In a message dated 01/29/2000 4:50:01 AM !!!First Boot!!!,
[EMAIL PROTECTED] writes:

<< Dear Ibu,

 ke mana hari akan menuntunku besok?
 terasa gersang rongga dadaku
 haus akan senyum Ibuku yang jauh
 ada dentuman rindu hendak bertemu
 dan menaruh kepalaku yang sakit
 kedadanya yang lembut

 seperti hari kemarin
 ketika Ibuku membacakan biographi Mahatma Gandhi
 seperti hari lalu
 ketika Ibuku menceritakan gagahnya para
 gerilyawan di desa menghadapi Belanda

 rasa rindu kepada Ibuku bergemuruh
 hendak kudengar ceritanya tentang
 orang-orang tak berdosa yang mati tergelepar
 hendak kuhenyakkan sedihku kedekapannya yang hangat

 Ibuku merasakan air mataku menetes
 Ibuku mendengar suara haruku di telepon
 Ibuku membayangkan kerut wajahku sedih
 tapi Ibuku tak dapat mendekap tubuhku
 yang butuh kasihnya saat aku terombang-ambing
 oleh ketidakkuasaan...
 ketidakkuasaan menerjemahkan kebinalan negeriku
 ke mana aku harus menenggelamkan dukaku besok Ibu?

 salam hormat Ibu...

 ida
  >>

Kepada Ibu,
Aku ingin menceritakan perasaanku
dengan kepala yang gagah
dan mata tajam menembus matahari
Jangan kau tangisi orang-orang yang tergelepar itu
Mereka adalah pemenang
Dengan nurani yang masih terjaga

Sedangkan para pemimpin dan provokator
banyak yang sudah mati suri
Mereka orang-orang kalah
Nuraninya sudah tidak perawan lagi
oleh ambisi, kedengkian, keculasan
(jangan kau maki yahudi dan amerika!)

Hari ini pembantaian masih terjadi
secawan anggur darah diletakkan di meja
di pelataran karpet merah
orang-orang berjalan gagah
    ''Mari kita hitung lagi mereka!''

Ibuku memelihara para brutus di kastil-kastil
Bukan tanpa pesan tujuan

Ibuku, inilah buah perkawinan menyesatkan itu
Pemimpin dan lintah darat?
Tapi kau malah bicara tentara yang jahil
atau politisi yang cengeng dan dungu
dan rakyat yang cuma R-A-K-Y-A-T
Karena itu aku bilang: Keparat!

"penyimak pinggiran"
(mencoba menafsir ibunya sendiri)

Kirim email ke