Sami mawon.
Disini kita juga Om Do
Pemimpin itu kan cerminan masyarakatnya.
Masyarakat bodoh, pemimpin pasti juga orang bodoh
Masyarakat penipu, pemimpin pasti juga penipu
Masyarakat cerdas, pemimpin pasti juga cerdas
Soe
==========================================
Dari Balik Sidang Kabinet
Oleh Zaim Uchrowi
Mau tahu suasana sidang kabinet sekarang? Ikuti saja cerita ini. Sebuah
kisah yang berasal dari seorang menteri. Mungkin karena tak puas atau entah
mengapa, ia menuturkannya pada seorang kawan.
Menurut menteri itu, suasana sidang kabinet sekarang sangat khas. Berbeda
dengan suasana di masa Habibie dan Soeharto dulu. Perbedaan itu mungkin
karena karakter Gus Dur-Mega memang berbeda dengan Habibie, maupun Soeharto.
Di masa Soeharto, warna feodal sangat kuat. Soeharto menempatkan diri
sebagai 'Bapak' yang berkuasa. Dengan cermat ia mendengarkan laporan dari
'anak-anaknya', para menteri itu, mengomentari yang perlu, mengambil
keputusan, serta memberi penekanan pada apa yang ia inginkan. Suasana formal
Jawa tak terhindarkan.
Di era Habibie, suasana sangat berbeda. Para menterinya lebih berani. Mereka
pun berdebat dan malah bertengkar dalam sidang kabinet. Sedangkan Habibie
sering asyik bicara sendiri berkepanjangan.
Lain lagi sekarang. Suasana satu arah kabarnya sangat dominan. Setiap
menteri akan menyampaikan laporannya. Gus Dur biasanya langsung mengomentari
satu per satu. ''Komentarnya menunjukkan ia sangat cerdas,'' kata menteri
itu. Tapi, komentarnya pada satu menteri dengan pada menteri lainnya sering
tidak sinkron kalau bukan bertabrakan.
Umumnya, para menteri tak lagi menanggapi komentar Gus Dur itu. Mungkin
segan, malas, atau malah takut. Katanya, nada suara Gus Dur sering seperti
agak marah. Di antaranya bila laporan menteri itu masuk ke hal yang dianggap
terlalu detail. Yang pasti, di sidang itu tak terjadi diskusi.
Mega, walaupun belum jadi presiden, banyak berkesempatan memimpin sidang
kabinet pula. Maklum, Gus Dur sering pergi. Dalam memimpin sidang kabinet,
Mega meniru pola Gus Dur. Sehabis seorang menteri memberi laporan, ia
langsung mengomentarinya. Begitu seterusnya.
Menurut kisah ini, umumnya komentar Mega sama. Setidaknya menyangkut tiga
hal, dan tak harus berkaitan dengan isi laporan. Yakni tentang pentingnya
menjaga persatuan nasional, agar kebijakan selalu untuk kepentingan rakyat,
juga agar mengikuti aturan yang telah ada. Hal tersebut diulang-ulang dengan
kalimat yang berbeda. Biasanya, makin akhir akan makin sedikit komentar yang
diberikan Mega.
*** Jika cerita itu benar, maka mudah dipahami mengapa banyak persoalan
bangsa yang tak kunjung teratasi. Kasus Ambon dan Maluku Utara, misalnya,
telah sedemikian berlarut. Demikian pula Aceh, serta pemulihan ekonomi
nasional. Pemberantasan korupsi juga baru sebatas omong-omong.
Sampai sekarang pemerintah belum menunjukkan program yang jelas untuk
menyelesaikan kasus-kasus itu. Mudah-mudahan bukan karena pemerintah tak
punya konsep nyata. Semoga bukan pula karena tak ingin transparan.
Maka, tampaknya jalan yang harus dilalui bangsa ini untuk mencapai posisi
dasar yang relatif baik memang masih panjang. Filipina memerlukan waktu
delapan tahun untuk memulihkan keadaannya sendiri setelah Marcos ambruk.
Yakni, pada era Cory Aquino yang centang-perenang, serta pada masa awal
kepemimpinan Ramos. Kita mungkin perlu waktu lebih panjang lagi.
Karena itu, mari kita kerja lebih keras. Dengan demikian, siapa pun
pemimpinnya dan seberapa pun kemampuan kerja manajemen pemerintahannya,
bangsa ini akan tetap dapat melangkah ke depan. Secara benar dan cepat.