Mas Arya
Tolong anda kupas dari ajaran Islam :
Bagaimana menawarkan barang kepada seorang konsumen dengan asumsi bahwa
konsumen itu lebih bodoh daripada kita tentang seluk-beluk barang tersebut.
Salam,
Nasrullah Idris
Sebetulnya kalau boleh tau, apasih yang anda cari dari pertanyaan diatas?
Saya bukan seorang yang berhak disebut guru agama, guru ilmu fiqh, guru
sejarah Islam dan sebagainya karena kurangnya ilmu yang saya miliki didalam
pelajaran agama. Jadi kalau saya memberi jawaban, pastinya kurang lengkap dan
sempurna. Tapi bukan berarti saya tidak bisa menjawab, karena Insya Allah
rata rata pemeluk agama Islam dapat menjawab pertanyaan diatas.
pertanyaan dari: (Tolong anda kupas dari ajaran Islam)
Bagaimana menawarkan barang kepada seorang konsumen dengan asumsi bahwa
konsumen itu lebih bodoh daripada kita tentang seluk-beluk barang tersebut,
adalah sebagai berikut:
Menjual barang yang buruk kualitasnya dan menipu pembeli dengan mengatakan
bahwa barang itu bagus adalah sesuatu yang terlarang. Itu sudah pasti. Anda
pasti tidak suka kalau anda ditipu tukang duren dengan mengatakan kalau duren
nya itu matang, padahal sesampai dirumah, anda menemukan bahwa duren itu
busuk. Cara penjualan seperti itu tidak dibenarkan oleh agama. Kalau anda
pemeluk agama Islam dan belajar agama sejak kecil tentunya anda tahu itu Kang
Acu.
Saya punya pemikiran bahwa memperlakukan konsumen sebagai orang yang bodoh
merupakan tindakan yang kurang pantas dari sudut agama. Karena hal ini
mengakibatkan si penjual dapat mempunyai niat untuk membodoh bodohi calon
pembeli atau menipunya dengan memberikan informasi yang berlebihan mengenai
produk yang dijual. Padahal apa yang dikatakan si penjual belum tentu benar.
Yang paling baik adalah menghargai konsumen. Pelanggan adalah raja, itu sudah
menjadi pegangan para pedagang pedagang yang berhasil sejak jaman jalur sutra
sampai sekarang. Coba lihat cara Nabi Muhammad SAW berdagang. Kalau anda
membuka buku buku perdagangan Islam, anda akan menemukan betapa Nabi sangat
menghargai pelanggan. Cara penjualannya yang jujur membuat beliau menjadi
pedagang yang terkenal waktu itu. Di Jakarta Ayah saya punya buku Ekonomi
Islam yang juga menjelaskan tata cara perdagangan yang dilakukan Nabi waktu
itu. Sayang saya tidak sempat membawanya kemari. Jadi saya tidak bisa lebih
memperinci lagi disini karena kurangnya sumber bacaan.
Sekali lagi Kang Acu, pertanyaan anda ini bisa anda dapatkan secara jelas
dari buku buku agama di Indonesia. Kalau anda mempunyai teman teman dari
IAIN, mereka dapat menjelaskan lebih jelas daripada saya. Makanya agak
terkejut juga saya membaca email balasan anda ini. Maaf kalau kurang ilmiah
atau tidak lengkap. Karena saya sudah berdiskusi dengan anda, maka saya harus
bisa menjawab semampu saya.
Arya