From: J. Parapak <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thursday, June 15, 2000 21:51
Subject: Re: [telematika] [ITB] Izin 9 penyelenggara VoIP ditutup <Was :
Gimana Nih?>
Hallo Bapak J. Parapak Yth :
Bapak J. Parapak:
***** Saya yakin siapapun tidak bisa lagi menghadang internet dan tak ada
yang bisa menghambat perkembangan teknologi, khususnya VoIP
Nasrullah Idris:
#####Malah VoIP itu bisa mengarah pada situasi/kondisi di mana pulsa seperti
air ledeng.
Tentu saja kalau kita membayangkan hal itu dengan bertitik tolak pada
perkembangan telekomunikasi Indonesia sekarang jelas akan menimbulkan
pertanyaan bertendesi keraguan.
Sebaliknya kalau dibayangkan dari sisi pemahaman terhadap berbagai
karakteristik jaringan telekomunikasi tersebut akan sangat mudah. Soalnya
akan berlanjut pada kalkulasi tehnis di mana memang mengarahkan pada
sistuasi/kondisi di mana pulsa seperti air ledeng.
Bisa dibayangkan ... bagaimana tarif komunikasi seperti dari Indonesia
ke USA. Bisa saja sama dengan tarif nonton televisi asing hanya mengandalkan
parabola.
Bapak J. Parapak:
*****Jadi yang paling perlu, sejalan dengan UU Tel yang baru, diresmikan
saja secepatnya, tak perlu terlalu diatur,agar membawa manfaat bagi rakyat.
Nasrullah Idris:
##### Untuk menurunkan tarif pulsa dalam situasi krismon ini jelas sangat
berat bagi Satelindo/Indosat/Telkom.
Tetapi bagaimana pun dampaknya terhadap apresiasi telepon harus
diperhatikan juga. Kenaikan tersebut suka tidak suka akan berpengaruh pada
frekwensi penggunaannya. Semakin besarnya prosentase penduduk yang berada di
bawah garis kemiskinan dewasa ini membuat mereka berpikir dua kali sebelum
menelepon, apalagi memasang telepon di rumahnya masing-masing.
Padahal telepon sangat diharapkan untuk meningkatkan kecerdasan bangsa
melalui interaksi informasi. Soalnya kalau sudah terjalin komunikasi antara
dua manusia, berarti sudah terciptalah "proses pendidikan dan penambahan
ilmu". Sedangkan kenyataannya sangat banyak follow-up yang bernilai tambah
setelah adanya percakapan lewat telepon. Coba saja kita tanyakan kepada
pelanggannya satu per satu. Yakinlah, umumnya mereka akan mengiyakan.
Memang masalah telekomunikasi harus dilihat lebih luas dalam kerangka
meningkatkan identitas bangsa melalui banyak bidang. Jadi harus dipikirkan
juga hubungan korelasi antara tarif telepon dengan kegairahannya
masing-masing.
Bapak J. Parapak:
*****Tarifpun baiknya serahkan pasar, bila perlu tarif maksimum saja.
Nasrullah Idris:
#####Banyak peluang Satelindo/Indosat/Telkom untuk kompetitif dalam jasa
pelayanan telekomunikasi tanpa harus menaikan pulsa. Termasuk ketika VoIP
sudah diizinkan di Indonesia.
Kan bisnis itu tidak harus berbicara masalah pulsa saja kan. Tetapi
juga bicara masalah "kreativitas dan implementasi". Bagaimana pun murahnya
pulsa telepon <malah gratis - misalkan>... tetapi kalau menelpon dilakukan
dalam suasana bising kan percuma saja.
Misalkan Telkom di Jakarta. Apa salahnya mendirikan kamar kedap suara
bagi pendatang dari luar Jakarta. Kamar itu dibuat sedemikian rupa sehingga
terasa seperti di rumah sendiri. Misalkan telepon gratis tetapi konsumen
dikenai tarif per jam untuk menyewa kamar.
Walaupun konsumen itu akan tinggal di rumah sanak-familinya... tetapi
mereka tetap bisa dijadikan pangsa pasar. Soalnya terkadang pendatang di
Jakarta tidak mau menelepon dari rumah sanak familinya bukan karena malu
atau apa. Tetapi takut ditanyai "menelepon ke mana" atau "takut terdengar"
<jadi faktor psikologis juga> - misalkan.
Bapak J. Parapak:
*****Saya sendiri berpendapat tarif untuk VoIP serahkan pasar.
Nasrullah Idris:
#####Memang dalam menghadapi era globalisasi di bidang telekomunikasi kita
harus sudah siap untuk tidak lagi berbicara masalah harga pulsa. Tetapi
meningkatkan pemikiran tentang berbagai "disain faktor" dengan bertumpu pada
kemampuan dalam "kecepatan enginnering", "kecepatan analisis", dan
"kecepatan kalkulasi".
Salam,
Nasrullah Idris
----------------------
Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi
http://bdg.centrin.net.id/~acu