Ah, Moko emang banyak teori muluk-muluk. Okay-lah saya diam dan hanya
memonitor. Apakah milis tambah baik tanpa kehadiran saya? Let's see....:)

JA

------------------------
>From: Moko Darjatmoko <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: D e a d   A i r
>Date: Sat, 5 Feb 2000 16:34:06 -0600
>
>  dead air - a broadcasting term for silence, perhaps resulting
>      from a dead mike (inoperative microphone) .... taken from
>      Webster's New Words: Dictionary of Media & Communication.
>
>Istilah lama dari jaman perang dunia kedua ini masih menjadi "momok"
>para pemilik radio atau TV station. Selain karena peralatan yang
>malfunction, dead air juga bisa disebabkan oleh 'human factor',
>misalnya penyiar yang ketiduran di depan mike, tiba-tiba kena
>stroke, atau sekedar tidak menyimak schedule. Apapun penyebabnya,
>'dead air' menyiratkan adanya 'somethng wrong', sesuatu yang tidak
>beres.
>
>Membaca posting-posting lama, saya temukan pertanyaan dari tetangga
>saya, E R Juni, yang waktu itu belum sempat terjawab (1/16/2000):
>
>|btw mas moko, sebagai sesepuh di sini, dulu biasanya seperti apa
>|sih diskusi di milis permias ini? mungkin mas moko bisa kasih
>|arahan supaya teman2 yang ada di sini tidak bisa melanjutkan provokasi
>|nonsense-nya karena sudah ketahuan belangnya ... dan bisa menyadarkan
>|yang lain2 supaya tidak mudah terpancing ... dulu2 bagaimana sih ?
>
>Kata yang pertama muncul di kepala adalah 'dead air' --for the lack
>of a better term-- ketika saya mencoba memberi deskripsi situasi
>mailing list ini ... a state of silence, especially caused by the
>absence of *intelligent* postings.
>
>List Permias ini masih bertumbuh, jadi bisa dimengerti kalau masih
>jauh dari kematangan, tetapi tidak seharusnya mailinglist seperti
>ini mengalami degenerasi sampai level 'dead air'. List ini punya
>potensi besar untuk menjadi satu komunitas yang intelligent.
>Pertama, jumlah mahasiswa Indonesia di AS cukup banyak, sehingga
>cepat tercapainya 'critical mass'. Kedua, dari namanya perMiAS,
>majoritas anggota list ini sedikit banyak telah terekspose pada
>sistim pendidikan yang baik, pada tatacara masyarakat yang sudah
>mapan dan beradab. Jadi bahan dasar untuk posting yang berbobot itu
>sudah ada (sesuai dengan interest, keahlian, formal training
>masing-masing). Tatacara diskusi yang baik, penggunaan alur logika
>dan argument yang 'cogent' juga bukan barang baru lagi -- banyak
>buku yang bisa dijadikan acuan kalau memang masih belum memahaminya.
>
>"Sesepuh" mungkin bukan kata yang tepat, karena ukuran senioritas
>dalam mailinglist sukar diterapkan ... people come and go. Dari segi
>produktivitas [menulis] pun saya juga tidak masuk hitungan, karena
>saya memang lebih sibuk dengan list lain. Kalau ukuran produktivitas
>dipakai, lae Irwan Ariston boleh ditaruh di tangga paling atas).
>Banyaknya tulisan pun tidak selalu bisa menjadi ukuran, karena
>kualitas *isi* tulisan lah yang seharusnya menjadi tolok ukur
>kecerdasan.
>
>Meskipun tidak terlalu aktif, saya memang mengamati list ini sejak
>pertama dibentuk (sebagai forum komunikasi pengurus Permias). Sejak
>dulu, jaman email belum dikenal di tanah air, saya sudah mulai
>mengamati mailinglist (in fact, I make a study of watching them, to
>understand what makes them tick). Sangat menarik menyaksikan adanya
>"parallel" antara sebuah mailing list dan komunitas dari mana para
>anggotanya berasal. Bisa dibilang, mailinglist merupakan
>'mikrokosmos' dari sebuah entitas yang lebih besar, yaitu masyarakat
>atau bangsa.
>
>Jadi sesungguhnya tidak usah heran (atau sakit hati) kalau ada yang
>mengatakan bahwa mailinglist ini isinya "sampah" (yup, saya dengar
>sendiri ketika pak Dubes mengatakan ini di sebuah pertemuan lokal).
>I can't agree more. Bahkan beberapa bulan belakangan ini sampahnya
>mulai mengeluarkan bau busuk yang menyengat, seperti uap busuk yang
>keluar dari timbunan sampah Bantar Gebang.
>
>Manusia memang punya tendensi menyampah, tetapi pengelolaan sampah
>yang baik membuat sebuah kota tetap asri dan nyaman ditinggali
>(Madison is one of them :-) Kalau kita terima nasib, membiarkan
>"parallelism" diatas bekerja, maka list ini ya seperti miniatur
>Indonesia saat ini, chaotic, provokasi merajalela, bakar sana bakar
>sini ... seakan pikiran sehat sudah punah.
>
>Dalam dunia informasi atau elektronik dikenal istilah
>'signal-to-noise ratio' (S/N), yang dipakai sebagai ukuran kualitas
>trnasmisi atau broadcast. Istilah yang sama sering dipakai dalam
>menilai kualitas mailing list, dimana "signal" adalah posting yang
>bermutu, punya 'content value', yang berguna buat publik, dan
>sisanya adalah 'noise' alias sampah itu tadi. "Noise" ini sendiri
>ditimbulkan dari berbagai sebab, karena 'ignorance' seperti misalnya
>penyebaran surat berantai (virus, urban legend, etc), kemalasan
>pikir (fenomena "oneliners"), atau kombinasi keduanya ... i.e. plain
>stupidity.
>
>Ada juga "noise" jenis lain, noise yang sengaja dibuat oleh para
>provokator, mereka yang hidup dari mempertajam konflik,
>warmongering, menebarkan uap jahat rahwana. Ini paralel dengan badai
>provokasi yang ramai mengobok-obok tanah air belakangan ini, apakah
>itu dilakukan 'oknum' tersamar, figur publik, ataupun media massa.
>Pertanyaannya adalah apakah list Permias ini 'pasrah bongok',
>menyerah begitu saja dipakai sebagai ajang provokasi. Provokator ini
>biasanya sangat 'cheap', seperti virus atau parasit yang hidup dari
>menumpang diatas resource orang lain.
>
>Mailing list adalah komunitas kecil, dan seperti halnya dalam
>komunitas riil, orang masih memerlukan aturan-aturan dan pihak
>(individu, lembaga pengelola, pemerintah,) yang tugasnya 'make sure'
>bahwa aturan tersebut ditaati. Bagaimanapun, ini adalah komunitas
>manusia, species yang masih rentan terhadap uap jahat rahwana --
>seperti ditulis oleh James Madison, "If men were angels, no
>government would be necessary." Dan dalam mailinglist seperti
>Permias list ini, "government" yang dimaksud adalah para
>pengurusnya.
>
>Kualitas isi (content) memang sangat ditentukan oleh 'constituent'
>(anggota mailinglist) tetapi pengurus list juga punya andil besar,
>dalam artian sebagai fasilitator, yang menyediakan dan menjamin
>keamanan supaya orang dapat berdiskusi dan melakukan exchange
>informasi secara civil. Tugas pengurus ini termasuk misalnya,
>mengurus adminstrasi keanggotaan, memelihara server (if applicable),
>memberitahu aggota yang melenceng dari aturan dan tujuan list --
>kalau perlu mendepak pantat mereka yang sengaja mengacau atau tidak
>tahu aturan. Pengurus bisa saja ikut dalam diskusi, atau mengarahkan
>jalannya diskusi, tetapi tidak melarang atau membatasi ekspresi
>seseorang atau suatu topik. Saya bisa lebih lanjut tentang ini kalau
>ada yang berminat (para pengurus atau yang ingin jadi pengurus).
>
>Ada satu hal yang ingin saya tambahkan ... sehubungan dengan issue
>'jati diri' yang sempat dibicarakan pada posting yang lalu. Satu
>ciri esensial dari sebuah komunitas yang sehat adalah "trust" --
>yang sering diwujudkan dengan konsep "everybody knows everybody"
>(ini masih terjadi dalam komunitas kecil, di desa, kampung, company
>kecil). Dalam dunia virtual, konsep ini mau tidak mau harus sedikit
>dimodifikasi.
>
>Banyak yang berpendapat perlunya anggota mencatumkan nama lengkap,
>alamat, organisasi, bahkan kadang mengharuskan orang mengisi semacam
>"intruction form". Ini tidak jelek, tetapi harus diingat bahwa
>semuanya itu superficial, seperti pakaian luar saja, tidak ada
>jaminan bahwa informasi itu benar atau merupakan representasi yang
>baik. Siapa yang bisa dan punya waktu untuk verifikasi satu per
>satu. Di lain pihak, isi tulisan --terutama buat mereka yang secara
>'regular' menulis--lebih mencerminkan 'the real self', lebih
>mewakili pribadi, cara pikir, maupun 'ulterior motive' dari si
>penulis.
>
>Jadi pokok masalahnya bukan apakah buntut emailnya itu .edu, .com,
>net, org ... itu hanya menunjukkan klasifikasi organisasi yang
>empunya server, dan klasifikasi inpun tidak terlalu strict diikuti.
>Penggunaan alamat 'gratisan' seperti yahoo.com, hotmail.com juga
>tidak selalu harus dicurigai sebagai 'midnight dumping' (sorry guys,
>I can't help but ... but we're talking about "garbage", aren't we?).
>Sebaliknya, tulisan yang berasal dari alamat pakai .edu juga tidak
>selalu mencerminkan kualitas tulis yang bisa diharapkan dari lembaga
>pendidikan tinggi.
>
>Idealnya memang kalau saling tahu siapa lawan bicara kita --ini
>bagian dari *trust* dalam sebuah komunitas-- tetapi ada kalanya
>anonimitas diperlukan, terutama dalam sebuah tatanan masyarakat yang
>represif, otoriter. Anonimitas merupakan "peluang" bagi munculnya
>ekspresi (yang mungkin saja bermanfaat bagi kepentingan umum) dari
>mereka yang kuatir akan 'hukuman' karena menyatakan ekpresi
>tersebut. Dilain pihak selalu ada sisi lain, selalu ada pihak yang
>menyalahgunakan (abuse) peluang ini untuk halk-hal yang negatif atau
>destruktif. Dan mailinglist ini tidak menjadi perkecualian.
>
>Sangat menarik memperhatikan bagaimana, di mailing list ini,
>seseorang bisa berlindung dibalik anonimitas (tepatnya dibalik nama
>samaran), dan kemudian sifat postingnya berubah drastis menjadi
>abusive, beringas, kasar, mengancam ... pokoknya "keluar aslinya."
>After all, you are what you write! Gaya bicara/tulis seperti ini
>tidak akan dilakukannya dalam keadaan 'normal', seandainya dia masih
>memakai identitas diri yang sebenarnya. Para pembaca setia list ini
>mungkin masih teringat "kata-kata mutiara" berikut:
>
>     "saya bersedia menjadi jagal untuk membelah batok kepala"
>     "minum darah es setrup alias SS"
>     "Si 'Picek' CW [yang] rasist, separatis, atheis"
>     "hukum mati semua anggota dewan gereja di Maluku"
>     "Biarkan pasukan jihad masuk ke Maluku"
>     "Mardhika itu ... ngaku-ngaku muslim dan non-chinese ya"
>     "si yahudi Alwi Shihab ...
>     "kiai [AS] kok mau membiarkan potensi maraknya pelacuran"
>     "mending orang cina diusirin saja dari Indonesia"
>     "Kelompok kafir AGAM"
>     "gerakan Islam tetapi berisi ajaran komunis dan atheis"
>     "Gus Dur alias Mr. Wa-Hyde memang benar-benar buta dan bebal"
>     "santri [Tebu Ireng] mesti nyingkir ke kebon binatang"
>     "[NM] sya angkat sebagai ratu bullshit se-AS"
>
>Sepintas kedengaran seperti omongan orang, yang tidak terlalu pintar,
>tetapi harus diakui sangat berani. Tetapi keberanian tanpa kuatir
>akan resiko --karena menganggap tidak ada yang tahu identitas yang
>sebenarnya-- itu sesungguhnya justru menunjukkan sifat kepengecutan
>dan kekerdilan. Tidak ada yang patut dibanggakan dari perilaku rendah
>seperti ini.
>
>So, it's up to you guys.  The list is NOT dead yet. It's up you to
>contribute the best of your thought, to give the best of yourself.
>It's up to the admin (pengurus) to maintain a healthy environment
>for discussion and information exchange. Don't let the list ends up
>in "the blond leading the blonds" (seorang temen keluar dengan
>plesetan "the blo'on leading the blo'ons :-). It's your list, it is
>your community. Only YOU, together, can change it for the better.
>
>   "The voice of intelligence ... is drowned out by the roar of
>   fear. It is ignored by the voice of desire. It is contradicted
>   by the voice of shame. It is biased by hate and extinguished by
>   anger. Most of all it is silenced by ignorance." -- Menninger.
>
>Have a nice weekened,
>
>Moko/
>
>PS: Karena ada relevansi, tulisan ini saya cc ke IDS list, yang boleh
>     dibilang masih "saudara tua" Permias list ini.

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke