In a message dated 4/12/00 11:16:27 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

>      Ya ya ya saya mengerti maksud anda.
>       Tetapi untuk memastikannya ya akan semakin kalau anda melakukan survey
>  melalui jaluran pribadi. Itu juga kalau sempat.

Irwan:
Apakah kesimpulan anda sebelumnya adalah berdasarkan
survey lewat japri? Berapa banyak yang lewat japri? Berapa
banyak partisipan yang netral, berapa banyak yang memang
pada dasarnya sudah pro ke satu pihak? Dan masih banyak
lagi pertanyaan2 yg bisa diajukan untuk menguji kevalidan dari
suatu survey. Itulah sebabnya saya kurang tertarik untuk
melakukan survey untuk satu hal yg menurut saya tingkat
kepentingannya sangat rendah. Ditambah lagi dalam menulis
atau berkomentar atas satu topik disini, saya ngga pusingin
dukung2an.

Nasrullah:
>       Yang mungkin harus diperhatikan juga adalah adalah adanya segmen
netter
>  di mana mereka "pro sekaligus kontra". Artinya, pro terhadap substansi
>  permasalahan, tetapi kontra terhadap cara penyampaiannya.
>       Misalkan saya menyampaikan posting : "Presiden Republik Indonesia :
>  Irwan Ariston Napitupulu".
>       Terus ada komentar :
>       "Hai Nasrullah Idris ! Otak kamu lagi sinting ya... Main seruduk aja
>  saja. Amburadul lho. Dasar kamu goblog. Baca koran nggak ? Kata siapa
>  Presiden Republik Indonesia itu Irwan Ariston Napitupulu"
>       Di satu sisi anda akan mendukung koreksian komentator itu kan. Di sisi
>  lain nurani anda akan menyayangkan cara penyampaiannya.

Irwan:
Saya mendukung sikap anda tersebut selama hal itu
anda lakukan dengan konsisten. Sayangnya, saya perhatikan
anda tidak konsisten dalam bersikap. Coba lihat lagi, kenapa
justru ketika rekan Datubara (dan juga dari Moko tampaknya)
yang berkomentar cukup keras atas sikap yang bisa dibilang
kurang terpuji dari rekan Brawijaya, anda kemudian baru
merespon balik? Padahal, sebelum mereka, sudah ada yang
menegur tidak kalah kerasnya kepada FNU Brawijaya
dalam posisinya sebagai Jeffrey Anjasmara.
Rekan Ida dan Budi berkali2 menegur Jaya (JA) untuk menggunakan
kata2 yang lebih sopan dalam menyampaikan pemikiran.
Nah, coba anda lihat sendiri, apakah anda sudah bersikap
konsisten akan masalah ini?

Pak Nasrullah yang kalau tidak salah saya simpulkan dari
penuturan di atas, termasuk pihak yang ingin bila seseorang
menegur dengan cara yang sopan, seharusnya bila hal tersebut
dilakukan dengan konsisten tanpa ada unsur2 keberpihakan, maka
sudah sejak dari dulu Pak Nasrullah menegur cara Jaya (JA)
dalam menulis. Yang jadi pertanyaan saya adalah, apa yang
menjadi alasan Pak Nasrullah tidak melakukannya kepada rekan
Jaya (JA), tapi melakukannya kepada rekan Datubara atau pun Moko?
Silahkan Pak Nasrullah merenungkannya di dalam masa pertapaan
anda beberapa hari ini.

Konsistensi dalam bersikap. Ini yang menurut saya perlu
lebih diperhatikan.

Bagi saya pribadi, saya lebih berfokus pada inti permasalahan.
Pemalsuan identitas dengan maksud tidak benar, jelas bagi
saya adalah suatu hal yang tidak bisa dibenarkan.
Jangan hanya karena ada yang menegur secara keras, lalu
kita jadi berpindah fokus permasalahannya. Ini jelas tidak sehat.
Saya pun maklum, bahwa besar kemungkinan terjadi simpati
akan mengalir ke pihak yang terlalu diserang. Tapi karena saya
selalu berusaha untuk fokus pada permasalahan dan ngga mau
dialihkan dari permasalahan itu sendiri, simpati saya hanya
akan jatuh kepada kebenaran.
Teguran yang keras, bisa jadi kurang berkenan bagi sebagian
orang. Tapi, teguran yang keras bagi saya tidak akan merubah
status orang yang bersalah menjadi dibenarkan.

Mudah2an, rekan Nasrullah setelah membaca ini jadi mau
bersikap lebih konsisten.
Kalau untuk rekan Jaya, saya sendiri tidak terlalu berharap lagi
dia mampu untuk bersikap konsisten dalam berlogika
mengingat dari diskusi yang sudah dilangsungkan, dia tampaknya
tidak berani melihat ketidak-konsistenan berlogika yang sudah
dibeberkan di milis ini.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke