Ini dia, oleh-oleh lengkap dari saudara Lion di Indopubs,
Mungkin saja rekan-rekan di permias belum pernah membacanya,
khususnya bagi Anjasmara dan CS.



Date: Wed, 19 Jan 2000 
Subject: LION - Membuka Amien Rais & Tabir Poros Tengah (1) 
To: [EMAIL PROTECTED] 

=====================Semakin lama semakin kelihatan 
siapa sebenarnya Amien Rais bersama dengan kelompok 
Poros Tengahnya. Amien Rais dan kelompok Poros 
Tengahnya itu tidak lain merupakan sekelompok 
politikus yang kekanak-kanakan, hipokrit, oportunis, 
haus kekuasaan (yang tak kunjung tercapai), 
fundamentalis, radikalis, dikombinasi dengan sikap 
yang tidak ksatria dan tidak tahu malu. Apabila mereka 
terdesak, atau berhadapan dengan kekuatan yang lebih 
kuat daripada mereka, mereka cenderung berbalik arah, 
menyangkal apa yang telah dilakukannya, dan 
mengkambinghitamkan pihak ketiga. 

Mereka juga berpolitik gaya rezim Soeharto, yakni 
mengalihperhatiankan publik ke pihak ketiga, dengan 
menuduh pihak ketiga itu melakukan hal-hal yang 
sebenarnya justru merekalah yang melakukannya. Seperti 
Soeharto, yang senantiasa melakukan rekayasa dan 
penciptaan kondisi imaji masyarakat umum agar selalu 
mempunyai perspektif buruk kepada etnis Tionghoa 
sebagai binatang ekonomi yang serakah dan perusak 
ekonomi negara, sementara penyebab utama rusaknya 
ekonomi rakyat justru penanggung jawab utamanya adalah 
pihaknya sendiri beserta keluarga dan para kroninya 
(yang di dalamnya ada juga beberapa pengusaha etnis 
Tionghoa bermental penjilat). Ketika ekonomi negara 
terguncang, maka bukan dia yang disalahkan dan 
dijadikan sasaran kemarahan rakyat, tetapi senantiasa 
etnis Tionghoa itu. 

Demikian juga yang mirip-mirip yang dilakukan oleh 
kelompok Poros Tengah ini. Mereka menuduh pihak 
ketiga, yakni PDI Perjuangan bermaksud membiarkan dan 
mengharapkan Presiden Gus Dur jatuh sakit sampai tidak 
bisa menjalankan kekuasaannya sehingga diambilalih 
oleh Megawati beserta PDI Perjuangannya, tetapi yang 
sebenarnya merekalah yang sedang bergerilya demikian. 
Indikasinya adalah manuver-manuver dan 
fenomena-fenomena yang dilakukan oleh kelompok mereka 
itu, yang akan saya ulas dalam posting kali ini. 
Bahkan skenario ini sudah mereka rancang sejak mereka 
memutuskan mencalonkan Gus Dur sebagai presiden, 
setelah jagoan mereka B.J. Habibie keok. 

Amien Rais bersama kelompok Poros Tengahnya itu, 
ibarat sekelompok serigala berbulu domba. Pada awalnya 
mereka bisa bermain cukup baik sebagai domba-domba. 
Tetapi ketika, semakin lama ambisi tersembunyi mereka 
tak kunjung tercapai, mereka sudah mulai tidak 
sabaran, dan mulai bermain kasar, sehingga tanpa sadar 
kelihatanlah apa yang ada di balik bulu domba yang 
mereka kenakan itu. Akhir-akhir ini manuver-manuver 
mereka semakin lama secara tidak sadar malah 
menelanjangi jati diri mereka sebenarnya yang begitu 
dahaga terhadap kekuasaan, yang tak kunjung dicapai. 
Mereka tidak hanya haus kekuasaan, tetapi juga 
mempunyai ambisi untuk mendirikan suatu negara 
berasaskan Islam. Untuk itu mereka bisa menghalalkan 
segala cara, termasuk melakukan langkah-langkah 
kompromis dan kongkalikong dengan pihak-pihak yang di 
atas permukaan saja kelihatannya mereka musuhi. 
Tetapi, di belakangnya mereka rangkul dan diajak 
kerjasama demi tujuan tersebut, baik secara 
terang-terangan maupun terselubung: Golkar dan TNI. 

