Saya sendiri berpandangan bahwa apa yang akan dilakukan oleh PDIP di
kongres Semarang Maret mendatang adalah cukup baik, yaitu introspeksi
diri terhadap 'kekalahan' PDIP memperebutkan kursi presiden dan mencari
solusi untuk bersikap di masa depan. 'Kekalahan' tersebut, di satu sisi,
sebenarnya lebih banyak merupakan kelemahan PDIP dalam bermain politik
tingkat atas. Kini, para tokoh PDIP sudah menyadari dan banyak belajar
dari kelemahan ini. Jadi, kongres Maret mendatang kelihatannya lebih
menjanjikan akan kiprah PDIP ke depan.

Selamat berkongres.

Salam,
Budi

Suhendri wrote:
>
> Setelah Mega gagal di "jual" jadi Presiden.
> Sampai kapan dan kira - kira berapa kali lagi Mega akan masih "laku" di
> "jual" ?
> Ada kandidat lain ? Guruh ? Guntur ?
> Partai full KKN ? :-)
>
> Soe
>
> ==============================================================
>
> Menjelang Kongres PDIP:
> Dipertanyakan, Alasan Mega Terima Sebagai Cawapres
>  Senin, 24 Januari 2000, @12:50 WIB
>
> Jakarta--Sebagai sebuah partai pemenang Pemilu, PDI Perjuangan harus
> instropeksi diri karena gagal mengantarkan Mega ke kursi presiden. Kursi
> Wapres yang diduduki Mega saat ini, dinilai terlalu "memaksakan" Mega untuk
> duduk di pemerintahan setelah gagal jadi presiden. Fungsionaris PDIP Aberson
> Sihaloho mensinyalir cara pemaksaaan semacam itu bisa berbahaya.
>
> Aberson menilai, dengan merestui Mega masuk bursa Wapres dalam SU MPR 1999
> menunjukkan bahwa DPP PDIP telah melanggar amanat Kongres PDIP di Bali tahun
> lalu. Maka, dalam Kongres PDIP di Semarang, Maret mendatang, harus
> diagendakan pertanggungjawaban DPP PDIP terhadap pelaksanaan kongres Bali.
> Kongres wajib memberikan penilaian obyektif terhadap kinerja DPP," kata
> Aberson.
>
> Politisi gaek ini menyayangkan kenapa Mega mau menerima pencalonan dirinya
> sebagai cawapres waktu itu. Padahal, sebagai wapres, terangnya, Mega tidak
> bisa menjadi penentu kebijakan politik. "Yang menentukan adalah presiden."
> Di sisi lain, jika sebuah kebijakan yang diambil presiden salah, maka wapres
> ikut menanggung kesalahan itu.
>
> Kader PDIP Sophan Sophiaan pun mengaku tidak tahu alasan Ketua Umum PDIP
> menerima pencalonan wapres dalam SU MPR lalu. Pasalnya, amanat kongres telah
> menetapkan Mega untuk menjadi capres. "Bukan sebagai cawapres."
>
> Sophan menyadari bahwa ada kelompok lain yang tidak menghendaki Mega menjadi
> Presiden RI. Munculnya nama Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai kandidat
> dari Poros Tengah adalah salah bentuk dari penjegalan terhadap Mega.
> Sayangnya, PDIP kurang menganggap terlalu serius. Namun, ketika Gus Dur
> menyatakan kesediaannya, pihak PDIP jadi kalang kabut. "Boleh dibilang, saat
> itu PDIP terlena dan kurang hati-hati," ujar Sophan sebagai dikutip Media
> Indonesia.
>
> Belajar dari pengalaman tersebut, dalam tahun mendatang DPP harus bekerja
> ekstra keras agar kasus serupa tidak terulang. Kendati demikian, dalam
> kongres di Semarang nanti, menurut Sophan akan tetap memberikan peluang
> kepada Mega untuk kembali menduduki jabatan Ketua Umum PDIP. "Perolehan
> kursi (DPR) yang cukup banyak diperoleh, tidak bisa dilepaskan dari peranan
> Mega. Ini menunjukkan, perjuangan Mega tidak sia-sia," jelasnya.***(Sku)

Kirim email ke