Christianto Wibisono ANALISIS WashingTon DC residen Gus Dur sedang dilanda gelombang oposisi sebagai dampak lengsernya Laksamana dan Kalla, saya sangat prihatin merenungkan rentetan slip of the tongue, atau ralat mengenai statement yang sudah telanjur Anda keluarkan, dan sangat mempengaruhi kredibilitas dan legitimasi Anda. Dr Arief Budiman yang biasanya paling netral, sudah begitu jenuh sehingga mulai memikirkan hidup tanpa Presiden Gus Dur. Arief Budiman bukan politisi dan tidak tergolong kelompok Machiavellis, Brutus atau Ken Arok, melainkan benar-benar sebagai cendekiawan di atas angin, di luar kubu politik yang bersaing. Kalau Arief Budiman sudah kehilangan kesabarannya, apalagi para politisi. Tapi para politisi sedang melakukan kalkulasi apakah mereka bisa mengumpulkan cukup suara untuk menggusur Anda pada SU MPR bulan Agustus, yang bisa disulap menjadi Sidang Istimewa. Pertama, memang kelemahan fisik Anda merupakan kendala, sehingga Anda tidak dapat melakukan check and recheck seperti wartawan yang harus meliput kedua pihak. Cepat sekali bisikan tentang seseorang dari seseorang menjadi bahan statement politik Anda, seperti misalnya kasus Tomy Winata yang ternyata keliru. Tapi Tomy, seperti juga Laksamana, mengatakan bahwa keduanya kasihan terhadap Anda dan tidak ingin menggugat atau menuntut Anda seperti Parni Hadi menggugat soal Antara. Kedua, pembisik sekitar Anda tidak mampu lagi membisiki Anda, karena Anda sudah mirip Bung Karno dan Pak Harto pada akhir pemerintahan mereka. Keduanya terlalu percaya diri, kepala batu, dan keras kepala, serta sulit menghargai pendapat orang lain, dan merasa mendapat wangsit khusus untuk memimpin negara ini dengan tenaga dalam yang istimewa dan tidak perlu mendengar nasihat orang lain. Saya juga terkejut membaca wawancara Anda di Australian Financial Review bahwa Anda ingin pensiun umur 60 tahun, yang berarti tahun depan, dan rencana perjalanan Anda ke Mesir. Terus terang saja sekarang ini antara pemikiran rasional dan mitos klenik sudah terjadi integrasi yang sulit dibedakan dan dipisahkan. Dua presiden Indonesia lengser setelah mencapai klimaks posisi politiknya, dan keduanya selalu baru pulang dari Mesir. Bung Karno kehilangan wangsitnya 1 Oktober 1965 ketika Mayor Jenderal Soeharto menolak perintah dan panggilan Panglima Tertinggi Sukarno ke Halim. Waktu itu belum satu bulan sejak Bung Karno tiba kembali dari Mesir dan menurut rencana akan mengikuti KTT Asia Afrika kedua di Aljazair. Tapi, Aljazair membatalkan KTT karena tentara Aljazair di bawah Kolonel Boumedienne melakukan kudeta dan memenjarakan Presiden Ahmed Ben Bella. Di Kairo Bung Karno memerintahkan Menlu Subandrio untuk membuka dokumen Gilchrist yang oleh Inggris baru-baru ini diakui sebagai bagian dari konspirasi Dinas Rahasia Inggris M-16 dan CIA untuk menjatuhkan Bung Karno. Soeharto seperti kita ketahui, juga pergi ke Mesir mengucapkan pidato lengser. Sementara di Jakarta, ada penculikan aktivis dan oknum tentara menembak mati mahasiswa Trisakti serta memancing gelombang massa dalam tragedi biadab 12-14 Mei 1998. Bung Karno masih diberi waktu oleh Tuhan beberapa bulan bahkan tahun setelah pulang dari Mesir, baru tergusur oleh Soeharto. Soeharto, langsung diturunkan oleh Tuhan yang sudah muak dengan 32 tahun arogansi Soeharto pada 21 Mei 1998. Sekarang Anda ingin ke Mesir setelah meninggalkan bom waktu di Tanah Air dengan pemecatan Laksamana dan Jusuf Kalla yang menimbulkan kontroversi. u Presiden Gus Dur yth, sesungguhnya kalkulasi elite politik anggota MPR merupakan perjudian yang lebih dahsyat ketimbang judi kasino maupun kapal pesiar yang ingin Anda berantas. Gara-gara undang-undang tentang kepresidenan yang tidak jelas, maka partai pemenang pemilu tidak bisa jadi presiden. Sehingga presiden dipilih oleh kompromi elite anggota MPR yang 700 orang. Dalam jumlah itu sebagian terbesar memang tidak punya karakter, atau selama 40 tahun sejak Bung Karno membubarkan DPR pemilu 1955, selalu diisi sebagian dengan pengangkatan oleh presiden lama. Sehingga presiden lama selalu bisa memperoleh suara terbanyak. Walaupun jika people power bergerak seperti bulan Mei 1998, anggota yang tadinya menjilat dan mengangkat Soeharto juga langsung bisa berubah jadi Brutus dan Ken Arok, menikam dengan keris secara kejam, menggeser Soeharto dari tahta. Pemilihan presiden gaya amburadul ini sudah lama saya tentang dan selalu ingin pemilihan presiden langsung, sebab Nigeria, Aljazair, Iran dan negara-negara yang tadinya dianggap lebih muda dari kita dalam berdemokrasi dan memperoleh kemerdekaan, ternyata malah sudah melakukan pemilihan presiden langsung. Elite kita yang semuanya bermental KKN tidak mau memberikan kedaulatan kepada rakyat. Seperti diteriakkan oleh WS Rendra dalam peresmian LSM Lembaga Muslimin Indonesia, rakyat selalu dicatut sejak zaman VOC, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Bung Karno, Soeharto, Habibie dan sekarang di era parpol, Orde Reformasi juga dicatut oleh parpol. Kalau parpol mau mempraktekkan KKN secara lestari dengan pola Soeharto, maka sikap Laksamana menolak money politics gaya Soeharto itu tentunya harus didukung, dan bukan malah dipecat. Kalau praktek money politics masih tetap dilakukan di bawah rezim Anda yang legitimate dan diharap bisa melakukan terobosan ke arah demokrasi, maka saya khawatir babad Mesir akan terulang dalam sejarah kepresidenan kita. Selama ini mitos presiden RI mengikuti rumusan Notonegoro, karena presiden pertama adalah Sukarno dan kedua adalah Soeharto. Jadi yang ketiga harus ne, yang dipaksakan jadi no atau na, karena Jawa tidak mengenal aliran ne, yang ada adalah no. Habibie mengklaim namanya adalah bahasa Arab, bermakna trisno. Jadi, bukan Try Sutrisno, melainkan Habibie. Presiden keempat mestinya berakhiran go, lalu dipaksakan dari go menjadi gus, Gus Dur. Tinggal menunggu yang kelima yaitu ro, Roro Mendut alias Megawati Soekarnoputri. Ini adalah perhitungan klenik yang dipaksakan. Sedang realitas politiknya yang terjadi ialah Susuhawa. Presiden pertama Sukarno, kedua Soeharto, ketiga Habibie dan keempat Wahid. Jadi akronim dari suku kata pertama menghasilkan Susuhawa. Sekarang menurut konstitusi, kalau para elite politik tidak bermental preman dan penjudi yang tidak fair, maka seharusnya Megawati naik kalau Anda berhalangan tetap. Nama Megawati yang dipakai apakah nama ayah atau suami, sebab menurut para jenderal pelaku 27 Juli, Megawati itu namanya Megawati Taufik Kiemas dan bukan Sukarnoputri. Ini tentu akal-akalan pokrol bambu politik. Pendeknya kalau tidak mau kudeta, maka presiden kelima jika Anda berhalangan adalah Megawati. Itu kalau mereka mau melengserkan Anda bulan Agustus ini. Kecuali kalau mereka sabar menunggu 2004, dan pemilihan presiden tidak tahu mau diatur konyol seperti apa. Melihat situasi politik yang demikian simpang-siur di Indonesia dan terutama belum mampunya kita melepaskan diri dari money politics dan mobpolitics, maka saya sekali lagi mengulangi usulan yang sudah bosan saya sampaikan dalam beberapa surat. Anda harus berani menyetop money politics dan KKN untuk semua partai, termasuk untuk PKB dan NU. Tidak ada lagi jabatan yang harus dikaitkan dengan upeti politik. Partai akan memperoleh matching funds dari APBN sesuai dengan jumlah voting yang diperoleh. Di luar itu tidak boleh ada lelang jabatan empuk di birokrasi dan BUMN untuk memerah wewenang publik dengan setoran, upeti dan sapi perah untuk dana partai. Kalau praktek KKN ini masih terus berlangsung di Indonesia, akan sulit sekali menuntaskan masalah Soeharto karena semua orang juga melanjutkan dan melestarikan pola KKN Soeharto. Kemudian mengenai kejahatan politiknya, pakai pola Afrika Selatan melalui Komisi Rekonsiliasi. Semua pelaku harus memberi ganti rugi kepada rakyat yang dibunuh dan diperkosa. Ahli waris dan keluarga korban yang dibunuh dan diperkosa dari Aceh sampai Irian lewat Jakarta (12-14 Mei 1998) harus diberi santunan oleh negara, dan para oknum pelaku yang dulu menjadi penguasa membunuhi rakyatnya sendiri harus memberi ganti rugi tersebut. u Presiden Gus Dur yth, surat ini saya tulis dengan kepercayaan dan kerinduan akan terobosan moral dan etika yang luar biasa, serta kemauan politik Anda untuk melakukan transformasi sistem politik Indonesia dari pola KKN rezim Soeharto menjadi pola transparan demokrasi modern. Tapi saya juga tidak terlalu berharap bahwa Anda sendirian bisa menegakkan sistem politik baru, kalau elite politik yang sekarang mendampingi atau bersaing dengan Anda masih terpukau oleh cara berpolitik model lama. Kalau pola Machiavellis, Ken Arok, Brutus, dan praktek-praktek penyalahgunaan wewenang dan komersialisasi jabatan, lelang posisi birokrasi dan direksi BUMN untuk penyetor upeti terbanyak masih terus dilakukan, maka Indonesia tidak akan mentas dari keterpurukan. Dalam konteks ini tidak keliru bila IMF menyatakan menunda pencairan dana selama masalah KKN tidak dituntaskan. Sebab uang yang dipinjamkan oleh IMF itu adalah uang pembayar pajak negara donor yang setiap hari bisa berdemo di Washington dan Tokyo, atau London dan Berlin menuntut penggunaan yang tepat dari utang tersebut. Dari Washington ini saya sangat cemas dan prihatin bila mitos soal Notonegoro dan Susuhawa ini menjadi satu pola berpolitik serba tertutup, penuh intrik dan manipulasi, yang hanya menguntungkan elite politik pembajak suara rakyat. Sementara rakyatnya sendiri seperti kata Juwono Sudarsono, memang masih terjebak pada tuntutan sandang pangan dan pekerjaan. Sehingga dibayar puluhan ribu untuk demo dan mengacungkan golok seenaknya pun rela. Saya masih mempunyai harapan bahwa Anda masih terlalu ''muda'' dan terlalu ''sebentar'' menjadi presiden untuk terkena ''sindrom Mesir'' yang dulu menimpa dua presiden kita, Sukarno dan Soeharto. Sehingga keduanya kualat mumi Mesir, dan lengser dari kepresidenan setelah mampir ke Mesir dan gagal dalam ambisinya untuk melestarikan kekuasaan seumur hidup. Dua presiden ingin jadi presiden seumur hidup, keduanya ke Mesir, seolah ingin minta wangsit atau mengikuti jejak mumi Firaun Mesir. Tapi keduanya kualat karena Tuhan tidak merestui dan mencopot kepresidenan mereka secara tidak terduga oleh intrik busuk dari manusia sekitar Sukarno dan Soeharto, serta arogansi dua presiden tersebut yang juga sudah melewati batas kesabaran Tuhan. Saya ingin mendoakan kiranya Anda selaku presiden keempat yang baru enam bulan, tidak terjebak kepada ''sindrom Mesir'' yang terbukti sangat tega dan tidak pandang bulu. Siapa pun yang melawan kodrat, ingin menyamai Tuhan dan memberhalakan diri sendiri sebagai the king can do no wrong, sehingga tidak boleh dikoreksi dan seenaknya memerintah negara sesuai selera pribadi, akan dihukum lengser oleh people power yang direstui oleh Tuhan sendiri. Surat ini saya tulis bukan hanya kepada Anda pribadi, melainkan supaya juga terbaca oleh elite yang lain yang juga gemar money politics, mobpolitics, Machiavellis, serta mengikuti teladan Ken Arok dan Brutus, agar mereka juga bertobat sehingga Indonesia bisa selamat dari kutukan Tuhan. Yaitu menjadi negara kumuh, melarat dan kuli di antara bangsa-bangsa di dunia. Karena elitenya telah merampok rakyatnya sampai miskin, jadi kuli, sedang elitenya kaya raya bergelimang pesawat jet pribadi dan harta karun KKN. Kita malu karena kita seperti Uganda yang minta diampuni utangnya, tapi presidennya membeli pesawat jet pribadi. Kita berteriak anti-KKN tapi praktek KKN tetap berlepotan melilit elite politik Indonesia pasca-Soeharto. Tragis. Ironis. u ____________________________________________________________________ Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1
