Seharusnya yang perlu diwaspadai adalah aksi aksi pengumpulan massa.
Modus selama ini adalah pengumpulan massa yang dibarengi vandalisme.
Padahal mestinya kerusuhan Mei cukup memberi pelajaran untuk kita.
Saya sendiri mengecam model-model pamer otot saat ini. Hal ini perlu
dibatasi.
Coba bayangkan saat adanya tabligh akbar dalam suasana "panas" satu bom
meledak
(misalnya Yogya) kan bisa menimbulkan kerusuhan dalam skala luar biasa
besar.
Apalagi saat ini dinas intelejen termasuk impoten dan tidak jelas
afiliasinya ke mana.
Juga seperti PDI-P kemarin sebetulnya mempunyai potensi kerusuhan yang
besar.

Saya sendiri heran, kenapa kita tidak menangkap sinyal dari pemerintah saat
ini.
Sinyalemen bahwa kerusuhan  didalangi oleh 3 "kekuatan lama" yang tersingkir
melalui proses reformasi tidak ditindak lanjuti oleh masyarakat.
Apalagi pernyataan-pernyataan cukup jelas baik dari Gus Dur sendiri
(tangan-tangan jahat),
menkeu (kita sedang adu otot dengan sisa sisa pemerintahan yang 32 tahun
lamanya),
atau rekan G.J. Aditjondro (gajah bertarung...) dll mestinya memberi
inspirasi kita agar
memberi dukungan politik dan mendesak pemerintah untuk menindak
"tangan-tangan jahat" itu.

Sangat Ironis, justru di saat luar negeri memberi bantuan (politik dan dana)
yang luar biasa kepada pemerintahan saat ini.
Elit politik dan kelompok masyarakat, termasuk pers bukannya membantu malah
sibuk dengan
manuvernya sendiri sendiri (termasuk mega, amin, akbar dll).
Saya percaya pada "kesetiaan intelektual" dari kawan-kawan dalam mewujudkan
kultur oposisi
di tanah air saat ini. Namun hendaknya kita juga berusaha agar usaha
reformasi (termasuk menyingkirkan
kekuatan-kekuatan lama) tidak berhenti di tengah jalan.


wass.
deddy priadi



----- Original Message -----
From: Jeffrey Anjasmara <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, January 28, 2000 2:19 PM
Subject: Re: Polda masih pakai cara lama!


> Seharusnya anda bertanya siapa sih yang menyuruh Polda? Kenapa 1500 atau
> 15000 pendukung aksi yg "sedikit yg hadir" itu perlu ditindaklanjuti?
> Mengapa mesti muncul reaksi-reaksi keras dari pemerintah? Mengapa perlu
> ditangkap 90 orang dalam peristiwa Mataram sedangkan sebijipun tidak ada
yg
> ditangkap dalam peristiwa Maluku?
>
> JA
>
> -------------------
> >From: Priyo Pujiwasono <[EMAIL PROTECTED]>
> >Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
> >To: [EMAIL PROTECTED]
> >Subject: Polda masih pakai cara lama!
> >Date: Fri, 28 Jan 2000 05:04:26 -0800
> >
> >http://detik.com/peristiwa/200001/2000128-152107.html
> >Weleh...cara2 $oeharto masih tetap dipakai juga.
> >Ini namanya: "buruk muka, penjual cermin ditangkap"..:-)
> >__________________________________________________
> >Do You Yahoo!?
> >Talk to your friends online with Yahoo! Messenger.
> >http://im.yahoo.com
>
> ______________________________________________________
> Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>

Kirim email ke