An essay dedicated to imigrans outthere


Suatu Jumat sore yang tenang, ketika sedang dalam perjalanan pulang ke
Downtown, aku bertemu dengan Ucok di depan apartementnya dan tengahnya
bersiap siap memasukkan beberapa tas di Honda Civic 95nya. Dengan heran aku
bertanya:
Hey Ucok..., mau kemana kaw ini??. "I'm goin back to Calie, Lae..", katanya.
"Bah!! orang orang pada pindah ke Colorado dan kaw pun pulang pula ke Calie?
Macam mana kaw ini Cok?", tanyaku lagi. "Oh..I want to visit my girlfriend,
lae Indra.., I will be back next week...", katanya dengan kalem.

Kadang aku suka sebel kalau bicara dengan Ucok, karena walaupun fasih
berbahasa Indonesia, Ucok lebih merasa enak untuk berbicara bahasa Inggris.
Tapi aku bisa memaklumi. Ucok, yang lahir di Medan, tapi besar di Redland,
Calie ( fornia ), memang besar di dalam lingkungan imigran Indonesia, dimana
bahasa Indonesia, Inggris dan batak adalah bahasa mereka sehari hari dan
mereka bisa memilih untuk siapa bahasa yang akan mereka pergunakan.

"Lae Indra mau titip apa dari Calie?", tanyanya.
Aku terdiam, dan sambil berkelakar aku menjawab, " Yoshinoya!!..oh
jangan..kalau Yoshinoya doang, disini udah banyak teriyaki chicken. Gue mau
Sanamluang, Cok!
loe bisa bawain ngga?"
"Ha..ha..ha.., tidak bisa lae...basi nanti kalau sampai disini", jawabnya.
Sambil tersenyum aku berpesan, "Udahlah, gue sih gampang..., jalan jalan aja
lah loe sana dan ati ati dijalan. Inget!, kalau lewat I-70 polisinya banyak
di Utah, santai santai aja okey?".
"Sip lae...", katanya

Kita pun berpisah setelah itu. Dalam perjalanan pulang aku tiba tiba merasa
bersyukur, betapa semenjak tinggal di Amerika lima tahun yang lalu sampai
saat ini, aku bisa bertemu dengan beragam orang dari berbagai macam jalan
kehidupan. Sesuatu yang malah tidak bisa aku temukan di Jakarta. Aku pernah
dekat dengan saudaraku umat Islam Indonesia dari yang Radikal sampai yang
Liberal. Aku pernah maen dengan brother brother Arab di Mesjid. Dengan anak
anak Melayunya aku juga ikut main, yang kalau sedang ngumpul, bisa bikin
pelataran parkir jadi seperti "European Car dealer". Aku juga kenal dengan
banyak orang Indonesia, yang karena krismon, akhirnya pergi dan mengadu nasip
untuk mencari lembaran dollar dinegara ini. Begitu banyak orang..., aku pun
juga pernah kenal beberapa Pendeta disini, anak anak Batak macam si Ucok,
anak anak Menado, anak anak Cina dan berbagai macam orang dari berbagai macam
latar belakang.

Aku jadi tahu kehidupan mereka ( terutama para imigran ); kesenangan dan
kegembiraan serta kesedihan dan kesusahan mereka. Seperti sekarang, hidup di
California mulai susah untuk para imigran gelap. Untuk mendapatkan driver
licence saja, mereka harus menunjukan greencard. Dan greencard selalu
berganti bentuk dalam beberapa tahun sekali dan semakin susah dipalsukan.
Makanya banyak yang mulai pindah dari Calie, dan Colo adalah salah satu
tujuan dimana ekonomi sedang berkembang dan begitu banyak pekerjaan tersedia
sementara begitu sedikit orang yang ada untuk dipekerjakan...

Bagi mereka para imigran yang sudah bertahun tahun tinggal di Amerika,
kembali ke Indonesia bukanlah pilihan. "Life is soo good here that I wont
even think to go back to Ibu Pertiwi".

Tapi buat kita yang student, kembali ke Indonesia menjanjikan lebih banyak
opportunity.
Banyak alumni this organization called "Permias" yang pulang dan menikah,
kerja dan hidup lebih makmur daripada sebelumnya. Walaupun masih ada yang
nganggur saat ini, jumlah mereka lebih sedikit daripada yang bekerja.

Tiba tiba aku sudah sampai di Speer Boulevard, beberapa belokan lagi dan
sampai lah aku di rumah. Aku masih berpikir...apa rasanya menjadi Ucok. Aku
masih tidak bisa berpikir untuk menyandarkan hidupku di negeri ini sampai
tua. Bagaimanapun, aku harus pulang ke Indonesia, biarpun sehancur apapun
negeri itu....

Kadang aku berpikir kalau aku sangat beruntung, dan kadang aku berpikir kalau
mereka juga sangat beruntung. Aku cuma berharap kalau Indonesian-American
suatu saat bisa hidup lebih baik dan tetap ingat akan identitasnya..sebagai
orang Indonesia...

Dan sekarang si Ucok sudah berada di I-70 west menuju Calie..dan malam itu
juga ratusan orang Indonesia mulai kembali bekerja...sebagai tukang koran,
buruh pabrik dan puluhan macam pekerjaan lainnya. Dan aku sudah sampai di
apartemen ku yang hangat dan nyaman...life goes on..


Arya

Kirim email ke