Selamat tahun baru....:) Tahun baru, nafas baru, masalah baru, pokoknya
semua serba baru.

Penghujung tahun 1999 ditandai dengan demonstrasi kebebalan hati seorang
'pemimpin' RI yaitu Ibu Kita Megawati Sukarnoputri dari PDIP dalam mensikapi
suasana keprihatinan di dalam negeri. Dengan enteng bekas gardener ini
melanglang ke Hongkong untuk refreshing menonton kembang api. Ternyata
kekanak-kanakan mbak Meg yang mungkin pencerminan dari sifat kelompok PDIP
lebih akut dari keponakan saya yang menjerit-jerit ingin menonton pameran
kembang api. Kasihan....:)

Penghujung tahun 1999 yang sekaligus merupakan perayaan natal ternyata juga
diwarnai dengan pembantaian 500 orang muslim di Ambon. Suatu perayaan sakral
kelahiran Isa AlMasih model baru. Entah sudah dirasuki setan manakah para
pendeta dan pemimpin mereka ini. Sebanyak 25 ribu orang menyerang tanpa
dapat diatasi oleh pihak keamanan? Hmmm....:)

Dua kejadian di atas sangat ironis. Walaupun saya juga yakin kalau Mega
ditaruh selama setahun di Ambon selama setahunpun tidak akan menyelesaikan
masalah, tetapi paling tidak ibu ini menunjukkan kepeduliannya. Mana
tangisan politik yg ditampilkan dulu itu?

Berkaitan dengan geger Ambon, saya kok makin lama makin bingung. Mula-mula
kelompok pedagang dari Bugis dan Makasar yang dihabisi dan diusir dari
Ambon, sekarang sesama Ambonpun dibunuhi. Yang saya makin takjub, banyak
orang sebetulnya kurang begitu peduli memperoleh informasi yang sepihak.
Kelompok ini tidak berusaha memperoleh informasi yang seimbang. Yang
menyedihkan kelompok ini yang paling keras bersuara bila disampaikan fakta
bahwa demikian banyak orang muslim yang terbantai. Kelompok kedua adalah
kelompok yang mau mencari informasi yang seimbang. Yang menyedihkan,
kelompok ini tidak ingin info tersebar dengan sempurna, dan malah cuci
tangan dengan alasan tidak tahu menahu urusan Ambon karena tidak ada di
sana.....:)

Issue berkaitan adalah kemungkinan kudeta oleh pihak militer.
Ketidakstabilan yang terus menerus dapat menjadi alasan yg jitu untuk
kudeta. Mungkin pada awal reformasi pihak militer tidak ingin dan tidak
berani untuk kudeta, tapi dengan perkembangan seperti saat ini apakah mereka
tidak akan tergiur?

Permasalahan Ambon buat saya sekarang ini lebih pas disebut permasalahan
militer vs sipil. Pemerintahan sipil berusaha menekan militer melepas fungsi
di luar hankamnya sebanyak mungkin, di lain pihak militer masih
tergagap-gagap dan masih ada keinginan untuk langgeng.

Sudah berkali-kali saya tulis agar Gus Dur memberi legitimasi pihak hankam
untuk memenjalankan fungsinya sebagai penjaga pertahanan dan keamanan. Tidak
perlu takut bahwa militer akan menarik hati rakyat lagi. Jadi pengerahan
pasukan ke Ambon tidak perlu lagi diirit-irit lagi.


Jeffrey Anjasmara
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke