.
AAAAALihat saja salah satu kulturnya yang telah mengkristal pada masyarakat Indonesia, yaitu berupa pertanyaan, "Apa kamu sedang ujian?", "Tadi ujian dapat berapa ?", "Anda sekolah di mana?", "Kapan kamu selesai kuliah?", sampai "sedang sibuk ujian ya?" Memang semua pernyataan itu kenyataannya telah meningkatkan tekanan pada masyarakat Indonesia untuk terlibat dalam pendidikan. Artinya, sedikit-banyak muncul perasaan "salah", "malu", malah "minder" pada mereka bila mengasingkan/ merenggangkan diri dari dunia pendidikan. Hanya kadarnya saja yang berlainan.
AAAAANamun belum ampuh mendorong terbentuknya ilmuwan kelas dunia dalam jumlah signifikan. Mungkin karena hanya terfokus pada ritual, bukan substansi. Rasanya tekanan tersebut akan semakin meningkat kalau saja terkristal pula pertanyaan seperti "Ilmu apa yang kamu dapat di sekolah ?", "Tadi di sekolah, kamu belajar apa saja ?", dan "Apa kamu tahu manfaat ilmu itu, nggak?" pada masyarakat Indonesia. Sehingga gilirannya kalau akan terbentuklah kesadaran pada masyarakat bahwa pendidikan merupakan sarana ampuh untuk memberikan nilai tambah di berbagai bidang. Sekaligus sedikit-banyak menimbulkan perasaan "malu", "salah", malah "minder" pada para terdidik bila melakukan segala bentuk ketidakmurnian, kepura-puraan, dan ketidakjujurandalam lembagapendidikan,seperti "menyontek", meskipun tidak terpantau oleh para pendidik.
AAAAAHanya saya rasakan tingkat kristalisasi pada yang terakhir itu masih jauh di bawah tingkat kristalisasi pada yang pertama. Sejak Sekolah Dasar, pertanyaan tentang pendidikan dari masyarakat, khususnya kepada diri saya, jauh lebih banyak menyangkut "nilai ujian" atau "tempat sekolah" ketimbang "substansi ilmu" dan "aplikasi ilmu".
REPRODUKSI ALUMNUS
AAAAA Pendidikan yang ada sekarang di Indonesia umumnya proses penyesuaian terdidik selaku objeknya terhadap sejumlah nilai kolektif yang sudah dimobilisasi oleh pihak birokrasi yang terkait, sehingga merupakan proses reproduksi alumnus, sesuai kurikulum yang diidealkan.
AAAAASetiap aktivis yang berakomodasi selama jangka waktu tertentu dipandang telah memenuhi persyaratan akademis, kemudian diwujudkan dengan penyerahan tanda tertulisnya. Sementara yang menyimpang akan dicap beragam kalimat yang berkonotasi ketidakdisiplinan.

Justru pola tersebut sering mencetak manusia berwawasan klise dalam berucap, bertindak, dan berbuat. Prof. Dr. Paulo Freire asal Brasil menganggapnya sebagai lembaga yang hanya memproduksi alumnus yang miskin bahasa, yang gilirannya beresiko bagi timbulnya budaya bisu.
AAAAAAdanya pertalian antar nilai dalam kedisiplinan ilmu, yang seharusnya bisa menghasilkan rumusan yang khas, tetapi berhubung sejak awal pola belajarnya sudah seperti itu, sehingga pengungkapannya masih terasa gabungan, belum bersifat sintesis.
AAAAABoleh jadi ini pun memberi andil bagi susahnya Indonesia menelorkan ilmuwan kelas dunia.
AAAAASemewah apapun sarana fisiknya, pendidikan baru bisa dikatakan moderen jika proses dan hasil belajarnya memberikan kemampuan bagi terdidik menghadapi situasi dan kondisi yang berbeda secara mandiri dalam merumuskan jalan keluar permasalahan. Sehingga terbentuklah identitas manusia per manusia sebagai individu yang berkarakteristik khas, sekaligus sebagai produsen pertanyaan yang sering menjadi modal "penelitian" dan "pengembangan" yang hasilnya berbentuk "pemecahan". Dari merekalah biasanya ilmu tumbuh, dari sekedar selembar kertas menjadi ratusan buku, yang buktinya bisa terlihat dalam dunia perpustakaan.
AAAAADari sebuah fenomena saja, mereka menjabarkannya dari berbagai sisi, kemudian dipertalikan secara kompetitif atau kombinatif, sehingga terciptalah makalah yang siap dicoba, dipelajari, diperdebatkan, dan dibukukan. Lepas dari kebenaran argumentasinya itu, yang jelas mereka sudah masuk dalam ruang modernisasi pendidikan.
AAAAASangat jelas. Pendidikan kita cenderung mengarahkan terdidik pada pola pikir "konservatif". Sedangkan pola pikir "reformis" tampak seperti tidak memperoleh tempat. Karena dari dasarnya sudah begitu ya sampai pendidikan tinggi pun demikian juga. Malah terbawa juga ketika mendapat bea siswa ke mancanegara. Padahal pola pikir konservatif mempunyai kelemahan. Misalkan dalam hal penelitian. Hasil penelitiannya sudah dapat dipastikan tidak akan berbeda jauh dengan hasil yang telah dipublikasikan, karena kebanyakan berpatokan dari produk ilmuwan asing. Sehingga tidak heranlah kalau saat membimbing mahasiswa, dosen seperti mengarahkan hasil penelitian mahasiswa agar identik dengan yang lainnya. Bisa dibayangkan, kan? Bagaimana orang Indonesia mau menghasilkan temuan baru kalau hanya mengekor saja?
AAAAADi banyak universitas di tanah air akan banyak ditemukan hal seperti itu. Para ilmuwan dalam era reformasi sekarang ini memang sudah harus melakukan intropeksi.
AAAAADemikian juga dengan berbagai lembaga penelitian segera melakukan research assessment, yakni mendefinisikan kembali tujuan dan arah penelitiannya. Sampai di mana kualitas hasilnya sampai kini, yang bisa diukur dari dua sisi, yaitu tepat gunanya bagi masyarakat dan layak tidaknya masuk jurnal internasional. Kembali pada fenomena "ilmuwan".
AAAAAEntah berapa banyak Doktor yang motifnya tidak lagi ingin bergiat di bidang keilmuannya. Malah lebih asyik di panggung bisnis dan birokrasi. Sementara banyak dari mereka yang prestasi kepakarannya dilihat dari posisi dan kedudukan di suatu institusi pendidikan.
AAAAAPadahal itu kan pekerjaan administrasi dan manajemen semata. Bukan itu saja. Banyak juga dari mereka yang karena prestasi akademisnya pada saat kuliah, langsung saja didudukkan pada jabatan-jabatan yang administratif tersebut. Sehingga mereka terjebak pada urusan tetek bengek administratif dan tidak akan ada waktu bagi mereka untuk mengembangkan specialisasinya. Makanya tidak heran bila ada anggapan sebagian orang, gelar profesor terkadang hanya menjadi simbol dan penghargaan dalam merebut kursi-kursi kepemimpinan.
AAAAAItu tidak bisa disalahkan semua pada mereka. Situasi dan kultur, sebagaimana yang baru saja disebutkan, sedikit-banyak ikut menggiring mereka ke arah sana. Nah, karena tuntutan jebakan penghormatan semu inilah, maka tidak jarang seseorang yang dipakarkan institusi tertentu di bidang kimia, misalnya, harus menulis di sebuah media massa tentang perkembangan ekonomi, dengan menjiplak. Mendingan kalau memang orisinil dari pemikirannya. Tetapi ini malah mentranslate beberapa tulisan orang lain. Untuk mengembalikan para doktor ke bidang spesiliasisinya akan semakin efektif bila disertai fasilitas untuk mengembangkan ide dan karya-karyanya.
AAAAAPokoknya Jangan cuci otak mereka dengan urusan administrasi sampai ketatausahaan. AAAAALepaskan mereka dari belenggu lingkaran penghormatan semu. Kalau saja banyak doktor termotivasi untuk mengembangkan bidangnya masing-masing, terlebih bermodalkan pola berpikir tuntas, detail, dan integratif, plus dengan semangat merah putih, Insya Allah, kemajuan bangsa kita cepat tercapai. (Nasrullah Idris, bidang studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi) *****

Kirim email ke