Kita masih ingat, kelompok ini, termasuk pentolannya, 
Amien Rais, tempo hari adalah paling nomor satu 
menghujat Golkar dan TNI. Terutama menjelang Pemilu 
lalu. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Merekalah yang 
pertama kali merangkul Golkar dalam Sidang Umum MPR 
lalu, dan sekarang mereka malah menjadi pembela 
jenderal-jenderal TNI yang dulu termasuk paling 
dihujat (terutama Wiranto). Ketika jenderal-jenderal 
tersebut hendak diperiksa atas kecurigaan keterkaitan 
mereka dalam pelanggaran-pelanggaran HAM di Timor 
Timur, kelompok ini termasuk yang melakukan pembelaan 
dan malah balik mengecam Komnas HAM yang dinilai 
berlebihan, prejudice, diskriminasi, dan sebagainya. 
Begitu juga dengan kecurigaan adanya unsur-unsur 
tertentu dalam TNI (bukan TNI sebagai lembaga) yang 
hendak melakukan kudeta, Amien Rais tiba-tiba berdiri 
di tengah-tengah membela Wiranto cs yang memang paling 
dicurigai akan melakukan demikian. Dengan lagi-lagi 
menuding pihak ketiga (kali ini Amerika Serikat) yang 
hendak memperkeruh suasana, hendak memecah-belah 
Indonesia, tudingan tanpa dasar, mengadudomba, 
pemerintah yang paranoid, dan sebagainya. 

Sejak Semula Meragukan 

Sejak semula saya sudah meragukan sikap-sikap yang 
dipamerkan Amien Rais sebagai sosok reformis, 
demokratis, dan nasionalis seperti yang sering 
dikumandangkan oleh dirinya sendiri, maupun media 
massa Indonesia. Kalau Anda mengikuti posting-posting 
saya tentang Amien Rais di milis ini (sejak 1997), 
betapa akan terlihat bahwa apa yang saya ulas tentang 
sosok Amien Rais itu kini menjadi kenyataan. Bahwa 
Amien Rais tidak ada bedanya dengan tokoh-tokoh 
semacam Hamzah Haz, Achmad Sumargono, Eggy Sudjana, 
Yusril Ihza Mahendra, dan lain-lain. Mereka adalah 
tokoh-tokoh Islam fundamentalis, radikal, antiKristen, 
antiYahudi, antiAmerika Serikat, termasuk antiCina. 
Kelebihan dari Amien Rais adalah dia rupanya lebih 
pandai menutup rapat bulu domba yang dikenakan 
ketimbang rekan-rekannya yang lain. 

Bagaimana bisa seorang yang sejak semula dikenal 
sebagai fundamentalis, radikalis, antiKristen, 
antiYahudi, antiAmerika Serikat itu bisa sedemikian 
mendadak, sim salabim, berubah menjadi tokoh yang 
reformis, demokratis, nasionalis? Yang tiba-tiba, -- 
bahkan lebih ajaib daripada lampu aladin -- berubah 
menjadi tokoh yang bersahabat, merangkul, dan 
mengayomi pihak-pihak yang tadinya begitu diantinya? 
Sama halnya dengan perilakunya yang dulu termasuk 
dekat dengan Soeharto bersama ICMI-nya, secara 
mendadak berubah menjadi vokalis dan penantang 
Soeharto. Tak heran Soeharto begitu membencinya. Tak 
ada orang yang begitu dibenci seseorang, selain jika 
ada sahabatnya yang tiba-tiba mengkhianatinya. 

Dalam sebuah legenda klasik Djengis Khan, ada sebuah 
cerita tentang seorang prajurit dari kerajaan Cina 
yang berkhianat terhadap negaranya, sehingga 
memungkinkan Djengis Khan berhasil menghancurkan 
pasukan dari kerajaan Cina tersebut. Ketika menghadap 
sang Khan untuk meminta imbalannya, sang Khan 
memberikannya sejumlah hadiah dan jabatan tinggi dalam 
jajaran pasukannya, dan kemudian berkata kepadanya: 
�Engkau seorang prajurit yang licik dan berbahaya, 
dengan mudah engkau berkhianat terhadap Rajamu untuk 
memperoleh semua imbalan ini. Maka, bukan tak mungkin 
kelak engkau akan dengan mudah berkhianat kepada aku 
juga!� Kemudian sang Khan memerintahkan algojonya 
untuk memenggal kepala sang pengkhianat itu! 

Ilustrasi di atas mencerminkan tentang berbahayanya 
mentalitas dari orang-orang yang begitu mudah berubah 
sikap dari pendukung menjadi penentang, dari orang 
dekat (sahabat) menjadi pengkhianat. Ini merupakan 
mental dari orang-orang yang disebut oportunis sejati. 
Meraka tak akan segan-segan untuk meninggalkan tuannya 
untuk mendukung tuannya yang baru yang dirasakan akan 
lebih menguntungkan. Nanti kalau tuan yang baru itu 
dalam posisi yang tak menguntungkan, maka akan dengan 
mudah juga ditinggalkan dan dikhianati untuk beralih 
ke tuan yang lain lagi. Atau malah berkhianat demi 
ambisinya sendiri untuk menjadikan dirinya sebagai 
tuan itu sendiri. 

Sedikit banyak fenomena seperti ini terjadi pada 
orang-orang yang bergabung dalam Poros Tengah. Sewaktu 
Soeharto masih kuat, mereka termasuk para pendukung 
Soeharto (banyak dari mereka yang bergabung juga dalam 
ICMI, yang didirikan oleh anak emas Soeharto, Habibie. 
Selain itu Soeharto juga termasuk Ketua Kehormatan di 
sana). Setelah Soeharto rapuh, mereka berbalik 
ikut-ikutan menghantamnya, mengecam dan mengcemoohnya, 
dan berpindah kepada tuan mereka yang baru, yakni 
Habibie. Bahkan bukan tak mungkin skenario jatuhnya 
Soeharto, tidak lepas dari rekayasa mereka itu juga 
yang diam-diam berkhianat dan menusuknya dari 
belakang. 

Kasus Hamzah Haz 
----------------------- 
Sampai saat-saat akhir pemilihan presiden dalam Sidang 
Umum MPR, tokoh-tokoh Poros Tengah, seperti Hamzah Haz 
dan Yusril Ihza Mahendra mengatakan bahwa mereka tetap 
berpegang pada prinsip untuk tetap mendukung Habibie 
sebagai capres (Jawa Pos, Sabtu, 2 Oktober 1999). 
Namun, ketika posisi Habibie sudah sedemikian 
terpuruk, dengan cepat mereka pun meninggalkannya, dan 
buru-buru menyeberang kepada �calon cadangan� mereka 
yang sudah disiapkan sebelumnya oleh bos mereka (Amien 
Rais), yaitu Abdurrachman Wahid alias Gus Dur. Ketika 
Gus Dur menjadi presiden, dan mencopot Hamzah Haz 
sebagai Menko Kesra dan Taskin, dengan tak punya malu 
mereka mencak-mencak, mengata-ngatai bahwa Gus Dur 
telah mengkhianati kelompok mereka. Mengatakan bahwa 
Gus Dur telah lupa jasa besar Hamzah Haz yang telah 
berjasa mengangkat Gus Dur sebagai presiden. Tanpa mau 
tahu bahwa apa yang menjadi latar belakang keputusan 
Gus Dur itu. 

Di atas saya menyebutkan �calon cadangan mereka,� 
dengan alasan bahwa ada kecurigaan kalau Gus Dur 
memang merupakan calon cadangan dalam artian bahwa 
sebenarnya mereka tidak tulus dalam pencalonannya itu, 
mereka semua mempunyai calon sebenarnya yang utama 
adalah Habibie, mantan bos mereka di ICMI, yang tetap 
bersekutu dengan mereka. Tetapi, karena melihat 
persaingan yang ketat antara Habibie dengan Megawati, 
dengan kemungkinan Habibie kalah karena semakin lama 
posisinya semakin lemah dengan berbagai skandal. Maka, 
mereka mempersiapkan calon cadangan tersebut, yang 
mereka tahu dari segi kesehatan fisik sebenarnya 
kurang layak menjadi presiden dan mungkin kelak 
gampang dikendalikan. Lebih baik lagi, setelah 
berhasil mendudukkan Gus Dur sebagai presiden, mereka 
juga berhasil meloloskan calon wakil presiden dari 
kubu mereka. Dengan harapan karena kondisi 
kesehatannya, kelak Gus Dur tidak akan mampu bertahan 
sampai habis masa jabatannya pada 2004, dan diganti 
dengan wakil presiden dari kubu mereka itu. Namun, 
skenario yang terakhir ini agak lemah, karena 
popularitas calon-calon seperti Yusril dan Hamzah 
kalah jauh dengan Megawati. Maka itu Poros Tengah 
melontarkan ide yang nyata-nyata bertentangan dengan 
UUD 1945, yakni agar wakil presiden lebih dari satu, 
dan mereka sudah mempersiapkan Akbar Tandjung, Hamzah 
Haz, dan Wiranto. 

