Mari kita dukung terus upaya TNI-Polri untuk mencoba mengurangi dampak atau pun jatuhnya korban dari peristiwa balas dendam yg tak kunjung reda ini. Semoga saudara2 kita di Maluku bisa segera disadarkan akan perbuatan iblis mereka. Saling bunuh adalah tindakan yg tidak akan pernah direstui oleh Tuhan yang maha pengasih. jabat erat, Irwan Ariston Napitupulu ------- FWD: ------- TERBONGKAR JARINGAN "PABRIK" SENJATA DI WAIHAONG - SILALE Inilah suksesnya Pangdam XVI Pattimura, Brigjen TNI Max Tamaela, sebagai pemegang Kodal. Pasalnya ternyata kegiatan sweeping yang dilakukan aparat gabungan di kawasan Waihaong, Silale dan Manggadua, Selasa (3/1), berhasil ditemukan satu set alat pembuat senjata lengkap dengan amunisi dan serbuk amunisi milik warga masyarakat, pun senjata rakitan laras panjang 17 pucuk, senjata rakitan laras pendek 6 pucuk, mortir atau Basoka yang dimodifikasi 5 pucuk, senapan angin 1 pucuk, bom rakitan 52 buah, anak panah 140, tombak 51, amunisi SS-1 kaliber 5,52 sebanyak 52 butir, serbuk amunisi satu kotak besar serta satu set alat pembuat senjata dan senjata peluncur panah laras minim standar milik TNI serta amunisi-amunisi kaliber campuran 10 buah. Demikian dikemukakan Pangdam XVI Pattimura Brigjen Max Tamaela, dalam penjelasan hariannya kepada sejumlah wartawan, Selasa (3/1), di Makodam. Disamping sejumlah barang temuan itu, ternyata ada juga sejumlah belati, sangkur dan keris serta anak panah. Pangdam mengakui pihaknya sangat terkejut dengan ditemukannya alat pembuat senjata, yang disebut sebagai pabrik senjata di Ambon. "Alat pembuat senjata itu, sama saja dengan pabrik senjata" tandasnya. Kegiatan sweeping tim gabungan TNI-Polri pada rumah-rumah penduduk tersebut, kata Pangdam, akan terus dilaksanakan selama warga masyarakat masih memegang senjata api serta bom. Sebab, tambahnya, tindakan itu memang bukan wewenang rakyat. Menurutnya, barang-barang temuan aparat gabungan, ternyata selama ini digunakan untuk membuat senjata, yang selama ini dipakai untuk menembak dan saling membunuh diantara kedua kelompok yang terus bertikai. Sebab produksi senjata saat ini mualai beredar di masyarakat. "Untuk sementara waktu kita bisa mencegah dan mengatasinya". Pangdam akui temuan ini baru merupakan sebagian kecil dari apa yang dimiliki serta digunakan warga masyarakat untuk saling membunuh. Dia mencontohkan, ketika pecah insiden di kawasan tugu Trikora, banyak sekali senjata-senjata rakitan maupun standar organik yang digunakan warga. "Ini membuktikan banyak senjata yang masih dimiliki warga sipil yang sewaktu-waktu bisa saja digunakan bila ada keributan atau salah paham diantara sesama kelompok warga masyarakat." Untuk itu, pihaknya tidak akan berhenti, namun terus kegiatan melakukan sweeping manakala sudah ada titik terang, khususnya dalam penggunaan senjata maupun pemilikan senjata, karena sesungguhnya bukan hak masyarakat. Dikatakan, ini perlu terus dilaksanakan karena pemilikan senjata api bukan pada tempatnya ini, juga merupakan salah satu pemicu terjadinya konflik antara kelompok akhir-akhir ini. "Seharusnya masyarakat sadar kalau memegang atau memiliki senjata api, itu bukan merupakan haknya, sehingga secara sadar mereka dihimbau untuk segera menyerahkan semua senjata-senjata itu kepada aparat keamanan," katanya. Pangdam yakin, bila itu bisa berjalan seiring dengan kesadaran warga masyarakat, setidaknya akan memperkecil sekaligus dapat menghentikan kerusuhan Ambon yang akan memasuki tahun kedua ini. "Dengan kondisi ini, masyarakat tidak akan saling menyerang, karena senjata yang dimiliki dan digunakan untuk menyerang kelompok lainnya selama ini sudah diserahkan kepada aparat keamanan. Beta (saya) sudah bilang berulang kali agar masyarakat menyerahkan semua senjata yang dimilikinya," tambah Pangdam. HARIAN SIWALI MA & YAYASAN SAGU Solidaritas Anak Negeri Maluku
