AAAAAParadigma "ilmuwan" di
Indonesia itu perlu segera dirubah untuk kemudian
disosialisasikan, disesuaikan dengan produk pemikiran
yang akan menjadi pasaran pada era globalisasi dalam
rangka mengantisipasi persaingan bebas. Mereka harus
dirangsang untuk mencapai prestasi kelas dunia untuk
bidangnya masing-masing. AAAAASosok ilmuwan seperti itu lain dengan yang
masyarakat intepretasikan atau gambarkan sekarang, yang
sering hanya bergulat pada beragam referensi asing,
tanpa tindak lanjut yang berujung temuan baru yang
orisinil. AAAAANamanya juga kelas global.
Berarti harus menelorkan ilmu yang tidak, kurang, atau
belum terpikirkan oleh masyarakat di berbagai pelosok
dunia. AAAAAJangankan itu. Untuk kelas
nasional pun adakalanya masih diragukan.
AAAAAAda juga kalangan akademik merasa dirinya
ilmuwan. Tetapi kalau berbicara sifatnya penuh kutipan.
Terlebih kalau nara sumbernya berasal dari negara maju.
Itu sih bukan ilmuwan, meskipun memori ilmu dalam
otaknya sudah melimpah. Lebih tepat disebut
"mediator ilmu" atau "public
relation". Bisa juga dianggap sebagai
"kolektor ilmu". Apalagi untuk dikatakan
ilmuwan kelas global. Tentu saja kalau dikatakan
langsung, "Loe bukan ilmuwan", mereka akan
merasa tidak enak, malah mungkin tersudutkan atau
tersinggung. Yang lucunya lagi, ada di antara Doktor di
Indonesia yang tidak lebih dari sosok selebritis. Ia
dibesarkan oleh media massa melalui berbagai statemennya
ketimbang pemikiran kritis/kreatif secara utuh sebagai
kajian dalamnya. Terlebih mereka yang berpenampilan wah,
kemudian diwawancarai media massa terkenal. Opini
selebritis yang melekat pada mereka membuat publik
mempredikatkan ilmuwan padanya. Padahal publikasi mereka
hanya merupakan kumpulan kliping koran atau makalah
seminar. Sangat jarang ia menulis karya dalam artian
hasil riset/ eksperimen secara utuh. Tesis doktornya pun
hanya menjadi monumen akademis terakhir.
AAAAAApakah semua itu bisa dijadikan indikasi sosok
ilmuwan para Doktor kita? Yang jelas jurnal akademis
skop internasional dari para pakar kita nyatanya sangat
minim. Malah masih kalah oleh Malaysia, Thailand, dan
Pilipina. KULTUR
PENDIDIKAN AAAAA Mengapa itu sampai terjadi? Jawabnya akan
beragam, tergantung dari mana kita melihat latar
belakangnya. Namun pendidikan di Indonesia selama alam
kemerdekaan ini tanpa sengaja mengarahkannya ke sana.
AAAAALihat saja salah satu kulturnya yang telah
mengkristal pada masyarakat Indonesia, yaitu berupa
pertanyaan, "Apa kamu sedang ujian?",
"Tadi ujian dapat berapa ?", "Anda
sekolah di mana?", "Kapan kamu selesai
kuliah?", sampai "sedang sibuk ujian ya?"
Memang semua pernyataan itu kenyataannya telah
meningkatkan tekanan pada masyarakat Indonesia untuk
terlibat dalam pendidikan. Artinya, sedikit-banyak
muncul perasaan "salah", "malu",
malah "minder" pada mereka bila mengasingkan/
merenggangkan diri dari dunia pendidikan. Hanya kadarnya
saja yang berlainan. AAAAANamun belum ampuh
mendorong terbentuknya ilmuwan kelas dunia dalam jumlah
signifikan. Mungkin karena hanya terfokus pada ritual,
bukan substansi. Rasanya tekanan tersebut akan semakin
meningkat kalau saja terkristal pula pertanyaan seperti
"Ilmu apa yang kamu dapat di sekolah ?",
"Tadi di sekolah, kamu belajar apa saja ?",
dan "Apa kamu tahu manfaat ilmu itu, nggak?"
pada masyarakat Indonesia. Sehingga gilirannya kalau
akan terbentuklah kesadaran pada masyarakat bahwa
pendidikan merupakan sarana ampuh untuk memberikan nilai
tambah di berbagai bidang. Sekaligus sedikit-banyak
menimbulkan perasaan "malu",
"salah", malah "minder" pada para
terdidik bila melakukan segala bentuk ketidakmurnian,
kepura-puraan, dan ketidakjujurandalam
lembagapendidikan,seperti "menyontek",
meskipun tidak terpantau oleh para pendidik.
AAAAAHanya saya rasakan tingkat kristalisasi pada
yang terakhir itu masih jauh di bawah tingkat
kristalisasi pada yang pertama. Sejak Sekolah Dasar,
pertanyaan tentang pendidikan dari masyarakat, khususnya
kepada diri saya, jauh lebih banyak menyangkut
"nilai ujian" atau "tempat sekolah"
ketimbang "substansi ilmu" dan "aplikasi
ilmu". REPRODUKSI
ALUMNUS AAAAA Pendidikan yang ada
sekarang di Indonesia umumnya proses penyesuaian
terdidik selaku objeknya terhadap sejumlah nilai
kolektif yang sudah dimobilisasi oleh pihak birokrasi
yang terkait, sehingga merupakan proses reproduksi
alumnus, sesuai kurikulum yang diidealkan.
AAAAASetiap aktivis yang berakomodasi selama jangka
waktu tertentu dipandang telah memenuhi persyaratan
akademis, kemudian diwujudkan dengan penyerahan tanda
tertulisnya. Sementara yang menyimpang akan dicap
beragam kalimat yang berkonotasi
ketidakdisiplinan. |
Justru pola tersebut
sering mencetak manusia berwawasan klise dalam berucap,
bertindak, dan berbuat. Prof. Dr. Paulo Freire asal
Brasil menganggapnya sebagai lembaga yang hanya
memproduksi alumnus yang miskin bahasa, yang gilirannya
beresiko bagi timbulnya budaya bisu.
AAAAAAdanya pertalian antar nilai dalam
kedisiplinan ilmu, yang seharusnya bisa menghasilkan
rumusan yang khas, tetapi berhubung sejak awal pola
belajarnya sudah seperti itu, sehingga pengungkapannya
masih terasa gabungan, belum bersifat sintesis.
AAAAABoleh jadi ini pun memberi andil bagi susahnya
Indonesia menelorkan ilmuwan kelas dunia.
AAAAASemewah apapun sarana fisiknya, pendidikan
baru bisa dikatakan moderen jika proses dan hasil
belajarnya memberikan kemampuan bagi terdidik menghadapi
situasi dan kondisi yang berbeda secara mandiri dalam
merumuskan jalan keluar permasalahan. Sehingga
terbentuklah identitas manusia per manusia sebagai
individu yang berkarakteristik khas, sekaligus sebagai
produsen pertanyaan yang sering menjadi modal
"penelitian" dan "pengembangan" yang
hasilnya berbentuk "pemecahan". Dari merekalah
biasanya ilmu tumbuh, dari sekedar selembar kertas
menjadi ratusan buku, yang buktinya bisa terlihat dalam
dunia perpustakaan. AAAAADari sebuah fenomena saja,
mereka menjabarkannya dari berbagai sisi, kemudian
dipertalikan secara kompetitif atau kombinatif, sehingga
terciptalah makalah yang siap dicoba, dipelajari,
diperdebatkan, dan dibukukan. Lepas dari kebenaran
argumentasinya itu, yang jelas mereka sudah masuk dalam
ruang modernisasi pendidikan. AAAAASangat jelas. Pendidikan kita cenderung
mengarahkan terdidik pada pola pikir
"konservatif". Sedangkan pola pikir
"reformis" tampak seperti tidak memperoleh
tempat. Karena dari dasarnya sudah begitu ya sampai
pendidikan tinggi pun demikian juga. Malah terbawa juga
ketika mendapat bea siswa ke mancanegara. Padahal pola
pikir konservatif mempunyai kelemahan. Misalkan dalam
hal penelitian. Hasil penelitiannya sudah dapat
dipastikan tidak akan berbeda jauh dengan hasil yang
telah dipublikasikan, karena kebanyakan berpatokan dari
produk ilmuwan asing. Sehingga tidak heranlah kalau saat
membimbing mahasiswa, dosen seperti mengarahkan hasil
penelitian mahasiswa agar identik dengan yang lainnya.
Bisa dibayangkan, kan? Bagaimana orang Indonesia mau
menghasilkan temuan baru kalau hanya mengekor saja?
AAAAADi banyak universitas di tanah air akan banyak
ditemukan hal seperti itu. Para ilmuwan dalam era
reformasi sekarang ini memang sudah harus melakukan
intropeksi. AAAAADemikian juga dengan
berbagai lembaga penelitian segera melakukan research
assessment, yakni mendefinisikan kembali tujuan dan arah
penelitiannya. Sampai di mana kualitas hasilnya sampai
kini, yang bisa diukur dari dua sisi, yaitu tepat
gunanya bagi masyarakat dan layak tidaknya masuk jurnal
internasional. Kembali pada fenomena
"ilmuwan". AAAAAEntah berapa banyak Doktor
yang motifnya tidak lagi ingin bergiat di bidang
keilmuannya. Malah lebih asyik di panggung bisnis dan
birokrasi. Sementara banyak dari mereka yang prestasi
kepakarannya dilihat dari posisi dan kedudukan di suatu
institusi pendidikan. AAAAAPadahal itu kan pekerjaan
administrasi dan manajemen semata. Bukan itu saja.
Banyak juga dari mereka yang karena prestasi akademisnya
pada saat kuliah, langsung saja didudukkan pada
jabatan-jabatan yang administratif tersebut. Sehingga
mereka terjebak pada urusan tetek bengek administratif
dan tidak akan ada waktu bagi mereka untuk mengembangkan
specialisasinya. Makanya tidak heran bila ada anggapan
sebagian orang, gelar profesor terkadang hanya menjadi
simbol dan penghargaan dalam merebut kursi-kursi
kepemimpinan. AAAAAItu tidak bisa disalahkan
semua pada mereka. Situasi dan kultur, sebagaimana yang
baru saja disebutkan, sedikit-banyak ikut menggiring
mereka ke arah sana. Nah, karena tuntutan jebakan
penghormatan semu inilah, maka tidak jarang seseorang
yang dipakarkan institusi tertentu di bidang kimia,
misalnya, harus menulis di sebuah media massa tentang
perkembangan ekonomi, dengan menjiplak. Mendingan kalau
memang orisinil dari pemikirannya. Tetapi ini malah
mentranslate beberapa tulisan orang lain. Untuk
mengembalikan para doktor ke bidang spesiliasisinya akan
semakin efektif bila disertai fasilitas untuk
mengembangkan ide dan karya-karyanya.
AAAAAPokoknya Jangan cuci otak mereka dengan urusan
administrasi sampai ketatausahaan. AAAAALepaskan
mereka dari belenggu lingkaran penghormatan semu. Kalau
saja banyak doktor termotivasi untuk mengembangkan
bidangnya masing-masing, terlebih bermodalkan pola
berpikir tuntas, detail, dan integratif, plus dengan
semangat merah putih, Insya Allah, kemajuan bangsa kita
cepat tercapai. (Nasrullah Idris, bidang
studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi) *****
|