Kok ada heli Aussie memasok amunisi ke para crusader sih? Beginilah kalau
perang salib dibiarkan terus. Setelah perang 1000 tahun tidak mampu membawa
kehancuran di hampir wilayah kecuali di Spanyol, perang semacam dilanjutkan
di millenium baru ke wilayah Maluku. Hemmm.....:) Perlu diselidiki
jangan-jangan Vatikan ikut membiayai.
Perlu dipahami pula bahwa perekrutan pasukan crusader kebanyakan dari
Belanda, Perancis, dan Jerman. Setelah itu baru diikuti oleh Inggris,
Spanyol, Portugis dan Itali. Dengan demikian, segala macam bantuan dari
negara-negara ini (kalau ada, yg jelas Belanda sudah bilang kan?) perlu
dicurigai. Biarpun sudah berabad-abad, siapa yg berani mengklaim sentimen
seperti ini tidak mungkin ada?

Kemarin ada yang memosting jumlah kerusakan masjid ada 32 buah dan gereja yg
rusak 37 buah. Si pemosting menyatakan bahwa info ini perlu diambil sebagai
penyeimbang. Saya kira info-info ini pasti dikeluarkan oleh dewan gereja
pimpinan Titaley yang sudah berubah fungsi menjadi pusat komando strategi
tempur. Mungkin pula mushala-mushala sederhana yang memang jauh lebih banyak
tidak dihitung. Hal ini berbeda dengan bangunan gereja yang biasanya
permanen, dalam arti megah lah, yang mudah dihitung.


JA

-----------------------------------------------------
Muslim Halmahera Punah: 2.080 Tewas, Wanita Diperkosa

TERNATE (Waspada): Menurut perkiraan, Minggu pertama Januari tahun 2000 ini
muslim di kawasan pulau Halmahera, Maluku Utara, akan punah akibat dibantai
secara biadab oleh kelompok mayoritas Kristen setempat. Korban mencapai
2.080 tewas, 17.000 mengungsi, ratusan rumah
dibakar.

Seperti diungkapkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku Utara H
Syarif Sahafin Selasa(4/1), pembantaian bukan hanya terhadap muslim dewasa
tetapi juga anak-anak dan wanita. Misalnya, dalam kerusuhan yang pecah awal
pekan lalu (27/12) di Kecamatan Tobelo, bagian Utara
Pulau Halmahera, Kabupaten Maluku Utara.

H Syarif Sahafin ditemui di Masjid Muhajirin Ternate mengatakan pihaknya
hanya bisa melaporkan peristiwa pembantaian terhadap kaum muslimin, termasuk
anak-anak dan wanita, di kecamatan berpenduduk minoritas Islam itu kepada
MUI Pusat.

Selain terjadi pembantaian, kata Syarif, banyak pula di antara kaum wanita
yang tewas diperkosa oleh massa penyerang sebelum wanita itu dibunuh.
Informasi lain menyebutkan, perkosaan terjadi di jalan-jalan, di saat hiruk
pikuknya penyerangan termasuk di hadapan orang ramai.

Sementara itu, Penasihat tim pemantau dan rehabilitasi korban kerusuhan
Halmahera Utara, Muslim
Arbi, di Jakarta menghadap Ketua MPR Amien Rais. Dia mengatakan, umat Islam
di sana dibantai secara sadis. Mayat-mayat dibiarkan bergelimpangan di
jalan-jalan, sebagian warga dibakar hidup-hidup dan sebagian lainnya anggota
tubuhnya dipotong sampai terpisah-pisah.

Kondisi terakhir di Halmahera Utara dilaporkan, tercatat 2.080 kaum muslim
telah dibantai dalam beberapa peristiwa belakangan ini, termasuk anak-anak
dan wanita serta lebih dari 200 orang lainnya
menderita luka-luka berat/ringan.

Menurut laporan yang diterima Selasa, pembakaran hidup-hidup menimpa 250
orang muslim dan termasuk etnis China di dalam masjid Jami' Kampung Gamsuni
dan Masjid Kampung Dufa-dufa. Mereka terdesak oleh musuh lalu berlindung ke
dalam masjid, tetapi masjid tersebut disiram musuh dengan bensin kemudian
dibakar sehingga mereka tewas terpanggang.

Muslim Arbi menjelaskan, aksi pembantaian umat Islam itu terus meluas ke
kecamatan lainnya di wilayah Halmahera Utara, yakni Kecamatan Kao,
Sidangoli, Jailolo, dan Morotai Selatan.

Sedang warga muslim yang menghuni pulau-pulau kecil di wilayah kepulauan
Halmahera Utara, seperti Posi-Posi dan Loleo kini dihantui rasa cemas
seiring berkembang isu bahwa mereka jangan coba-coba melarikan diri karena
sudah terkepung.

"Jika dalam beberapa hari mendatang aksi pembantaian itu tidak dihentikan,
maka dapat dipastikan sebelum melewati Minggu pertama Januari 2000, umat
Islam akan punah dari bumi Halmahera Utara," kata Muslim Arbi.

Untuk menyelamatkan umat Islam dari bumi Halmahera, Muslim Arbi mengharapkan
pengiriman bantuan kapal perang untuk mengevakuasi warga masyarakat dari
Tobelo dan Galela.

Menurut dia, sebanyak 150 personel TNI tambahan yang disebarkan di Kecamatan
Tobelo, Kao, Galela, dan Jailolo saat ini dirasakan masih sangat kurang
untuk mengatasi aksi brutal di seluruh
wilayah kecamatan di Halmahera Utara.

"Saya harapkan pemerintah segera mengirimkan pasukan keamanan tambahan ke
Halmahera Utara," katanya.

Sementara itu, mantan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Maluku Utara yang juga staf
pengkajian MUI Ternate, Husdi Hanafi, yang ikut mendampingi Ketua MUI Syarif
mengatakan, pembantaian kaum muslimin di Kecamatan Tobelo diduga keras sudah
direncanakan sebelumnya.

"Dari persiapan mereka, terlihat dari peralatan (perang) yang dipakai maupun
pemusatan konsentrasi orang-orang dari luar Kecamatan Tobelo seperti dari
Kao, Wasilo, Loloda dan Jailolo di Tobelo, aksi penyerangan terhadap muslim
sudah direncanakan sebelumnya," katanya.

Sedangkan Rusdi Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Maluku Utara
minta agar pembantaian terhadap umat Islam di wilayah-wilayah Maluku Utara
yang berpenduduk minoritas Islam agar dihentikan.

"Pasukan jihad siap bertempur habis-habisan dalam menghadapi mereka,"
katanya dengan menambahkan bahwa kaum muslimin Ternate dan Tidore tidak
pernah mempunyai niat untuk mengganggu umat lain selama kerusuhan Ambon yang
pertama kali pecah 19 Januari 1999.

"Kalau kita punya niat untuk menghabisi mereka, dalam waktu dua hari kita
habisi mereka di Ternate," katanya.

Rusdi juga meminta agar Angkatan Laut RI meningkatkan patroli rutinnya di
perairan yang memisahkan Pulau Morotai dan Filipina untuk mengantisipasi
kemungkinan penyelundupan amunisi organik bagi kelompok tertentu untuk
dirakit menjadi bom yang dipakai dalam kerusuhan.

17.000 Pengungsi, 10. 000 Terkepung

Muslim Arbi mengemukakan, saat ini terdapat 17.000 pengungsi Halmahera,
sekitar 10.000 di antaranya masih tinggal dan "terkurung" di markas Kompi C
Yon-732 Banau-Tobelo dan Soasio.

"Sebagian dari pengungsi itu terdiri atas anak-anak, dan pria/wanita lanjut
usia telah dievakuasi ke Ternate dan Tidore pada 2 Januari lalu," katanya
kepada pers di Jakarta Selasa (4/1), seusai diterima
Ketua MPR Amien Rais.

Total pengungsi asal kepulauan Halmahera Utara yang telah dievakuasi ke
kedua daerah itu, sejak pecahnya konflik SARA, 26 Desember 1999, dilaporkan
berjumlah 17.000 orang.

Menurut Muslim Arbi, 12.000 orang dari 17.000 orang yang telah dievakuasi ke
Ternate dan Tidore itu merupakan pengungsi muslim suku Makian.

Warga Muslim itu meninggalkan desanya masing-masin karena jiwanya terancam,
setelah rumah mereka dibakar oleh kelompok kristen secara brutal. Menurut
perkiraan mereka tidak akan dapat kembali ke kampung halamannya pada Idul
Fitri 1420 H ini, terpaksa tidak ikut berlebaran atau berhari raya hanya
seadanya di pengungsian.

Heli Pasok Amunisi

Puluhan amunisi yang digunakan oleh warga Kecamatan Kao untuk menyerang
muslim di Sidangoli Kecamatan Jailolo Pulau Halmahera, diduga disuplai
helikopter milik PT Nusa Halmahera Minerals(NHM), perusahaan swasta asing
dari Australia.

Beberapa anggota pasukan "Jihad" dari Ternate mengatakan, perusahaan tambang
milik Australia yang berlokasi di kawasan Gosokong Kecamatan Koa-Halmahera
itu, disinyalir ikut membawa warga yang saling bertikai dengan warga
Sidangoli di propinsi termuda di Indonesia itu.

Sejumlah amunisi dan senjata api lainnya (organik-red) digunakan masyarakat
dalam kasus kerusuhan Pulau Halmahera itu, disinyalir buatan luar negeri,
kata Acham M, Pimpinan Jihad asal Kotamadya Ternate di Ternate Selasa (4/1).

"Pada penyerangan, Kamis (30/12) petang lalu kami sempat melihat helikopter
tersebut mendarat di tengah-tengah massa yang sementara melakukan
penyerangan terhadap warga muslim Sidangoli," katanya.

Amunisi dan senjata organik yang digunakan tersebut diduga disuplai dari
luar. "Dari bunyi senjata dan beberapa barang bukti yang ditemukan pasukan
jihad, ternyata bukan senjata rakitan," katanya.

Achmad, 47, mengaku, dua hari berturut-turut dia dan pasukannya melihat
helikopter milik perusahaan asing tersebut mondar-mandir di lokasi
pertikaian.

Karena ulah perusahaan asing itu membuat warga setempat terpaksa
"menyandera" helikopter milik PT NHM yang sedang parkir di Bandara Sultan
Babullah Ternate Jumat (31/12).

Kejar TNI Memihak

Selasa siang, 3.250 pengungsi dievakuasi melalui KRI Teluk Sabang dan Teluk
Langsa ke pelabuhan Ahmad Yani Ternate dari tujuh desa muslim yang ada di
Kecamatan Ibu, Kabupaten Maluku Utara.

Proses pengevakuasian pengungsi dari KRI Teluk Langsa Selasa siang sempat
diwarnai aksi tiga kali tembakan peringatan oleh aparat keamanan dari atas
truk militer untuk menghalau massa yang hendak menghentikan truk yang
dicurigai membawa oknum aparat yang, menurut pengakuan pengungsi muslim,
berpihak pada salah satu kristen dalam pertikaian di daerah Halmahera.

Adegan kejar mengejar dan upaya pengepungan oleh massa terhadap truk militer
yang membawa sejumlah personil TNI Angkatan Darat itu sempat terjadi di
dalam areal pelabuhan sejak dari dermaga hingga pintu depan Pelabuhan A Yani
Ternate.

Namun, truk militer buatan Jerman itu berhasil keluar dari kejaran massa
yang sebelumnya diberitahu pengungsi tentang adanya oknum aparat TNI-AD yang
berpihak dalam pertikaian bernuansa SARA ikut bersama kapal perang jenis
Landing Ship Tank (LST) itu.

Adegan tersebut tidak ada korban jiwa dalam insiden yang sempat memanaskan
suasana pengevakuasian pengungsi yang umumnya tampak kelelahan, khususnya
anak-anak, ibu bersama balitanya, serta orang tua lanjut usia (lansia).

Para pengungsi Muslim yang terusir dari kampung halamannya itu sebelumnya
harus menunggu satu hari di ibukota Kecamatan Ibu, sebelum kapal jenis
Landing Ship Tank (LST) itu membawa mereka menuju Kodya Ternate.

Suasana haru mewarnai penjemputan para pengungsi itu karena pengungsi maupun
penjemput tak kuasa menahan tangis melihat kondisi pengungsi yang kelelahan
dan kehilangan harta benda itu.

Seorang penduduk setempat, Urip A. Rauf yang telah bertugas di sub ranting
PT PLN Kecamatan Ibu selama enam tahun dua bulan dan ikut mengungsi
mengatakan, keadaan kampung mereka kini sudah kosong. Warga kampung semua
mengungsi.

Dia selanjutnya mengatakan seorang pengungsi Muslim yang terluka dalam
pertikaian dan ikut dievakuasi bersama KRI Teluk Langsa meninggal dunia di
kapal namun awak kapal KRI membantah hal itu.

Awak kapal KRI itu hanya membenarkan bahwa ada ibu yang sempat melahirkan
bayinya di kapal

Di kecamatan itu terdapat 39 desa, 32 di antaranya berpenduduk mayoritas
Kristen, sedangan warga muslim terkonsentrasi di pusat kota di tiga desa
yakni Gamlamo, Samici, dan Tongute Ternate.

MUI bentuk BKSUI

Berkaitan dengan penanganan belasan ribu pengungsi muslim yang kini
membanjiri kota berpenduduk sekitar 120.000 jiwa itu, maupun koordinasi
antar Posko pengungsi dan Posko pasukan Jihad di
Ternate, MUI setempat telah membentuk Badan Koordinasi Solidaritas Umat
Islam (BKSUI) Maluku Utara.

BKSUI yang dibentuk bersama organisasi politik, organisasi Islam, tokoh
masyarakat dan imam masjid se-Kodya Ternate pda 2 Januari lalu, menurut
Syarif, akan mengkoordinir seluruh kegiatan yang berkaitan dengan pengurusan
pengungsi maupun pelayanan permintan lasykar jihad serta pasokan amunisi.

"Sumbangan dari pihak mana pun bisa disalurkan lewat rekening kami di Bank
BNI 46 Cabang Ternate dengan nomor 097.00026323001. Kami sangat mengharapkan
bantuan dari saudara-saudara muslim se-Tanah Air," katanya.

Kebutuhan lain yang dinilai cukup mendesak untuk membantu para pengungsi
adalah obat-obatan, sembako, dan tenaga medis bagi perawatan warga
masyarakat yang terluka atau menderita penyakit lainnya akibat kondisi
kesehatan menurun. (Ant/R-m17)
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke