In a message dated 01/07/2000 4:16:59 AM !!!First Boot!!!,
[EMAIL PROTECTED] writes:
<< Semoga bersatunya seluruh Partai Islam akan menjadi titik awal baru
Indonesia. Sebuah titik perjuangan baru menghadapi musuh - musuh Islam,
orang - orang Munafik, orang - orang buta hati dan pikiran, orang - orang
yang menggunting dalam lipatan dengan berkata manis tetapi memiliki pikiran
busuk dan jahat.
>>
Salam!
Jika Partai Islam Bersatu itu betul-betul terbentuk, ini berarti "setback".
Baik bagi politik Islam maupun politik Indonesia sendiri. Sekterianisme
seperti ini bukanlah jawaban kondusif terhadap pelbagai persoalan di tanah
air saat ini. Saya yakin jika Amien Rais (Mosok sih, AR mau ikutan bikin
partai Islam?) dkk jernih dan komprehensif membedah persoalan politik bangsa
kita, masalahnya bukan terletak pada kebersatuan parpol Islam.
Kita memang pilu atas peristiwa Maluku dll, tapi janganlah sampai terlalu
sensitif sehingga menyimpulkan terjadinya Peristiwa Maluku adalah disebabkan
ketiadaan persatuan partai Islam. Logikanya dimana? Apakah kalau
partai-partai Islam bersatu itu ada maka persoalan semacam Maluku langsung
sirna?
Padahal penyebab terjadinya Peristiwa Maluku, menurut saya adalah:
1. Lemahnya penerapan hukum.
2. Merosotnya wibawa Pemerintah Pusat di mata rakyat.
3. Anjloknya moral TNI dan Polri
4. Kegagalan strategi pembangunan ekonomi di daerah-daerah.
5.Rapuhnya masyarakat madani, LSM-LSM loyo dan tidak bergigi, tokoh-tokoh
agama gagal memberikan pencerahan dan ketenangan kepada umat-umat mereka, dan
masyarakat kehilangan orientasi politik dll.
6. Efektifnya politik pusat mengebiri potensi dan institusi-institusi lokal--
baik dalam perspektif budaya, politik maupun ekonomi.
7. Silahkan tambah sendiri.
8. Poin 1 s/d 7 sama sekali tidak mengindikasikan kepartaian Islam sebagai
salah satu variabel signifikan memetakan konstelasi politik tanah air saat
ini.
salam,
RAP
"penyimak pinggiran"