what a story..
tapi nasib orang katanya berbeda2.
kita cuman bisa usaha mati2an.
sisanya, usaha lebih keras lagi dan berdoa.

tapi memang tinggal di amerika membuka wawasan dan dengan harapan membawa sudut 
pandang yang lebih maju.

well, another day passed by..

faran


>Date:         Fri, 25 Feb 2000 10:10:43 EST
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>From: Arya Indrathama <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject:      One little story in the life of a perantau...
>To: [EMAIL PROTECTED]
>
>An essay dedicated to imigrans outthere
>
>
>Suatu Jumat sore yang tenang, ketika sedang dalam perjalanan pulang ke
>Downtown, aku bertemu dengan Ucok di depan apartementnya dan tengahnya
>bersiap siap memasukkan beberapa tas di Honda Civic 95nya. Dengan heran aku
>bertanya:
>Hey Ucok..., mau kemana kaw ini??. "I'm goin back to Calie, Lae..", katanya.
>"Bah!! orang orang pada pindah ke Colorado dan kaw pun pulang pula ke Calie?
>Macam mana kaw ini Cok?", tanyaku lagi. "Oh..I want to visit my girlfriend,
>lae Indra.., I will be back next week...", katanya dengan kalem.
>
>Kadang aku suka sebel kalau bicara dengan Ucok, karena walaupun fasih
>berbahasa Indonesia, Ucok lebih merasa enak untuk berbicara bahasa Inggris.
>Tapi aku bisa memaklumi. Ucok, yang lahir di Medan, tapi besar di Redland,
>Calie ( fornia ), memang besar di dalam lingkungan imigran Indonesia, dimana
>bahasa Indonesia, Inggris dan batak adalah bahasa mereka sehari hari dan
>mereka bisa memilih untuk siapa bahasa yang akan mereka pergunakan.
>
>"Lae Indra mau titip apa dari Calie?", tanyanya.
>Aku terdiam, dan sambil berkelakar aku menjawab, " Yoshinoya!!..oh
>jangan..kalau Yoshinoya doang, disini udah banyak teriyaki chicken. Gue mau
>Sanamluang, Cok!
>loe bisa bawain ngga?"
>"Ha..ha..ha.., tidak bisa lae...basi nanti kalau sampai disini", jawabnya.
>Sambil tersenyum aku berpesan, "Udahlah, gue sih gampang..., jalan jalan aja
>lah loe sana dan ati ati dijalan. Inget!, kalau lewat I-70 polisinya banyak
>di Utah, santai santai aja okey?".
>"Sip lae...", katanya
>
>Kita pun berpisah setelah itu. Dalam perjalanan pulang aku tiba tiba merasa
>bersyukur, betapa semenjak tinggal di Amerika lima tahun yang lalu sampai
>saat ini, aku bisa bertemu dengan beragam orang dari berbagai macam jalan
>kehidupan. Sesuatu yang malah tidak bisa aku temukan di Jakarta. Aku pernah
>dekat dengan saudaraku umat Islam Indonesia dari yang Radikal sampai yang
>Liberal. Aku pernah maen dengan brother brother Arab di Mesjid. Dengan anak
>anak Melayunya aku juga ikut main, yang kalau sedang ngumpul, bisa bikin
>pelataran parkir jadi seperti "European Car dealer". Aku juga kenal dengan
>banyak orang Indonesia, yang karena krismon, akhirnya pergi dan mengadu nasip
>untuk mencari lembaran dollar dinegara ini. Begitu banyak orang..., aku pun
>juga pernah kenal beberapa Pendeta disini, anak anak Batak macam si Ucok,
>anak anak Menado, anak anak Cina dan berbagai macam orang dari berbagai macam
>latar belakang.
>
>Aku jadi tahu kehidupan mereka ( terutama para imigran ); kesenangan dan
>kegembiraan serta kesedihan dan kesusahan mereka. Seperti sekarang, hidup di
>California mulai susah untuk para imigran gelap. Untuk mendapatkan driver
>licence saja, mereka harus menunjukan greencard. Dan greencard selalu
>berganti bentuk dalam beberapa tahun sekali dan semakin susah dipalsukan.
>Makanya banyak yang mulai pindah dari Calie, dan Colo adalah salah satu
>tujuan dimana ekonomi sedang berkembang dan begitu banyak pekerjaan tersedia
>sementara begitu sedikit orang yang ada untuk dipekerjakan...
>
>Bagi mereka para imigran yang sudah bertahun tahun tinggal di Amerika,
>kembali ke Indonesia bukanlah pilihan. "Life is soo good here that I wont
>even think to go back to Ibu Pertiwi".
>
>Tapi buat kita yang student, kembali ke Indonesia menjanjikan lebih banyak
>opportunity.
>Banyak alumni this organization called "Permias" yang pulang dan menikah,
>kerja dan hidup lebih makmur daripada sebelumnya. Walaupun masih ada yang
>nganggur saat ini, jumlah mereka lebih sedikit daripada yang bekerja.
>
>Tiba tiba aku sudah sampai di Speer Boulevard, beberapa belokan lagi dan
>sampai lah aku di rumah. Aku masih berpikir...apa rasanya menjadi Ucok. Aku
>masih tidak bisa berpikir untuk menyandarkan hidupku di negeri ini sampai
>tua. Bagaimanapun, aku harus pulang ke Indonesia, biarpun sehancur apapun
>negeri itu....
>
>Kadang aku berpikir kalau aku sangat beruntung, dan kadang aku berpikir kalau
>mereka juga sangat beruntung. Aku cuma berharap kalau Indonesian-American
>suatu saat bisa hidup lebih baik dan tetap ingat akan identitasnya..sebagai
>orang Indonesia...
>
>Dan sekarang si Ucok sudah berada di I-70 west menuju Calie..dan malam itu
>juga ratusan orang Indonesia mulai kembali bekerja...sebagai tukang koran,
>buruh pabrik dan puluhan macam pekerjaan lainnya. Dan aku sudah sampai di
>apartemen ku yang hangat dan nyaman...life goes on..
>
>
>Arya




------------------------------------------------------------
Happy New Millenium from the staff at DCEmail.com
http://www.dcemail.com -  FREE Email for the Community

Kirim email ke