Aksi Sejuta Umat 
--------------------- 

Mungkin karena hobinya yang dengan cepat berubah-ubah 
sedemikian cepat, Amien Rais mengira orang lain juga 
memiliki �keajaiban� yang sama dengan dirinya. Oleh 
karena itu, dalam aksi sejuta umat di lapangan Monas, 
Jakarta, baru-baru ini, dia sempat mengultimatum 
Presiden Gus Dur untuk dalam tempo satu sampai dua 
minggu menyelesaikan kasus Ambon. Padahal dia sendiri 
mengakui, dan kita semua sepakat bahwa kasus Ambon 
sudah terlampau parah. Bagaimana bisa suatu kasus yang 
sedemikian pelik bisa diselesaikan dalam tempo 
sedemikian singkat? 

Kalau seseorang sudah maklum sendiri bahwa suatu 
pekerjaan atau suatu persoalan tidak mungkin bisa 
diselesaikan dalam tempo tertentu (singkat), tetapi 
dia tetap mengatakan kepada orang lain itu untuk 
melakukannya juga pekerjaan/menyelesaikan persoalan 
itu dalam tempo yang sedemikian, kalau tidak, akan 
dikenakan semacam suatu sanksi atau konsekuensi 
tertentu. Berarti sama saja dengan dia memang sengaja 
menjerumuskan orang tersebut supaya kelihatan gagal, 
atau tidak mampu. 

Ketika Gus Dur balik bereaksi keras atas 
ultimatum-ultimatum Amien dengan kelompok Poros Tengah 
yang melakukan Aksi Sejuta Umatnya di lapangan Monas 
itu, nyali mereka ciut, dan semua yang terlibat di 
sana buru-buru angkat bicara menyangkal semua fakta 
yang sudah disaksikan di depan mata publik itu. Mereka 
mengira publik itu buta, atau bodoh. Sehingga akan 
begitu saja percaya dengan penyangkalannya itu. 

Sedangkan pihak yang membela, termasuk beberapa media 
cetak, seperti Republika, Adil, Forum Keadilan, dan 
beberapa media cetak sepaham, antara lain mengatakan 
bahwa reaksi Gus Dur terhadap Aksi Sejuta Umat terlalu 
berlebihan. Dan bahwa apa yang disampaikan oleh Gus 
Dur merupakan suatu kritikan dan semacam warning 
kepada pemerintah agar selekasnya menyelesaikan 
masalah tersebut. Yang menjadi pertanyaan bagi kita 
adalah apabila benar itu merupakan suatu kritikan 
apakah layak dilakukan dengan cara-cara memanas-manasi 
massa, menggunakan idiom-idiom agama, seolah-olah yang 
terjadi di Maluku benar-benar perang agama, dan malah 
secara tak langsung mengajak massa untuk membalas 
dendam? Apabila mereka benar-benar berniat baik, 
mengapa mereka tidak mendesak Gus Dur untuk melakukan 
dialog langsung secara baik-baik? Apabila mereka 
bermaksud baik, ketika mereka mengatakan Gus Dur harus 
menyelesaikan masalah tersebut secepatnya, mengapa 
mereka tidak mencoba memberi solsui (sumbang saran), 
tetapi ini hanya mendesak dan mendesak, tetapi sama 
sekali tidaj memberi saran-saran/solusi 
(masukan-masukan), selain mengatakan mendesak dan 
memberi ultimatum segala. 

A.M. Fatwa mengkritik balik Matori Abdul Djalil yang 
mengatakan Amien Rais secara moral sudah dapat 
dikatakan provokator kerusuhan di Mataram dan 
Makassar. Kata dia, seperti yang bisa kita baca di 
detik.com (20 Januari 2000) adalah Matori tidak pantas 
mengeluarkan kalimat demikian sementara dia adalah 
salah satu Wakil Ketua MPR. Seharusnya, kata Fatwa, 
sebagai Wakil Ketua MPR sebelum mengeluarkan 
pernyataannya itu Matori berbicara dalam sidang MPR, 
atau berdiskusi dengan anggota MPR lain. Pertanyaannya 
kita adalah sebagai Ketua MPR, dalam mengeluarkan 
orasinya di Aksi Sejuta Umat itu, apakah Amien Rais 
sendiri sudah melakukan hal yang sama yang dituntut 
Fatwa kepada Matori? Kenyataannya: Sama sekali tidak! 

  

Amien Rais, Hamzah Haz, Achmad Soemargono, dan 
kawan-kawan menyangkal telah memberi ultimatum kepada 
Gus Dur. Menyangkal telah menggalang kekuatan massa 
untuk melakukan manuver politiknya, menyangkal telah 
memanas-manasi rakyat, menyangkal ingin mengusur Gus 
Dur, dan seterusnya. Dan ujung-ujungnya pihak ketiga 
yang dijadikan kambing hitamnya pula. Kata mereka, 
reaksi Gus Dur itu karena telah dibisiki (baca: 
dihasut) orang-orang dekat Gus Dur untuk mengadu domba 
Gus Dur dengan Amien Rais dan kelompok Poros Tengah, 
serta mengadu domba NU dengan Muhammadiyah (kata 
Amien). Amien mengeluarkan pernyataan seperti ini (ada 
pihak yang mau mengadu domba NU dengan Muhammadiyah), 
cenderung sebagai upaya untuk memanfaatkan kedua 
institusi besar itu untuk melindungi kepentingan 
pribadinya yang terasa terpojok setelah ada reaksi 
balik dari Gus Dur. Walaupun tidak menyebut siapa yang 
mereka maksud, orang pun tahu yang dimaksud mereka 
Amien Rais dan Poros Tengahnya) adalah orang-orang PDI 
Perjuangan dan PKB. Karena merekalah yang paling dekat 
dengan Gus Dur saat ini. 

Apakah publik percaya dengan pengkambinghitaman mereka 
kepada pihak ketiga? Hampir pasti tidak. Sebab 
tudingan mereka itu sama sekali tidak bergema dalam 
masyarakat. Masyarakat tidak memperdulikan tudingan 
para tokoh Poros Tengah itu, karena memang tidak 
percaya. Lihat saja kambing hitam mereka sama sekali 
tidak laku di tengah masyarakat; hilang tak berbekas. 

Pernyataan bahwa Gus Dur bereaksi salah karena dihasut 
oleh orang-orang dekatnya, sama artinya secara tak 
langsung mereka melecehkan Gus Dur. Mengatakan bahwa 
kebijakan-kebijakan Gus Dur itu karena dihasut oleh 
pihak ketiga (PDI Perjuangan dan PKB), sama artinya 
dengan mereka hendak mengatakan Gus Dur tidak 
mempunyai prinsip, tidak mempunyai visi, bodoh dan 
lemah. Karena hanya dengan demikian maka Gus Dur akan 
dengan gampang dibisiki/dihasut. Seolah-olah Gus Dur 
selalu gampang disetir oleh orang-orang PDI Perjuangan 
dan juga PKB. Padahal kita semua tahu orang seperti 
apa Gus Dur itu, yang sama sekali tidak gampang 
dipengaruhi orang lain. Dengan wataknya yang demikian, 
maka Gus Dus dikenal sebagai berkarakter yang 
kontroversial, yang selalu bersikap lain daripada 
kebanyakan orang yang suka ikut arus saja. 

Amien Rais menyangkal dia bersama tokoh-tokoh Poros 
Tengah lainnya, telah memberi ultimatum kepada 
pemerintahan Gus Dur Malah kemudian mengatakan dialah 
yang akan menjadi orang pertama menghadapi setiap 
usaha untuk menjatuhkan Gus Dur. Bahwa dialah orang 
pertama yang berjuang mempertahankan Gus Dur sebagai 
presiden sampai 2004. Padahal dengan jelas kita semua 
dengar dan baca, di televisi dan media cetak lainnya, 
bahwa dengan terang dan tegas Amien Rais berkata 
memberi peringatan keras kepada Gus Dur agar dalam 
tempo paling lama satu sampai dua minggu agar 
menyelesaikan kasus Ambon, menghentikan pembasmian 
terhadap umat Islam di Maluku dan Halmahera. Apabila 
sampai masa itu belum juga diselesaikan, maka jangan 
disalahkan kalau ada reaksi balik keras dari umat 
Islam. Maka umat Islam bisa mengambilalih 
penyelesaiannya. Yang kemudian disambut dengan seruan: 
�Jihad! Jihad!, Allahu Akbar! Allahu Akbar!� 
berulang-ulang. Apakah pernyataan seperti ini bukan 
merupakan suatu ultimatum? Bukan malah memanas-manasi 
rakyat? 

Ketua Aksi Sejuta Umat itu Al Chaidar juga antara 
lain berseru, �Seandainya Gus Dur tidak peduli dengan 
kasus Ambon, sebaiknya dengan legowo mengundurkan 
diri!� 

Ketika ini disinggung, Amien membelanya, dan 
menyangkalnya dengan mengatakan itu hanya merupakan 
cara anak muda menyampaikan aspirasinya (Gatra No. 10, 
22 Januari 2000). 

Begitu juga dengan ketika disinggung, bagaimana dengan 
ucapan Achmad Soemargono ketika itu, yang mengatakan 
apabila dalam batas waktu 30 hari Gus Dur dan 
Megawati tidak sanggup menyelesaikan kasus Ambon, maka 
wakil-wakil umat Islam di DPR akan menyampaikan mosi 
tidak percaya. �Kalau Gus Dur Dur dan Megawati tidak 
dapat menghentikan pembantaian umat Islam di sana 
dalam tempo 30 hari mulai tanggal 1 Syawal 1420, 8 
Januari 1999 ini, saya beserta wakil-wakil umat Islam 
di DPR akan mengajukan mosi tidak percaya lewat Ketua 
MPR,� serunya. 

Pernyataan ini merupakan suatu kesalahan fatal yang 
seharusnya tidak dilakukan seorang politikus yang 
Ketua Umum partai politik (Partai Bulan Bintang). 
Karena seharusnya dia tahu bahwa dalam sistem 
pemerintahan presidensial tidak dikenal apa yang 
disebut mosi tidak percaya itu. Mosi tidak percaya 
hanya bisa dipraktekkan di negara yang menganut sistem 
pemerintahan parlementer. Di mana pernyataan mosi 
tidak percaya dapat menjatuhkan seorang Perdana 
Menteri bersama kabinetnya. 

Mungkin saja, Achmad Soemargono baru tahu hal ini, 
ketika pernyataannya ini buru-buru dikoreksi oleh 
salah satu Ketua DPP PBB Hartono Mardjono, yang juga 
menambahkan bahkan itu pernyataan pribadi dari Achmad 
Soemargono. Maka, Achamad pun buru-buru mengatakan 
bahwa pernyataannya itu tidak sungguh-sungguh. 
Melainkan hanya semacam warning bagi Gus Dur. Achmad 
juga menambahkan alasan seperti itu, ketika ditanya 
wartawan. �Itu hanya warning bagi pemerintahan Gus 
Dur, sebab sistem mosi tidak percaya tidak mungkin 
diterapkan dalam sistem pemerintahan kita,� katanya 
kepada wartawan yang mewawancarainya. 

Bagaimana bisa alasan itu dia kemukakan, kalau sedari 
mula tahu bahwa mosi tidak percaya tidak dikenal dalam 
sistem pemerintahan seperti di Indonesia ini? Sesuatu 
yang tidak mungkin dipraktekkan sama sekali tidak bisa 
dijadikan bahan atau alat untuk menekan (meng-warning) 
pihak lain. 

Dengan perkataan lain apabila Achmad Soemargono sudah 
sejak semula tahu bahwa mosi tidak percaya tidak 
mungkin dipraktekkan, mustahil dia meng-warning 
(meminjam istilahnya) pemerintahan Gus Dur, dengan 
"gertakan" mosi tidak percaya itu. Bagaimana bisa, 
sesuatu yang tidak mungkin dipraktekkan, kita gunakan 
untuk menggertak orang? Satu kemungkinan yang ada: 
tadinya dia tidak mengerti kalau mosi tidak percaya 
tidak bisa dipraktekkan di Indonesia. Dia baru tahu 
setelah ada pernyataan dari temannya Hartono Mardjono. 
Jika ini yang terjadi, merupakan sesuatu yang ironi, 
mengingat dia merupakan politikus dan ketua umum 
partai politik (PBB). 

BERSAMBUNG 

Salam 
Lion 


____________________________________________________________________
Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

Kirim email ke