Peringatan:
Informasi berikut ini mengandung tulisan yg mungkin
dapat memualkan perut anda. Karenanya tidak disarankan
untuk membacanya bagi mereka yg punya penyakit mudah
mual bila membaca hal2 yg sadis.

Informasi ini saya forwardkan juga tujuannya sekedar pelengkap
akan apa yg terjadi di Maluku. Sekaligus juga sebagai warning
kita akan keakuratan informasi2 yg disampaikan selama ini
lewat media. Setidaknya, kita tidak menelan mentah2 setiap informasi
yg masuk tapi lebih kepada menjadikannya suatu kemungkinan saja.
Berhati2lah selalu terhadap tindakan2 yg ingin agar Indonesia
terpecah belah.


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

--------
FWD
--------
KM LAMBELU DIBAJAK
Enam Warga Dibantai Secara Sadis

Pembantaian secara sadis yang menelan korban jiwa kembali lagi terjadi di
atas KM Lambelu. Kali ini, enam warga tewas sia-sia dibantai secara sadis
diatas
KM lambelu pada tanggal 2 januari 1999 lalu, ketika kapal tersebut merapat di
dermaga Ternate, Maluku Utara.
Ketua Klasis Kota Ambon, Pdt Pattinaya, STh kepada Siwalima Selasa (4/1) di
Ambon, usai menerima tujuh dari sembilan warga Kristen yang lolos dari
pembantaian sadis itu mengatakan, tujuh warga Kristen itu menuturkan bahwa
sebelumnya KM Lambelu, berlayar dari pelabuhan Bitung (Sulawesi Utara)
menuju Ternate. Sesampainya di dermaga Ternate, sejumlah masa langsung
memaksa Kapal Motor Lambelu untuk segera menuju Tobelo guna mengangkut
para pengungsi dari Tobelo menuju Ternate. Karena terus didesak, kata
pattinaya, Kapten kapal terpaksa harus menuruti keinginan massa. "Karena
dipaksa,
Kapten kapal Lambelu menuruti saja keinginan massa dan saat itu juga kapal
langsung menuju Tobelo," ujarnya. Menyetir keterangan tujuh dari sembilan
saksi korban yang lolos dari amuk massa, Pattinaya mengatakan, "setelah tiba
di Tobelo, para pengungsi diangkut dan kapal segera menuju Ternate.
Sesampainya di pelabuhan Ternate, massa langsung naik ke atas kapal Lambelu
sambil meneriakan kata-kata menghasut seperti: cari Obet, bunuh Obet.
Spontan massa langsung mencari semua orang Kristen di atas kapal tersebut
untuk dibantai."

Spontan, mereka langsung mengadakan pemeriksaan KTP para penumpang. Tidak
cuma itu, kata Pattinaya, ada pula yang berteriak agar penumpang laki-laki
dibuka celana untuk diperiksa kemaluannya. Tak pelak lagi, enam warga Kristen
yang keperogok massa perusuh,dibantai secara sadis hingga tewas,
kemudian keenam mayat itu diturunkan dari atas kapal ke dermaga Ternate.
Menurut keterangan tujuh dari kesembilan warga Kristen yang lolos itu, seluruh
bagian tubuh dari keenam orang yang dibantai itu sudah tidak dapat
diidentifikasi lagi karena sudah dipotong penggal-penggal. "Seluruh isi perut
para
korban sudah terberai keluar dan kepala-kepala mereka juga sudah dipenggal.
Mereka juga tidak mengetahui siapa nama dan asal para korban itu, hanya
dapat dipastikan mereka adalah warga Kristen," ujar Pattinaya menirukan
keterangan para saksi tadi. Ditambahkan Pattinaya, tujuh warga yang lolos dari
maut itu menuturkan bahwa setelah mayat keenam korban itu diturunkan ke atas
dermaga, ada diantaranya yang dibuang ke laut, ada pula yang mungkin
dibakar. Menurut Pattinaya, sembilan warga Kristen yang lolos itu semuanya
sudah tiba di Ambon Selasa (4/1) kemarin. Namun hanya tujuh orang yang
datang ke Maranatha untuk melaporkan kejadian tersebut, sedangkan dua orang
lainnya masih berada di halong, karena salah satu diantaranya yang berasal
dari Irian juga dipotong dengan parang di bagian badan dan tangan. Tujuh
orang yang mendatangi Gereja Maranatha Selasa kemarin, untuk melaporkan
(memberikan kesaksian) atas kejadian tersebut antara lain: Yohanes Beolado
(Ternate), Petrus Patawala (Ternate), Yusuf Titarsole (Bitung), Nona Lois
Pattiwala (Bitung), Yulian Warawarin (Bitung) dan Roi Laturiu (Bitung).
Sedangkan dua lainnya belum diketahui namanya.

Seperti diberitakan Siwalima 31 Desember lalu, direktur STT GMIH, Pdt Hans
Apu, STh menangkis berbagai pemberitaan media cetak pusat yang belakangan
sangat memojokan umat Kristiani khususnya di Propinsi Maluku Utara. Menurut
Hans Anu, tidak ada pembantaian terhadap umat Muslim sebagaimana
diberitakan media cetak terbitan pusat itu. "Itu adalah berita bohong yang
mengarah kepada provokasi masyarakat sehingga bisa terjadi pertikaian sehingga
saling bunuh membunuh antar sesama umat beragama khususnya Islam dan Kristen
di daerah itu," kata Hans Anu.

HARIAN SIWALI MA

              &

YAYASAN SAGU

Solidaritas Anak Negeri Maluku

Kirim email ke