Jeff..jeff...Kita bukannya pengecut, kita hanya memperjuangkan
Hak kita secara damai dan didalam hukum. Kamu itu memang
mental preman ya...semua harus secara kekerasan...ini sudah
bukan jamannya lagi, heran saya di Rochester, premanismenya
tidak kalah dengan Bearland atau Palmeriam. 

Coba baca dan teliti lagi situasi sebelum penculikan, Karena
Malaysia belum menempatkan militernya di resort islan tersebut.
saya membaca dari sumber di berita Indonesia. Jelas saja
satpam-satpam tidak akan bisa melawan para serdadu-serdadu
gendeng ini. Kalah kuat lah...

Coba cari SEATO, bahwa penyerangan kepada salah satu
negara anggota adalah penyerangan terhadap semua negara
anggota, yang diartikan solidaritas militer mereka akan
sangat kental, dan Amerika adalah salah satu principal 
member of SEATO. 

Jelas, dalam dunia hukum, barang sengeketa tidak boleh
diperjual belikan sampai ada kejelasan siapa pemilik yang
sesungguhnya. Nah dalam kasus kita ini, Hukum International
belum dapat diterapkan secara bijaksana, dalam hal ini
tentunya sangat pro Malaysia, sehingga mereka berdagang
bebas di dalam pulau yang masih disengketakan tanpa terkena
teguran oleh Mahkamah international. 

Tapi penggunaan kekerasan dalam pengusiran para pedagang
ini jelas salah. Lah mereka bukan pedangan kaki lima
yang berdagang di tepi-tepi jalan kok, mereka membuka
resort dengan ijin yang tentunya dikeluarkan oleh Malaysia
bukan kita. Nanti, case pulau sipadan dimenangkan oleh kita
tapi para investor enggan kembali kesana karena dendam
kesumat pernah diusir pasukan walikota penangkap becak
terlarang. Wah susah dikita donk..investor kabur... Pikirkan
secara ekonomisnya. 

yah ngambil ide kok ke cina, siapa yang mau jalan-jalan 
di beijing, orang tentara cina saja mencapai 2 juta, Amerika
ditambah reserve baru, ini baru lho, hampir sejuta. Jelas
kalap donk para senator-senator di Washington D.C., ngirim
anak ayam walau dipersenjatai seperti komando tapi masih
kalah rasio. Ambil ide lain donk...saya ngambil ide 
Indonesia karena saya tahu jumlah tentara kita ngga lebih
dari jumlah tentara Amerika ditambah inggris. Aduh ketahuan
Military Science kamu masih kurang!!

Bandung lautan api!, kamu saja bakar rumahmu sendiri, ogah
saya bakar rumah saya...selain ngga ada insurance juga masih
rumah warisan kakek moyang, yang ada digampar Bapak ibu, Pak Le dan
Bu de. Enak saja bakar-bakar...kamu kira segampang itu
suruh rakyat membakar rumah sendiri, ditempelengi sama
hansip kamu....Sekarang bukannya jaman perang puputan lagi
mas...sekarang jaman perang ekonomi dan embargo, ngga 
bakalan deh kita perang secara terbuka lagi seperti
perang dunia 1 dan 2. Lagian, kalau anda yang nyuruh sih
ogah saya, mendingan bersihin kandang burung sekalian,
semoga laku dijual ke serdadu-serdadu bule, kibulin 
burung perkutut dengan burung Elang kesukaan mereka itu.
Sapa tau lantaran blond, mereka bego-bego banget.

Udah lah...nafsu anda yang gemar bertempur ini dihilangkan
dunia ini sudah jenuh dengan peperangan, capai kita sebagai
manusia gebuk-gebukan...mending belajar seperti kang acu
mikirin bagaimana dumb brain bisa sepintar alber einstein.

Mardhika Wisesa 

Jeffrey Anjasmara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Menyambung sambutan rekan Mardhika Wisesa bahwa pasukan AS dan Inggris bisa
jalan-jalan ke Monas, saya jadi makin prihatin. Ini adalah salah satu bentuk
kepengecutan kita (no offense ya).

Kalau Mardhika masih ingat, Malaysia juga menempatkan pasukan di situ.
Sedangkan kekawatiran bahwa AS akan jalan-jalan ke Monas, ya silakan saja.
Cuman AS nggak ada kepentingan dengan hal ini. Kalau begitu As melakukan
invasi tanpa dasar. Payahnya kita ini (dengan asumsi bahwa opini Mardhika
mewakili opini sebagian besar rakyat indonesia) ternyata benar-benar
pengecut yang mudah ditakut-takuti oleh negara besar.

Penempatan pasukan di Sipadan dan Ligitan harusnya tidak ada bedanya dengan
penempatan orang sipil di sana. Malaysia jelas sudah kelewatan dengan
mengabaikan keberatan yg sudah dilakukan secara sopan oleh Indonesia baik di
jaman Suharto maupun di jaman Gus Dur. Ibarat kita punya sengketa atas
rumah, dan rumahnya dinyatakan status quo. Lalu apakah anda boleh berdagang
di rumah itu? Itu yg dilakukan oleh Malaysia! Dengan dasar itu kita dapat
memperkarakan Malaysia. Kalau perlu mengusir pedagang itu, yaitu Malaysia.
Kalau perlu dengan kekerasan.

Lihat Spratly! Apakah ada pasukan AS yang jalan-jalan ke Manila atau ke
Beijing sehubungan dengan penempatan pasukan Philipina di salah satu pulau
di Spartly? Demikian juga dengan keberadaan China di salah satu pulau di
situ? Bagaimana dengan akal-akalan China yang mereklamasi pulau yg diduduki
itu sehingga makin luas? Tidak ada urusan dari pihak di luar pihak yg
bertikai untuk campur tangan, apalagi mau jalan-jalan di Monas. Kalau itu yg
terjadi, siap-siap bikin Bandung Lautan Api. Bukannya jadi banci.

Ciri-ciri kebancian kita ini benar-benar jauh dari sikap bermartabat dari
Vietnam. Mereka tak takut dengan 100.000 pasukan Perancis, dan membantai
mereka di Dien Bhien Phu. Korban di Vietnam? Jelas lebih banyak, tetapi
apakah mereka jadi takut dengan keperkasaan Perancis? Tidak!!! Mari lihat
lagi bagaimana AS meluncurkan tak kurang dari 600.000 pasukan ke Vietnam.
Tahu berapa total pasukan AS yg aktif saat ini? Cuman 1 juta!! Artinya
mereka mengerahkan 60% kekuatannya. Apakah Vietnam takut? Sejarah
membuktikan sebaliknya. Dan jelas mereka bukan bangsa pengecut. Kalau kita
membaca statistik Perang Vietnam, maka total pasukan AS yg diterjunkan
mencapai lebih dari 800.000 dengan jumlah korban 50.000 orang. Tahu berapa
korban Vietnam? Sebagai referensi, pasukan Vietnam Selatan yg mati kira-kira
1 juta. Dengan kelebihan dalam persenjataan AS + Vietnam Selatan (dan
kekejaman mereka dengan napalm dan orange agent), maka saya dapat katakan
angka 2 juta korban di pihak Vietnam Utara sangat konservatif. Apakah mereka
takut? Silakan jawab sendiri.

Indonesia paling tidak mempunyai dua pengalaman (yg sifatnya kolosal):
Peristiwa 10 Nov di Surabaya dan Bandung lautan Api. Tekad warga Surabaya
dan sekitarnya harus dibayar dengan tak kurang dari 300.000 nyawa. Ada yg
menyebut hampir satu juta, jadi ambil angka 500.000 nyawa hilang. Apakah
percuma? Tanpa pengorbanan mereka Inggris akan mudah mempreteli senjata dari
rakyat, dan Belanda lewat KNIL dengan mulus menguasai kita lagi. Andapun
tidak akan dapat dengan enak sholat lima waktu, dan selalu harus siap-siap
bila anak perempuan anda digondol serdadu bule, baik bule beneran atau bule
coklat kehitaman.

Seorang rekan pernah melihat film bagaimana rakyat dengan pentungan
mengeroyok tank Inggris (dokumentasi di Arsip Nasional). Nah, jangan bikin
malu rakyat Surabaya yg berbekal pentung, dan kita sekarang
terkencing-kencing ketakutan dengan keunggulan militer Malaysia yg cuman
segaris.

Tindakan Malaysia ini mirip tindakan China. Diam-diam tapi terus menerus
menancapkan kukunya ke tanah tersebut. Bagaimana kalau tidak ada response yg
cukup dari Indonesia? Gampang saja, dalam 10 tahun seluruh pulau akan jadi
resort-resort pariwisata milik Malaysia.

Buat Bung Utomo, apakah anda pernah dengar nama "Sandakan"? Itu adalah kota
sodom dan gomoroh yg berada di dalam wilayah Malaysia. Di tempat itu dulu
ribuan wanita dari Malaysia dan Indonesia dipaksa melacur (dengan diculik).
Sekarang, apa yg dilakukan oleh Malaysia di Sipadan? Membuat resort untuk
para bule bertelanjang di pinggir pantai. Dengan demikian, rasanya tidak
benar kalau kita diam saja bila Malaysia terus-terusan menampar muka kita,
baik dengan alasan nasionalisme maupun dengan alasan brotherhood in Islam.


Jeffrey Anjasmara

________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com


____________________________________________________________________
Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

Kirim email ke