Adalah suatu keputusan yang tepat ketika Akbar 
(Golkar), dan Wiranto (TNI) memutuskan mengundurkan 
diri dari pencalonan tersebut. Kalau mereka tetap 
ngotot dengan pencalonan tersebut selain kemungkinan 
besar kalah, juga reputasi politik mereka bisa hancur. 
Karena dianggap terlalu rakus kekuasaan dan menentang 
aspirasi rakyat. Dengan mengundurkan diri sekarang, 
lebih ada peluang bagi mereka untuk memperbaiki citra 
dalam dunia politik di mada mendatang. Lepas dari 
apakah itu kelak berhasil atau tidak. 

Untuk posisi presiden, sasarannya waktu itu, yang 
penting Mega tidak boleh lolos. Karena apabila Mega 
lolos, program-program dan gerakan-gerakan mereka yang 
begitu leluasa di era Soeharto akan sangat terancam. 
Dipakailah sentimen agama dan gender untuk menghantam 
posisi Mega. Gus Dur merupakan pilihan satu-satunya 
untuk melawan Megawati, dengan harapan karena dari 
segi kesehatan fisik Gus Dur lemah, maka lebih gampang 
untuk bisa diatur kemudian, juga Gus Dur lebih 
toleran. 

Skenario mereka agak rusak ketika ternyata yang 
terpilih sebagai wakil presiden malah Megawati. Adalah 
omong kosong ketika dua tokoh Poros Tengah, Zarkasih 
Nur dari PPP dan Nur Mahmudi dari Partai Keadilan, 
menjelang pemilihan wakil presiden, berkata di 
detik.com bahwa Poros Tengah bukan orang-orang 
serakah, karena Amien Rais sudah berhasil duduk 
sebagai Ketua MPR dan jago mereka, Gus Dur, sudah 
terpilih sebagai presiden, maka mereka akan turut 
mendukung Megawati sebagai calon wakil presiden 
(detik.com 20 Oktober 1999). Nyatanya dari jumlah 
perolehan suara waktu itu, yakni 396 untuk Megawati, 
284 untuk Hamzah Haz, dan 5 suara abstain, terlihat 
bahwa yang memberi suara kepada Hamzah masih cukup 
besar. Dari mana lagi kalau bukan dari kelompok Poros 
Tengah? Ini menunjukkan betapa sedemikian rakusnya 
kelompok ini terhadap kekuasaan. 

Ada sementara orang yang sebenarnya rakus akan 
sesuatu, tetapi dia mencoba mengendalikan diri sebelum 
memperolehnya. Maka dari luar kelihatan dia 
biasa-biasa saja. Namun, setelah ditahan sedemikian 
lama, kemudian sesuatu itu diperoleh. Maka apa yang 
diperoleh itu akan dilahap habis-habisan. Bilamana 
perlu orang lain tidak kebagian tidak perduli apakah 
orang lain itu ikut berjasa atau tidak. Dan, ketika 
ada sebagian dari sesuatu itu diambil, maka dia sudah 
telanjur kelepasan nafsunya sehingga tidak bisa 
mengendalikan dirinya untuk bersikap biasa-biasa saja 
lagi. Kali ini, dia akan mencoba merebut kembali 
secara terang-terangan dengan reaktif, atau dengan 
tanpa malu-malu minta diganti, bilamana perlu minta 
porsi yang lebih besar. Tidak mau tahu apa 
proporsional dengan pekerjaannya ataukah tidak. Yang 
penting dapat, dapat, dan dapat. 

Fenomena ini terlihat pada waktu Gus Dur mencopot 
Hamzah Haz sebagai Menko Kesra dan Taskin beberapa 
waktu lalu. PPP bersama kelompok Poros Tengah lainnya, 
tak kurang dari pentolannya yang bernama Amien Rais, 
mencak-mencak. Mengungkit-ungkit bahwa PPP berjasa 
besar mengangkat Gus Dur sebagai presiden, menuntut 
agar pengganti Hamzah harus dari PPP juga, dan 
kemudian malah komentar karena PPP memperoleh suara 
cukup besar dalam Pemilu lalu, dengan urutan ketiga, 
maka menteri-menteri dari PPP harus ditambah lagi! 
Komentar senada juga diberikan oleh Amien Rais, yang 
antara lain bisa dibaca di TEMPO edisi 19 Desember 
1999. 

Ini benar-benar salah ciri khas kelompok Poros Tengah: 
dahaga yang tak habis-habisnya terhadap kekuasaan dan 
hampir tidak punya rasa malu. Lihat saja salah satu 
menteri mereka yang juga merupakan sobat kental Amien 
Rais yang saat ini menjadi Menteri Keuangan, Bambang 
Sudibyo. Baru-baru ini dia berkomentar: politik adalah 
bagi-bagi kekuasaan! 

Bagaimana bisa mereka tanpa malu berkomentar seperti 
itu, bahwa karena PPP urutan tiga dalam Pemilu harus 
mendapat jatah menteri lebih banyak lagi. Lha, 
bagaimana dengan PDI Perjuangan yang malah menduduki 
nomor satu, tetapi hanya punya dua menteri di kabinet 
karena digusur oleh Amien Rais dengan beberapa 
sobatnya? Seburuk-buruknya Golkar, mereka yang berada 
pada urutan kedua Pemilu, tidak seserakah kelompok 
Poros Tengah, yang ada di antaranya menepuk dada 
sendiri dengan menamakan diri sebagai Fraksi Reformasi 
(PAN dan Partai Keadilan) itu. 

Saking gilanya mereka terhadap kekuasaan, mereka tidak 
bisa membaca isyarat yang diberikan oleh Gus Dur. 
Sebuah sumber mengatakan bahwa latar belakang 
keputusan Gus Dur itu adalah selain memang sudah sejak 
awal tidak cocok dengan Ketua Umum PPP itu, juga ada 
indikasi kuat terjadi korupsi dan manipulasi keuangan 
yang dilakukan Hamzah. Salah satunya adalah 
ketidakjelasan dana sebesar Rp 14 miliar yang masuk ke 
kas PPP, yang menurut beberapa sumber, berasal dari 
Habibie sebagai imbalan dukungan Hamzah dan PPP-nya 
terhadap Habibie sebagai calon presiden. Ingat pula, 
Gus Dur pernah dengan terang-terangan mengatakan bahwa 
Hamzah Haz bersama beberapa tokoh PPP terlibat dalam 
pencetakan dan peredaran uang palsu, yang akan 
digunakan untuk keperluan politik uang dalam pemilu 
1999 lalu. 

Gus Dur sengaja mengatakan alasan pencopotan Hamzah 
adalah karena atas permintaannya sendiri, karena masih 
diperlukan PPP, dan bukan karena terlibat korupsi, 
sebenarnya hanya untuk menghormati PPP dan tidak 
membuat malu Hamzah dan parpol tersebut. Namun, saking 
gilanya orang-orang itu terhadap kekuasaan.Mereka 
menjadi mata gelap. Begitu melihat salah satu porsi 
kekuasaan menteri lepas dari tangan mereka, mereka 
kelabakan, marah-marah, mencak-mencak, dan menyalahkan 
pihak ketiga yang menyebabkan Gus Dur melakukan 
pencopotan tersebut, dan memasalahkan penggantinya 
bukan dari PPP atau kelompok Poros Tengah lainnya 
(dalam hal ini PDI Perjuangan dituduh telah menghasut 
Gus Dur, karena dendam dengan Poros Tengah karena 
mengagalkan Mega menjadi presiden). 

Amien Rais, walaupun tak menyebut nama juga 
melontarkan sinyalemen tuduhan serupa. Beberapa kali 
Amien mengatakan bahwa Gus Dur memberhentikan Hamzah 
karena ada dibisiki pihak-pihak yang merasa digagalkan 
targetnya di Sidang Umum MPR tempo hari. Di antara 
mereka ada yang mengatakan bahwa mereka tidak menyebut 
nama. Tetapi, kucing pun tahu, walaupun tidak usah 
menyebut nama, yang dimaksud Amien tentu saja PDI 
Perjuangan yang memang gagal meloloskan Mega ke kursi 
presiden karena manuver Amien dan kawan-kawan. Apapun 
alasannya, pertanyaannya adalah apakah seorang Gus Dur 
sedemikian bodoh dan lemah sehingga gampang 
dipengaruhi dan disetir orang-orang yang dimaksud 
Amien dan kawan-kawannya itu? 

Ini sama dengan sikap Amien Rais tempo hari, ketika 
diminta konfirmasi atas tudingannya bahwa PDI 
Perjuangan telah menerima money politics dari Bank 
Lippo dalam jumlah lebih besar dari skandal Bank Bali. 
Ketika diwawancara SCTV dalam Liputan Enam, dia 
mengatakan bahwa dia tidak menyebut nama PDI 
Perjuangan. Yang disalahkan waktu itu adalah wartawan 
Harian Republika, yang menulis nama PDI Perjuangan 
padahal dia sendiri tidak menyebutkannya secara 
eksplisit begitu. Wartawan yang tentu saja tak berani 
protes karena Amien Rais juga merupakan salah satu 
pimpinan Republika. Amien waktu itu menyatakan bahwa 
ada partai besar menerima uang dari Bank Lippo dalam 
jumlah yang lebih besar daripada skandal Bank Bali. 
Jangankan kucing, kecoak pun tahu bahwa yang dimaksud 
dengan Amien bukan lain adalah PDI Perjuangan. Hanya 
ketika dia tak mampu membuktikan, dia pun mengelak 
sesuai dengan tabiatnya. Memutar lidah. 

Kelompok Poros Tengah ini, termasuk Amien Rais, pada 
waktu itu mengatakan mereka akan melakukan serangan 
balik, atas kejadian itu. �Jangan coba-coba mengganggu 
Poros Tengah, karena kami akan membalas!� Ancam Amien 
yang dikutip banyak media cetak waktu itu. Apakah yang 
disebut serangan balik itu berkaitan dengan mulai 
adanya manuver-manuver yang terus-menerus 
mengrong-rong Gus Dur dan Megawati lewat penggalangan 
massa, pernyataan-pernyataan, ultimatum, dan yang 
sejenis yang berkembang belakangan ini? 

Tetapi, seperti tabiatnya selama ini, ketika terlihat 
tudingan mereka itu terlalu lemah, dia bersilat lidah 
lagi, dengan mengatakan bahwa dia tidak pernah 
mengatakan seperti itu. Katanya, yang mengatakan 
seperti itu adalah Husni Thamrin dari PPP. Ketika 
ditanya wartawan, dia mengatakan bisa saja demikian. 
�Kemudian, saya bilang, saya akan menunggu dulu 
seperti apa langkah-langkah yang ditengarai Pak Husni 
Thamrin itu. Kalau itu terbukti, kita akan melakukan 
reaksi balik yang sepandan. Tapi, sejauh ini, saya 
belum melihat indikasi itu. Yang jelas, PPP merasa 
kecewa karena mereka merasa berjasa paling besar 
andilnya dalam mengirim Gus Dur ke kursi presiden.� 
(TEMPO, 19 Desember 1999). 

Amien juga berkata kepada TEMPO, dia bahkan sudah 
bertemu dengan Gus Dur, dan Gus Dur mengaku dia khilaf 
soal penggantian Hamzah itu. Bahwa yang sebenarnya, 
Hamzah hanya minta klarifikasi soal menteri-menteri 
korupsi, dan Gus Dur melangkah terlalu jauh dengan 
menggantikkannya. 

Mungkin benar Hamzah hanya minta klarifikasi kepada 
Gus Dur, dan klarifikasi itu dijawab oleh Gur Dur 
secara langsung dalam bentuk penggantian tersebut. 
Dengan kata lain, dengan penggantian tersebut Gus Dur 
secara tersirat hendak mengatakan kepada Hamzah: �Anda 
memang bersalah.� Apalagi hubungan keduanya memang 
sudah lama tidak harmonis. 

Sedangkan mengenai pengakuan Amien bahwa Gus Dur 
mengaku kepadanya bahwa Gur Dur khilaf, terus terang 
saya meragukannya. Kalau benar Gus Dur mengaku khilaf, 
dalam perkembangannya kemudian, sekitar akhir Desember 
1999, dalam sebuah acara di Istana Merdeka, sewaktu 
mengulang pernyataannya soal penggantian Hamzah, tentu 
Gus Dur akan melontarkan hal tersebut. Nyatanya, Gus 
Dur malah memperkuatnya argumen keputusannya itu, 
dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya terhadap 
Hamzah sudah benar, karena Hamzah masih dibutuhkan 
oleh PPP sebagai Ketua Umum. Gur Dur sama sekali tidak 
mengatakan dia telah berbuat kekeliruan tentang itu. 

Orasi Amien Rais 
--------------------- 

Ini serupa dengan perkembangan atas reaksi keras Gus 
Dur atas Aksi Sejuta Umat yang juga disponsori oleh 
tokoh-tokoh Poros Tengah, tak kecuali Amien Rais, di 
Lapangan Monas, Jakarta, 7 Januari 2000 lalu. Ketika 
kelompok Islam fundamentalis itu mengira akan berhasil 
menggertak Gus Dur, tetapi malah nyalinya menjadi ciut 
ketika digertak balik oleh Gus Dur. Amien Rais yang 
nyata-nyata telah memberi orasi-orasi bertendensi 
provokatif, memanas-manasi massa, dan memberi 
ultimatum kepada Gus Dur, menyangkal atas apa yang 
sudah diperbuat oleh dia dan kawan-kawannya itu. 
Kemudian lagi-lagi menuding pihak ketiga sebagai 
kambing hitam, yang sengaja membisiki secara salah apa 
yang telah dilakukan Aksi Sejuta Umat itu, dengan 
maksud mengadu domba Gur Dur dengan Amien Rais plus 
Poros Tengah. 

Seperti dalam kejadian penggantian Hamzah sebagai 
Menko Kesra dan Taskin, Amien pun selain menyangkal 
apa yang sudah keluar dari mulutnya sendiri, dia 
berkata kepada wartawan bahwa setelah ada reaksi balik 
dari Gus Dur yang salah sasaran itu, dia sudah 
menelepon Gus Dur untuk mengatakan hal yang sebenarnya 
terjadi, dan Gus sudah bisa memakluminya. 
Kenyataannya? Saya curiga, Amien Rais bohong. 

Kalau benar demikian kejadiannya (Gus Dur sudah 
memahaminya), dalam acara malam Baku Dapa masyarakat 
Maluku se-Jabotabek, 15 Januari 2000 lalu, Gus Dur 
tidak ada mengeluarkan pernyataan, seperti yang sudah 
kita dengar sendiri dalam siaran langsung televisi, 
atau membacanya di koran. Waktu itu dia berkata bahwa 
selama ini pemerintah sudah banyak bersabar terhadap 
tangan-tangan jahat di Maluku dan berbagai daerah 
lain. Demikian juga terhadap pihak-pihak yang 
terus-menerus memojokkkan dan mencacinya, dia sudah 
banyak sabar, tetapi kesabaran itu ada batasnya juga. 
Kesabaran itu sudah mulai habis. Kalau kesabaran 
pemerintah sudah habis, maka akan diambil tindakan 
tegas, termasuk kepada kawan-kawan yang tidak juga mau 
sadar, atau kepada siapapun. Bisa jadi, yang dimaksud 
dengan �kawan-kawan� itu adalah Amien Rais cs itu. 

Dalam orasinya yang sangat bertendensi memanas-manasi 
massa dan provokatif dalam Aksi Sejuta Umat itu, 
memang sangat kental dengan unsur-unsur Islam 
fundamentalis dengan menekankan kepada massa bahwa apa 
yang terjadi di Ambon dan Maluku, dan Halmahera selama 
ini adalah memang perang agama, dan oleh karena itu 
wajar umat Islam pergi berperang jihad di sana. 
Disertai dengan memberi ultimatum kepada pemerintah 
dalam tempo satu-dua minggu sudah harus bisa 
menyelesaikan kasus Ambon (yang disebut sebagai 
�pembantaian/pembasmian umat Islam�). 

Amien antara lain berorasi bahwa pemerintah harus 
segera menghentikan pembasmian umat Islam di Maluku 
dan Halmahera dalam tempo satu sampai dua minggu. Jika 
tidak, umat Islam akan mengambil-alih persoalan 
tersebut. Jangan salahkan umat Islam kalau sampai 
begitu. Dan, wajar, kalau umat Islam murka atas 
ketidakmampuan pemerintah menyelesaikan kasus 
pembasmian umat Islam di Maluku dan Halmahera itu! 
Jelas, orasi ini memang sangat provokatif di 
tengah-tengah massa yang penuh emosional seperti 
sekarang. 

Padahal, yang terjadi di sana sebenarnya bukan perang 
agama, tetapi akibat dari mempergunakan agama sebagai 
senjata politik. Atau, menggunakan agama untuk 
membenarkan perilaku-perilaku iblis di sana. Tidak ada 
orang yang benar-benar beragama yang berperilaku 
biadab seperti itu. Penggunaan idiom-idiom �pembasmian 
umat Islam� dan sejenisnya adalah tidak tidak tepat, 
karena yang terjadi di sana ada suatu �perang� yang 
mengorban banyak korban jiwa di kedua pihak di sana. 
Penggunaan idiom-idiom seperti itu, termasuk � kalau 
ada � istilah �pembasmian umat Kristen� dan sejenis, 
hanya semakin membakar emosi dan membuat darah semakin 
mendidih bagi orang-orang yang mendengarnya dan 
kurang bisa menggunakan nalarnya. 

Kata-kata Amien seperti, �Jangan salahkan kalau umat 
Islam murka dan mengambilalih penyelesaian dari tangan 
pemerintah� seolah-olah sebagai pembenaran terjadinya 
kerusuhan-kerusuhansusulan akibat aksi �balas dendam.� 
Atau, lebih jauh dari itu: diam-diam itu merupakan 
sinyal rahasia agar umat Islam di lain tempat 
melakukan aksi-aksi balas dendam dengan kekerasan di 
daerah-daerah lain di luar Maluku dan Halmahera, 
seperti yang sudah terjadi di Mataram dan Makassar. 

Ketika Mataram dan Makassar rusuh, Amien seolah-olah 
merasa benar dan bangga, dengan beberapakali 
mengeluarkan pernyataan lagi bahwa apa yang 
dikhawatirkan kini sudah terbukti, yakni karena 
pemerintah tidak mampu menyelesaikan kasus Maluku dan 
Halmahera, akhirnya kerusuhan menjalar ke daerah lain. 
Padahal, seharusnya dia merasa prihatin, karena secara 
langsung, maupun tidak, kerusuhan yang terjadi di 
Mataram dan Makassar itu, merupakan tanggung jawabnya 
juga. Karena, bukankah dia telah berorasi dengan 
mengirim sinyal pembenaran agar umat Islam melakukan 
balas dendam? Bukahkah dia berkata, �Jangan salahkan 
umat Islam, kalau mengambilalih penyelasian kasus 
Ambon (dengan caranya sendiri)?� 

Maka, saya sepakat dengan apa yang dinyatakan Ketua 
Umum PKB Matori Abdul Djalil bahwa secara moral Amien 
bertanggung jawab atas terjadinya kerusuhan di 
Mataram, dan bahwa secara moral Amien dapat 
dikategorikan sebagai provokator kerusuhan! 
(detik.com, 20 Januari 2000). 

Sekarang, orang ini sedang bermetamorfosis lagi 
menjadi negarawan nan bijak, dengan menyerukan kepada 
publik agar jangan melakukan aksi-aksi pengumpulan 
massa, karena, katanya, bisa menimbulkan kerusuhan. 

Kenyataannya, menurut detik.com (21 Januari 2000), 
aksi pengumpulan massa akan tetap dilakukan di Jumat, 
21 Januari ini dalam rangka memperingati setahun 
Tragedi Ambon, dengan garansi tidak akan ada kerusuhan 
(tulisan ini dibuat sampai pukul 00.30 21 Januari 
2000) di Masjid Al-Azhar, Jakarta. Pemrakarsanya 
adalah orang PAN (Amien Rais) juga, yang salah satu 
Ketua DPP PAN, yaitu A.M. Fatwa. Bisa jadi di mulut 
Amien keluar kata-kata bijak, tetapi dalam praktek 
meminjam tangan orang lain (orangnya) untuk tetap 
menggalang kekuatan massa yang tak lepas dari 
unsur-unsur politis. 



____________________________________________________________________
Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

Kirim email ke