Inilah kebiadaban pasukan crusader versi baru dewan gereja. Perlu dicatat
bahwa para transmigran ini mula-mula mendapat jaminan dari pasukan merah
(yaitu pasukan kristen) yaitu tidak akan diapa-apakan, karena mereka hanya
mencari muslim setempat dan muslim dari Sulsel.

Dapat dicermati bahwa hal ini adalah upaya pemecahan potensi musuh. Setelah
mereka mampu membantai muslim setempat dan muslim asal Sulsel, maka tentu
saja mereka sudah siap untuk membantai muslim transmigran dari Jawa
tersebut.

Agar anda tahu bagaimana strategi pasukan kristen, ada analogi yg tepat.
Pada saat si para keparat pembunuh bangsa Spanyol tiba, terdapat satu orang
yg maniak dan meminta ijin rajanya untuk dibekali pasukan untuk ekspedisi
demi kejayaan SPanyol dan kristen (katolik waktu itu). Oleh raja Spanyol
hanya dibekali 200 orang karena agak ragu dengan kewarasan orang ini. Dengan
tipu muslihat semacam itu, maka 200,000 pasukan Inca tidak berdaya waktu
rajanya ditawan. Akhirnya rajanya dibunuh, dan ratusan ribu Indian Inca
musnah dibantai. Si keparat ini sekarang masuk dalam daftar 100 orang
militer terbesar di dunia sepanjang masa. Istana Spanyolpun demikian indah
hasil jarahan emas dan intan permata dari kuil-kuil Inca. Turut lenyap dari
peradaban adalah muslim-muslim Indian yg sudah mulai ada di sana. (Ini
bahasan lain mengapa Columbus yg juga didampingi pendeta dalam membunuh dan
memperkosa tidak pantas disebut penemu benua Amerika).

Sekarang muslim Maluku dibegitukan setelah muslim di Sambas digoroki. Entah
di mana lagi akan muncul hal seperti di bawah ini.


JA

-------------------
>From: Suhendri <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Inna Lillahi Wa Inna Ilahi Rojiun
>Date: Tue, 18 Jan 2000 16:10:35 +0700
>
>   Republika Online edisi:
>      17 Jan 2000
>
>
>                         Kepolisian Benarkan 216
>Transmigran Dibantai
>                         di Masjid Maluku Utara
>
>                         TERNATE -- Pejabat
>kepolisian di Maluku Utara
>membenarkan
>                         sebanyak 216 warga
>transmigrasi asal Pulau Jawa
>yang
>                         ditempatkan di UPT
>Togoliuwa, Kecamatan Tobelo,
>telah tewas
>                         di masjid akibat diserang
>oleh massa merah
>(Kristen) dalam
>                         pertikaian antarwarga
>akhir Desember lalu di bagian
>utara Pulau
>                         Halmahera.
>
>                         Warga Muslim Tobelo yang
>tewas pada tragedi itu
>tercatat
>                         sementara 464 jiwa. Dari
>jumlah itu, 254 kedapatan
>tewas di Desa
>                         Togoliuwa -- lokasi
>penempatan transmigran asal
>Pulau Jawa --
>                         dan terbanyak di masjid.
>''Memang benar 216 jiwa
>warga Muslim
>                         itu tewas di (dalam dan
>halaman) masjid di Desa
>Togoliuwa,'' kata
>                         Kapolres Maluku Utara
>Letkol Pol Drs Didik
>Prijandono, di
>                         Ternate, Ahad (16/1)
>menanggapi kesimpangsiuran
>jumlah korban
>                         kerusuhan.
>
>                         Ratusan korban tersebut
>dimakamkan secara massal
>oleh aparat
>                         kepolisian dan anggota
>Brimob dari Kalimantan
>Selatan dan Timur
>                         di bawah pimpinan
>Wakapolres Maluku Utara. Mereka
>yang
>                         menjadi korban pertikaian
>itu umumnya anak-anak,
>perempuan,
>                         dan orang tua yang justru
>tidak tahu masalah,
>apalagi mereka
>                         adalah transmigran yang
>ditempatkan pemerintah di
>sana untuk
>                         mengubah hidup.
>
>                         Kapolres mengakui jumlah
>korban pertikaian antara
>warga di
>                         Kecamatan Tobelo, Calola,
>Jailolo, dan Pulau
>Halmahera Utara
>                         akhir Desember lalu,
>hingga kini masih simpang siur
>dan
>                         menimbulkan berbagai versi
>dari masyarakat provinsi
>termuda di
>                         Indonesia itu.
>
>                         Menurut laporan terakhir
>Majelis Ulama Indonesia
>(MUI) Maluku
>                         Utara, korban kerusuhan
>SARA di kawasan Halmahera
>Utara
>                         mencapai 991 orang, 1.702
>luka berat dan ringan,
>421 korban
>                         tewas lainnya terdapat di
>Tobelo. Setidaknya 70-80
>persen dari
>                         mereka tewas dalam
>pertikaian itu anak-anak,
>perempuan, dan
>                         orang tua.
>
>                         Kapolres Didik Prijandono
>mengatakan pihaknya telah
>melakukan
>                         pendataan terhadap korban
>kerusuhan di Halmahera
>Utara
>                         terutama Tobelo, Galela,
>Jailolo, Ibu, dan Sahu.
>Jumlah korban
>                         yang ditemukan oleh aparat
>kepolisian tercatat 754
>orang, 464 di
>                         antaranya di Kecamatan
>Tobelo.
>
>                         Walaupun menghitungnya
>sulit, namun Wakapolres dan
>satuan
>                         Brimob dari Kalimantan
>terus berupaya mendatanya.
>Ke-754
>                         orang itu merupakan
>laporan sementara para Kapolsek
>yang
>                         wilayahnya dilanda
>kerusuhan. ''Kemungkinan laporan
>dari MUI
>                         setempat bisa saja benar
>karena ada beberapa desa
>yang belum
>                         dijangkau aparat
>keamanan,'' kata Didik.
>
>                         Kemarin, menurut laporan
>wartawan, suasana Tobelo
>dan Galela
>                         terlihat masih mencekam,
>meski ribuan TNI/Polri
>telah
>                         ditempatkan di daerah
>konflik maupun rawan konflik.
>Sementara
>                         di Kecamatan Jailolo, Ibu,
>dan Sahu juga masih
>terus terjadi
>                         letupan. Warga non-Muslim
>di kawasan tersebut
>berupaya
>                         menyelamatkan diri ke
>daerah yang relatif aman.
>
>
>                         Pertikaian antarwarga,
>kemarin, terjadi di
>Kecamatan Lihitu,
>                         Maluku Utara. Warga Desa
>Hitu dan Desa Wakal --
>keduanya
>                         desa Muslim -- terlibat
>bentrok, diduga karena
>salah paham. Lima
>                         orang dilaporkan tewas
>dalam bentrokan ini.
>Sekretaris Pokja
>                         MUI Maluku Malik Selang
>mengatakan telah
>menghubungi
>                         posko-posko di Hitu dan
>Wakal. ''Mereka menyesali
>kehilafan itu,
>                         dan berjani akan
>menyelesaikannya secara
>kekeluargaan,''
>                         katanya.
>
>                         Pertikaian, juga pecah
>lagi di Pulau Seram. Warga
>Desa Alang
>                         Asande dan Desa Buanom,
>Kecamatan Seram Barat II,
>terlibat
>                         saling serang. Seorang
>warga Desa Buanom kini
>terbaring di
>                         Puskesmas karena
>luka-luka. Aparat keamanan
>cepat-cepat
>                         bertindak sebelum jatuh
>korban tewas. ''Pasukan
>telah melakukan
>                         penyekatan,'' kata Pangdam
>XVI/Pattimura Brigjen
>TNI Max
>                         Markus Tamaela.
>
>                         Melalui keterangan pers di
>kediamannya, kemarin,
>Pangdam
>                         mengatakan aparat keamanan
>telah menangkap seorang
>oknum
>                         anggota Kopassus yang
>diduga terlibat dalam konflik
>di Ambon.
>                         ''Dia sekarang ditahan di
>Pondam XVI/Pattimura,''
>katanya.
>                         ''Kasus ini akan
>diselidiki dan diproses lebih
>lanjut,'' tambahnya.
>
>                         Sampai Ahad (16/1), lima
>Batalyon dan Satu Kompi
>Brimob telah
>                         dikerahkan ke Maluku Utara
>guna mengamankan kawasan
>Pulau
>                         Halmahera dan beberapa
>pulau yang dinilai rawan
>konflik.
>                         Pasukan Infatri 501
>Kostrad Madiun yang tiba di
>Tarnate, Jumat
>                         lalu, direncanakan akan
>ditempatkan di Halmahera
>Tengah.
>
>                         Bergejolak
>
>                         Meski pemerintah telah
>berupaya menghentikan,
>dengan cara
>                         mendatangkan pasukan
>keamanan dari berbagai
>Batalyon, namun
>                         kerusuhan yang terjadi di
>daerah-daerah Maluku
>Utara masih
>                         terus bergejolak. Pangdam
>XVI/Pattimura, Brigjen
>Max Tamela,
>                         yang mencoba memberlakukan
>jam malam dan pelucutan
>senjata
>                         tajam ternyata belum juga
>dapat melaksanakannya.
>
>                         Banyak kalangan yang
>menganggap pemberlakuan jam
>malam
>                         belum pantas untuk daerah
>Ternate, karena dinilai
>daerah itu
>                         masih dalam keadaan aman.
>Ketua Partai Bulan
>Bintang
>                         setempat, Anwar Ibrahim,
>mengatakan pemberlakuan
>jam malam
>                         di daerah Ternate
>sebaiknya dipertimbangkan
>kembali.
>
>                         ''Kota kita ini masih
>cukup aman. Pemberlakuan jam
>malam dan
>                         pelucutan senjata hanya
>perlu diberlakukan di
>daerah pertikaian,''
>                         kata Anwar yang juga
>menjadi anggota Dewan
>Perwakilan
>                         Rakyat Tingkat I Maluku
>Utara. Selain itu, untuk
>menyelesaikan
>                         permasalahan hingga
>tuntas, katanya, ''Kita tidak
>mungkin
>                         mengharapkan dari keamanan
>saja, mestinya dari
>kedua belah
>                         pihak untuk duduk dan
>membicarakan secara
>bersama.''
>
>                         Menyinggung tentang
>keterangan yang disampaikan
>Presiden Gus
>                         Dur bahwa jumlah korban
>yang tewas di Kecamatan
>Galela
>                         berjumlah lima orang,
>Anwar mengatakan mestinya Gus
>Dur
>                         mencermati dulu kebenaran
>laporan yang sampai
>kepadanya.
>                         ''Karena keterangan yang
>disampaikan hanya sepihak,
>sementara
>                         faktualnya tidak,''
>tambahnya.
>
>
>                         Pengungsi bertambah
>
>                         Arus pengungsi korban
>kerusuhan bernuansa SARA di
>                         Kecamatan Tobelo, Galela,
>Ibu, Sahu, Jailolo
>(Maluku Utara), dan
>                         beberapa kecamatan di
>Kabupaten Halmahera Tengah,
>yang
>                         semula diperkirakan lebih
>dari 50 ribu orang hingga
>Ahad
>                         dilaporkan bertambah
>menjadi 76.734 jiwa.
>
>                         Hasil pendataan yang
>dilakukan Lembaga Swadaya
>Masyarakat
>                         (LSM) Mitra Sejahtera
>Ternate menyebutkan belum ada
>angka
>                         pasti berapa warga yang
>mengungsi ke Kotamadya
>Ternate dan
>                         Pulau Tidore, Kabupaten
>Halmahera Tengah.
>
>                         ''Tidak ada angka pasti,
>karena jumlah itu
>merupakan pendataan
>                         sementara, tetapi
>setidaknya 70 sampai 80 persen
>dari mereka
>                         adalah anak-anak,
>perempuan, dan orang tua,'' kata
>Ketua LSM
>                         Mitra Sejahtera, Mohamad
>Bahmid, di Ternate, Ahad.
>
>                         Gelombang pengungsi asal
>Halmahera Utara dan Tengah
>yang
>                         didata oleh LSM Mitra
>Sejahtera (13/1) itu, 16.753
>jiwa di
>                         antaranya menempati
>sejumlah tenda dan gedung
>pemerintahan
>                         yang telah disediakan
>Pemda Maluku Utara di Pulau
>Tidore.
>
>                         Menurut Bahmid, angka
>tersebut belum termasuk
>mereka yang
>                         mengungsi ke Pulau Morotai
>dan beberapa daerah yang
>dianggap
>                         relatif aman. Gelombang
>pengungsi dari Kecamatan
>Tobelo,
>                         Galela, Ibu, Sahu,
>Jailolo, dan Loloda yang
>jumlahnya melebihi 76
>                         ribu jiwa itu, belum
>semuanya mendapat hak mereka
>sebagai
>                         pengungsi.
>
>                         Selain itu, LSM Mitra
>Sejahtera dalam hasil
>penelitian dan
>                         pendataan di beberapa
>tempat pengungsian, menemukan
>ribuan
>                         karyawan kini kehilangan
>pekerjaan karena jumlah
>perusahaan
>                         swasta telah menutup
>kegiatannya. ''Yang lebih
>menyedihkan
>                         hasil pertanian seperti
>kakao, kopra, dan pala,
>terpaksa dibiarkan
>                         telantar karena petani
>menjadi pengungsi,''
>lanjutnya.
>
>                         ''Hari ini mereka masih
>bertahan dengan bantuan
>baik dari
>                         pemerintah maupun
>masyarakat, tetapi dua sampai
>tiga bulan
>                         mendatang pasti
>menimbulkan masalah baru karena
>persoalan
>                         makan dan minum,''
>tambahnya. ''Inilah yang perlu
>dipikirkan oleh
>                         pemda setempat maupun
>pemerintah pusat, sebab
>ketika perut
>                         lapar terpaksa berbuat apa
>saja,'' katanya.
>
>                         Wartawan Antara di Ternate
>melaporkan kondisi
>kesehatan
>                         sekitar 76.234 pengungsi
>asal Pulau Halmahera
>bagian Utara di
>                         Kotamadya Ternate saat ini
>dikabarkan
>memprihatinkan karena
>                         mulai kekurangan pangan
>dan dikhawatirkan terserang
>berbagai
>                         penyakit.
>
>                         Para pengungsi yang masih
>menempati tempat
>penampungan
>                         sementara, seperti di
>mesjid, gedung sekolah, rumah
>penduduk,
>                         dan bioskop, menunggu
>bantuan dan uluran tangan.
>
>                         Putus sekolah
>
>                         Mulai Senin (17/1)
>sekolah-sekolah yang menjalani
>liburan selama
>                         bulan Ramadhan 1420
>Hijriah, akan dibuka kembali,
>sementara
>                         gedung sekolah itu masih
>ditempati pengungsi. Jika
>gedung
>                         sekolah itu dipergunakan
>bagaimana dengan nasib
>ribuan
>                         pengungsi itu.
>
>                         Sampai berita ini
>diturunkan, Pemda Maluku Utara
>belum
>                         memikirkan nasib ribuan
>anak sekolah yang saat ini
>berada di
>
>                         pengungsian. Mereka
>terancam putus sekolah karena
>fasilitas
>                         pendidikan yang dibangun
>pemerintah kini tinggal
>puing-puing.
>
>                         Departemen Pendidikan
>Nasional belum memperoleh
>angka pasti
>                         anak sekolah mulai tingkat
>SD sampai SMU ang
>terancam putus
>                         sekolah akibat kerusuhan
>di Pulau Halmahera Utara
>itu.

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke