Pada suatu hari pernah saya mengatakan kepada Saudara Dharma Datubara (kurang
lebih) bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa yang ramah tamah seperti yang
digembar gemborkan selama ini. Saya lebih setuju pada pendapat bahwa bangsa
Indonesia itu tidak beda dengan bangsa Mongol jaman dahulu atau bangsa bangsa
lain yang haus darah.

Kok bisa sampai berpendapat demikian? Sejarah kita sejak jaman dahulu
menunjukan bahwa kita selalu terlibat conflict antara kita sendiri atau
dengan bangsa bangsa lain. Biasanya orang merujuk masa lalu untuk meramal
masa depan. Jadi apakah generasi bangsa Indonesia masih akan berkelakuan sama
dengan para pendahulunya?

Coba tengok sekolah sekolah dan universitas di Indonesia sekarang. Setiap
taun pasti ada kekerasaan dan selalu ada memakan korban. Entah itu dari
proses mapras atau perkelahian antar sekolah atau antar jurusan. Disini juga
tidak kalah bedanya. Anda boleh saja mengaku sedang mengambil Master atau
PhD. Tapi kelakuan tidak dapat dirubah.
Perkelahian fisik tidak mungkin terjadi, maka terjadilah perkelahian
cyberspace. Saya berani bertaruh bahwa kalau kita semua ini dikumpulkan dalam
satu tempat, cuma butuh beberapa menit untuk memancing keributan antar kita
semua.

Anda boleh bilang: Saya ini sudah tua, sudah berkeluarga, sudah mature, ada
penghasilan, berpendidikan tinggi, sekolah di Amerika..maka tidak mungkin
saya mau melampiaskan emosi saya begitu saja seperti anak anak SMA di
Jakarta. Benar begitu? tidak juga.

Anda berasal dari Indonesia. Sedikit banyak hal ini memperngaruhi pola pikir
dan emosi anda. Kalau memang argumen saya tidak benar, maka milis ini
seharusnya menjadi tempat dimana mahasiswanya saling menyapa dan saling
bertukar informasi secara sehat tanpa ada penyerangan terhadap individual.

Kita perlu mau untuk menyadari bahwa kita ini jauh dari cara bertukar pikiran
yang sehat.
Saya sendiri kadang kadang bisa terpancing emosinya kalau membaca tulisan
yang saya anggap kurang ajar. Maka saya sering berpikir, mungkin memang
sebaiknya pihak yang bertikai di milis ini dipertemukan untuk melampiaskan
emosinya secara fisik. Mungkin kelihatannya sangat tidak baik, tapi hal ini
diperlukan untuk melepaskan unek unek yang ada di dalam diri masing masing.

Saya sering melihat kasus bahwa dari orang orang yang suka terlibat
perkelahian malah akhirnya menjadi bersahabat, walau banyak juga yang malah
makin dendam sampai akhir hayatnya. Jadi apa yang seharusnya kita lakukan?

Kalau kita merasa bangga dan bersyukur bahwa kita adalah sedikit dari orang
Indonesia yang beruntung untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, maka
seharusnya anda harus membuktikannya dari cara berdiskusi. Kalau emosi anda
tidak sanggup beramah tamah dengan lawan bicara anda, silahkan tanya saja
langsung apa sebenarnya yang diinginkan lawan bicara anda. Mungkin dia memang
hanya ingin bertukar pikiran atau sejelek jeleknya, ingin cari ribut.

Disini saya tidak bilang kalau anda semua harus saling bertemu dan langsung
berantem.
Saya ingin membuka pikiran anda bahwa perkelahian, suka atau tidak adalah
salah satu pilihan dalam mengakhiri conflict, walau untuk sementara. Hal ini
saya ungkapkan karena perdebatan dan caci maki lewat internet hanya membuat
pihak yang bertikai semakin emosi tanpa ada pipa pengeluarannya. Jangan
sampai karena tulisan lawan bicara anda di internet menyebabkan anda
melampiaskan kemarahan kepada keluarga anda dirumah.
Kalau memang sudah sampai tahap demikian, kenapa tidak sekalian saja bertemu
dengan lawan bicara anda di internet?

Akhir kata, saya juga mengingatkan kalau anda tidak suka terlibat conflict
atau debat kusir dengan siapapun, tapi cepat emosi dengan tulisan tulisan
yang bertebaran di internet, maka jangan ragu ragu. Segeralah matikan
komputer anda, ajak anak istri anda menikmati udara diluar rumah, atau
segeralah berangkat ke kampus dan ajak professor anda berdiskusi. Dengan
demikian ilmu makin bertambah, dan anda tidak punya beban emosi apapun dan
yang penting, anda tidak akan benjol benjol!

Bagi anda yang memang datang ke internet untuk mencari ribut, segeralah
matikan komputer anda dan pergi lah ke gym kampus. Tanya bagian informasi
mengenai kelas beladiri atau tinju. Silah kan ikuti kegiatan kegiatan yang
ada. Dengan demikian emosi anda akan tersalurkan, ilmu beladiri anda akan
meningkat dan anda tidak akan menghabiskan waktu untuk ribut ribut dengan
orang Indonesia yang jaraknya ribuan miles dari rumah anda.


Arya

Kirim email ke