In a message dated 4/12/00 11:20:02 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
> Saya rasa ada baiknya kalau menteri2 di jajaran EKUIN
> dicari yang professional & NON-PARTISAN.
> Kalau partisan, kok cenderung 'saling-jegal' & kurang
> kompak jadinya.
Irwan:
Saya justru melihat letak permasalahan kabinet kita sekarang
itu karena kabinet ini disusun atas banyak tangan dan banyak
pihak/kepentingan. Dari awal dulu sudah saya katakan dan
tentang kabinet dagang sapi seperti ini. Karena bentuk kabinet
seperti ini akan sulit nantinya siapa yg bertanggung jawab terhadap
siapa. Kontrol menjadi lemah dan presidennya sendiri ngga bisa
optimal karena pembantu2nya bisa saja tidak sejalan dengan beliau.
Saya lebih setuju semua diserahkan kepada presiden.
Biarlah presiden memiliki kebebasan penuh dalam memilih
pembantu2nya di kabinet. Toh, pada akhirnya nanti presiden
sendiri yg akan mempertanggung jawabkan. Fungsi kontrol jadi
lebih bisa dijalankan ketimbang seperti sekarang.
Masing2 parpol berusaha melindungi menteri yang disodorkannya
dulu. Kalau menterinya mau diutak atik, maka pimpinan partainya
langsung pasang kuda2 atau malah ada yang sampai mengancaman.
Tentunya, masih kita ingat jelas bagaimana dulu Amien Rais
bersikap sangat keras ketika "orang"nya dipemerintahan (menkeu)
dipermasalahkan. Sekarang, rumorsnya katanya posisi menko.
PP:
> FB memang brilliant, sayangnya orang satu ini --
> tampaknya kurang bisa kerja sama (menurut info yang
> saya terima).
Irwan:
Kerjasama dengan siapa? Dengan Amien Rais di PAN?
Apa ini yang menjadi tolok ukurnya?
FB itu suatu sosok yang idealis. Visinya jelas.
Kemampuannya, tidak perlu diragukan.
Nah, tinggal terserah GD saja, apakah menurut GD,
FB bisa bekerja sama dan memiliki visi yang sama
dengan GD.
PP:
> Padahal untuk jabatan Menteri EKUIN
> perlu orang yang 'leadership style'-nya acceptable.
> Kalau alternatifnya DK & FB saya kira DK lebih pantas
> menyandang jabatan itu. Yang mungkin perlu dipertajam,
> justru visi "kerakyatan"-nya...Biasanya (kata orang)
> orientasi ekonom UI lebih ke arah ekonomi
> menengah-besar.
Irwan:
Saya tidak tahu pendapat di atas muncul dari mana.
Kalau dibilang ekonom UI lebih membicarakan ekonomi
secara makro, saya bisa terima.
Saya kurang setuju DK mengingat pos Dubes AS itu
cukup penting sebagai jembatan pemerintah Indonesia
dengan AS. Nah, kalau DK dipindah ke jakarta, lha
yang mau ngisi pos disini sapa?
Apalagi bila melihat posisi menko itu menurut saya lebih
hanya sebagai koordinator saja, ujung tombaknya justru
berada di tangan menteri2 yg memimpin departemen yg
berada di bawah menko.
Oh ya, ngomong2 bisa dijelaskan lebih lanjut pengertian
dari visi "kerakyatan" itu yang seperti apa sih sebenarnya?
PP:
> Alternatif lainnya, Mubyarto (yg juga non-partisan)
> sangat pas untuk itu.
Irwan:
Pengetahuan saya terbatas mengenai Mubyarto.
Setahu saya dia dari UGM dan sempat naik namanya
ketika bicara soal koperasi.
Penjelasan anda lebih jauh tentang Mubyarto akan lebih
memberikan gambaran buat saya. Terima kasih sebelumnya.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu