In a message dated 6/3/00 9:11:22 AM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
> Jadi sekarang sudah setuju kalau tindakan banser itu tindakan brengsek
> nggak? Bukan apa-apa, giliran banser kok berkesan dimaafkan, sedangkan FPI
> kok tidak? Kenapa standarnya ganda? Apa karena banser berafiliasi ke NU,
dan
> ujungnya berafiliasi ke PKB (yg berujung lagi ke kelompok Mega)?
lho, sejak kapan saya menyetujui tindakan banser?
Khan juga dari awal sudah saya katakan bahwa lebih baik
mereka menggunakan jalur hukum atau sekalian aja boikot
koran Jawa Pos?
Koq anda memutar balikan tulisan saya sih? Dan ini bukan
kali pertamanya anda lakukan.
Silahkan lihat lagi gih arsip tulisan saya.
Pembahasan kemarin yg saya kembangkan selain soal
banser adalah soal kesalahan Jawa Pos. Saya ngga mau
tulis ulang lagi, soalnya udah dibahas dengan cukup panjang
lebar.
> Bagaimanapun, saya setuju pengadilan rakyat yg nggak jelas ini dihentikan.
> Capek lihatnya. Makin lama makin konyol.
>
> Satu lagi, posisi polisi yg ditelikung terus akan membuat penanganan kasus
> demo liar akan berlangsung. Bagaimana bisa bertindak kalau LSM
menjadikannya
> sbg amunisi. Tindakan perusakan kayak di Salemba mestinya ditangani dengan
> tegas. Persis kayak tindakan polisi yg mengamankan Washington, DC tempo
> hari.
Nah, dulu anda yg protes kalau polisi DC melakukan
tindakan tegas. Bahkan anda menyarankan polisi DC untuk
berguru ke polisi kita. Nih, saya kutipin lagi tulisan anda dulu
yg lengkapnya bisa dilihat di:
http://www.egroups.com/message/diskusi-permias/567?&start=521
------awal kutipan------
From: Jeffrey Anjasmara <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tue Apr 18, 2000 7:08am
Subject: Anti IMF?
MSNBC memberitakan tak kurang dari 1200 orang ditangkap. Kayaknya polisi DC
perlu belajar dari polisi Indonesia ya? Ada penegak HAM yg ada di sini yg
dapat menerangkan mengapa dalam satu hari bisa menangkap 600 orang? Baru
kena dorong sudah main tangkep. Baru kesel kalah main petak umpet sudah main
tangkep. Gimana dong?
--------akhir kutipan------
Sikapa mendua yg anda lakukan seperti di atas itu yg bikin
Indonesia semrawut dimana semua serba menurut maunya masing2,
seleranya masing2.
Cobalah anda untuk bersikap secara konsisten.
Ketidak konsistenan anda dalam menulis/bersikap semakin
mencerminkan seperti apa anda sebenarnya.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu