Jumat, 16/6/2000, 18:01 WIB
Juwono, jenderal bintang tujuh, jenderal pusing
Laporan Elvy Yusanti


satunet.com - "Saya jenderal bintang tujuh." Tentu saja ini pernyataan tidak
serius yang dikemukakan Menhan Juwono Sudarsono.

Dalam sebuah diskusi kecil di Kantor LKBN Antara Juwono mengemukakan betapa
berat tugas yang harus diembannya agar bisa membawa perubahan bagi dephan,
dan umumnya TNI di masa yang akan datang dalam pemerintahan Presiden Gus Dur.

"Saya mengatakan ini (jenderal bintang tujuh) karena cukup pusing dengan
tugas-tugas saya," katanya sambil tersenyum. Kalimat bintang tujuh sendiri
merujuk pada merk obat sakit kepala.

Menurutnya, masyarakat saat ini harus dibiasakan merubah wacana hankam dan
pertahanan sebagaimana yang dipesankan Gus Dur kepadanya sebelum diberi tugas
sebagai menhan yang lebih dari tigapuluh tahun dijabat kalangan militer.

"Jika pada masa yang lalu, sebutannya menhankam tapi kali ini cukup menhan
saja," ujarnya. Yang penting, lanjutnya, bukan pada istilah yang berubah
tetapi prinsip bahwa TNI saat ini akan lebih banyak memusatkan perhatian pada
pertahanan negara sementara keamanan dibebankan pada Tri Tunggal yakni Polri,
Jaksa, dan MA.

"Masih banyak surat maupun sebutan jabatan untuk saya yang masih menggunakan
kalimat menhankam, padahal saya sudah menjabat posisi ini selama enam bulan,"
kata mantan Gubernur Lemhanas ini. Bagi Juwono, waktu yang dibutuhkan dalam
transisi wacana posisi TNI akan mendapatkan hasil paling tidak tiga hingga
lima tahun mendatang.

Juwono memaparkan, ada dua pola yang muncul akibat wacana yang dijalankan
pemerintah menyangkut TNI yakni di satu sisi, kalangan DPR dan pengamat
menyebutnya sebagai supremasi sipil atas militer dan mendesak untuk segera
dilakukan akhir tahun 2000. "Ini pandangan kalangan idealis yang sejak lama
mendambakan kendali sipil atas militer yang mengacu pada pola di Amerika,"
katanya.

Namun di sisi lain, kalangan militer sendiri menganggap masih perlu waktu
paling tidak sepuluh tahun kedepan untuk bisa mewujudkan hal ini dengan
berbagai alasan seperti belum adanya kesiapan sipil memegang kendali dengan
fenomena perilaku parpol-parpol yang dinilai belum tepat. Kalangan ini
menilai, sipil masih memerlukan dua kali pemilu lagi untuk siap memegang
kendali.

"Saya sendiri berharap, paling cepat tiga tahun dan paling lama lima tahun
(menjelang 2004) perangkat hukumnya siap dan secara bertahap Mabes TNI berada
di bawah Dephan, berbarengan dengan posisi Mabes Polri di bawah mendagri,"
tegas Juwono.

Dalam situasi yang diharapkan itu, tentu ada kerjasama saling mengisi dan
mantap antara politisi, pemerintah, dan TNI - hal yang tidak pernah
dibayangkan dalam kurun waktu 50 tahun. "Yang saya bayangkan saat ini baik
sipil maupun TNI sama-sama melakukan pembenahan diri," ujarnya.

Beban berat yang dialami Juwono memang tidak mengada-ngada. Anggaran untuk
TNI sebesar Rp10 trilyun dirasakan tidak mencukupi. Dari jumlah tersebut 60%
digunakan untuk gaji dan perawatan, 30% lainnya untuk anggaran rutin dan
pembangunan. Dana yang diperuntukkan untuk TNI masih menduduki urutan tujuh
dalam daftar alokasi dana APBN.

Belum lagi konflik di sejumlah daerah seperti Maluku, Aceh, dan Irian Jaya
yang tentu saja membutuhkan tambahan dana untuk personil di lapangan. "Dengan
sedikit dana kami harus menyiapkan operasional bela negara yang tangguh,
menyiapkan SDM yang bagus, serta meningkatkan kesejahteraan prajurit,"
ungkapnya.

Juwono mencontohkan, dana saat ini juga berdampak pengurangan jatah bensin
mobil patroli yang sebelumnya 10 liter/hari turun enam liter/hari. Hal ini
yang sering menimbulkan adanya praktek bisnis yang dilakukan anggota TNI
dengan pendirian sejumlah yayasan dan koperasi untuk menunjang anggaran resmi
baik di tingkat nasional, propinsi, kodam, dan korem.

Bisnis di TNI bukanlah hal baru, karena menurut Juwono telah dilakukan sejak
1950-an sejak Soeharto bertemu dengan Liem Siuw Liong di Semarang. Juwono
berpendapat, jika bisnis tersebur dilakukan transparan tentu tidak akan
menjadi masalah, namun kenyataannya banyak yang hanya menguntungkan
segelintir perwira tanpa sedikitpun mempedulikan nasib prajurit rendah.

Maka, pihaknya melalui Sekjen dan Irjen telah melakukan audit terhadap
bisnis-bisnis baik melalui PT maupun yayasan dan bentuk badan hukum lainnya
yang dilakukan TNI.

Dibanding dengan negara lain fasilitas yang dimiliki TNI masih kurang.
Seharusnya, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia diperlukan paling
tidak delapan kapal selam, namun Indonesia hanya punya dua. Juga, pesawat
tempur F-16 hanya memiliki sepuluh buah, sementara Singapore yang hanya
setitik wilayahnya dibanding Indonesia mengoperasikan 20 pesawat F-16. "Jika
anggaran resmi Singapore 4,2 miliar dolar kita hanya 1,2 miliar dolar," ujar
menhan.

Peralatan yang dimiliki TNI 30-40% masih dibawah standar, diantaranya radar
yang dibeli tahun 1982 sudah seharusnya diperbaharui karena tidak lagi
memadai, bahkan radar milik Lapangan Udara Cengkareng lebih canggih dibanding
yang dimiliki TNI.

Untuk mengurangi rasa pusingnya, Juwono berniat melakukan kerjasama dengan
konsultan ad-hock UI bidang ekonomi pertahanan agar bisa menggunakan secara
tepat anggaran dephan yang diupayakan sejalan dengan Bappenas dan Depkeu
dengan prinsip bagi tugas. Ini diharapkan, katanya agar setiap rupiah yang
digunakan untuk kegiatan apapun bagi TNI bisa dipertanggungjawabkan karena
kami selalu ingat uang tersebut milik negara.

Berkaitan dengan audit yang dilakukan terhadap sejumlah kantonr bisnis TNI
menhan selalu mengingatkan agar para perwira tinggi menyadari untuk tidak
lagi menerapkan pola-pola lama dengan memiliki rumah-rumah mewah dan
kendaraan mewah seperti Land Rover atau Land Cruiser. "Jangan ada lagi
jenderal-jenderal yang mengendarai motor besar untuk jalan-jalan. Ini tidak
saja menyakiti hari rakyat kecil tapi juga menyakiti prajurit yang bertugas
di jalanan," katanya.

Para prajurit kecil itu, mungkin akan berpikir dari mana mereka (perwira
tinggi) mendapatkan uang banyak untuk bisa membeli sebuah motor besar.
"Marilah kita menata kembali, jangan sampai kejadian yang lalu terulang.
Khususnya bagi perwira yang aktif janganlah, kalau untuk yang pensiun
silahkan karena itu rejeki anda," kata Juwono yang menilai dirinya dijadikan
lambang supremasi sipil atas militer.

Meski petinggi dephan dijabat kalangan sipil namun Juwono enggan untuk
mengisi orang sipil di jabatan sekjen maupun irjen karena dephan tidak bisa
disamakan oleh departemen lainnya. "Masih butuh waktu, untuk sementara masih
diukur dan diteliti untuk menempatkan orang sipil di sekjen dan irjen. Saya
menolak sipil disini karena tidak mau parpol masuk jabatan birokrasi. Saya
ingin dephan imune dari pengaruh sipil (parpol)," katanya. Juwono bersyukur,
hingga saat ini dirinya belum pernah mendapatkan titipan dari parpol-parpol
besar agar anggotanya dijadikan sekjen atau irjen.

Atas penempatannya sebagai menhan, hanya sebagian kecil saja dari kalangan
militer yang bersikap resistensi terhadap dirinya. Dirinya menduga hal itu
disebabkan mereka masih belum terbiasa dengan keberadaan sipil dan masih
menganggap kurang mampu. Namun banyak militer yang sepakat dengan dirinya
yang umumnya militer yang moderat dan kebanyakan pensiunan. "Mereka sepaham
dengan saya bahwa perubahan akan dilakukan secara bertahap," jelasnya.

Dalam diskusi yang dihadi Pimpinan LKBN Antara Mochammad Sobari, Juwono juga
menceritakan hal yang menyebabkan dirinya harus terbaring di rumah sakit
akibat serangan stroke ringan. "Saya sama sekali tidak pernah berolah raga
selama 18 bulan terakhir setelah menjadi mendikbud jamannya Pak Habibie,"
ujarnya singkat.

Jadi, katanya, stroke yang saya alami sama sekali bukan disebabkan oleh
perasaan stress yang saya alami setelah menjabat menhan. Juwono bercerita,
selama 512 hari menjadi mendikbud dirinya mengaku kewalahan dengan agenda
rapat kabinet setiap minggu yang harus diikutinya hingga kadang sampai 6-8
jam.

Menurutnya, ini disebabkan karakter Habibie yang terlalu rinci dan sangat
matematis sehingga jadwal rapat yang seharusnya bisa diselesaikan selama dua
jam membengkak hingga delapan jam.

"Sampai-sampai setelah rapat selesai saya lupa dengan apa yang telah
dibicarakan akibat capek dan rasa lelah berlebihan. Alhamdullilah, kini
semasa Gus Dur atau jika rapat dipimpin Megawati hanya memakan waktu dua jam
saja," ujar Juwono. Dengan demikian, tentunya Juwono masih memiliki waktu
untuk jalan kaki setiap pagi selama minimal 2,5 kilometer setiap hari.[anr]

Kirim email ke