Dari Gatra.

Silakan disimak bahwa:

(1) Ternyata kemenangan Bukaka terjadi setelah Gus Dur naik, jadi bukan
terjadi saat Habibie berkuasa.

(2) Keserba-dekatan masih menjadi kriteria untuk meng-gol-kan keinginan
suatu pihak baik pribadi maupun golongan. Kasusnya di sini ada orang bule
bernama Jensen bermodalkan "dekat" dengan Gus Dur dengan jalan membayari
pengobatan bisa membatalkan proyek internasional.

(3) Pemerintahan Gus Dur gagal membuat "job description" yg baik. Makannya
sering sekali terjadi tumpang tindih tanggung jawab dan kewenangan. Contoh:
Alwi Shihab sebagai Menlu ternyata lebih senang mengurusi perdagangan,
industri, dll. Kita tentu masih ingat dengan Bondan yg diberi posisi yg
tidak jelas, tetapi mampu menjalar kemana-mana. Bottom line, Gus Dur memang
harus belajar Manajemen SDM dengan baik. Lebih mendasar lagi, silakan
menyelenggarakan PENDIDIKAN dan PENCERDASAN bangsa, bukan sebaliknya malah
melakukan pembodohan nasional. Seharusnya Gus DUr juga bekerja secara
profesional, bukan seenaknya sendiri.

Saya percaya bahwa Gus Dur sendiri yg ingin suhu politik tetap tinggi.
Jangan salahkan orang lain, tetapi lihatlah tengkuk sendiri. Ngaca!


Jeffrey Anjasmara

----------------------------------
Rentetan Amunisi Menembak ALWI

Status resminya Menteri Luar Negeri, namun wilayah yang ditangani Alwi
Shihab melebar jauh ke luar urusan diplomasi. Berbagai suara miring pun
menerpanya.
MENTERI Luar Negeri Alwi Shihab pernah bilang: "Saya itu bersih, seperti
kertas putih tak bernoda." Kalimat ini dilontarkannya ketika ia disodok
kasus Badan Urusan Logistik (Bulog), akhir Mei lalu. Ucapan itu kini diuji
lagi. Kali ini menyangkut tudingan keterlibatannya dalam kasus tender
pembangunan transmisi 500 kilo-Volt yang menghubungkan Klaten-Tasikmalaya.

Harian Asian Wall Street Journal (AWSJ), edisi Senin pekan lalu,
mengungkapkan keterlibatan salah seorang Ketua Partai Kebangkitan Bangsa
itu. Di situ disebutkan, Alwi ikut mendampingi Presiden Abdurrahman Wahid
tatkala berkunjung ke Cancun, Meksiko, 11 April silam. Alwi-Gus Dur menginap
di Hotel Hilton. Di sela-sela kunjungannya itu, dua orang ini menyempatkan
diri menerima Harold Jensen, bos Industrial Development Corporation, yang
bermarkas di San Diego, Amerika Serikat.

Dalam pertemuan itu, Jensen meminta Gus Dur dan Alwi membatalkan kemenangan
konsorsium Bukaka Teknik Utama-Mega Eltra-Wijaya Karya, yang membangun
jaringan transmisi senilai US$ 75 juta atau sekitar Rp 645 milyar itu.
Jensen mau Asea Brown Boveri (ABB), Zurich, Swiss, yang melaksanakan proyek
tersebut.

Jensen bahkan tak segan menjelekkan konsorsium lain, seperti konsorsium
Hyundai-SCC-Marubeni. Konsorsium asal Korea Selatan ini dinilai punya
masalah keuangan dan tak layak mengikuti tender. Jensen mengungkapkan hal
tersebut, karena ABB sangat terganggu oleh sistem pemilihan kontraktor yang
tak sesuai. "Saya pikir, presiden harus tahu soal ini," ujar Jensen, seperti
dikutip AWSJ. Hyundai menyangkal tudingan Jensen tadi.

Jensen berani mengungkapkan permintaannya, karena ia telah berjasa kepada
Gus Dur. Sebelum putra kelahiran Jombang, Jawa Timur, itu jadi presiden,
Jensen yang menanggung semua biaya pengobatan dan operasi matanya pada 1998
dan 1999 di Moran Eye Center, Salt Lake City, Amerika Serikat. Ia kerap
menemui Gus Dur kalau bekas Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
itu bermuhibah ke luar negeri.

Tanggungan seluruh biaya itu tak diakui Alwi. Tapi Jensen memang banyak
membantu. "Saat berobat, Gus Dur tinggal di rumah Jensen," ujarnya kepada
Gatra. Menurut versi AWSJ, rumah sakit itu juga dimiliki Jensen. Tapi versi
Alwi, Jensen hanyalah pengusaha yang punya hubungan erat dengan rumah sakit
mata tersebut.

Alwi mengaku baru kenal Jensen sewaktu mengantar Gus Dur berobat di sana.
Alwi, konon, bersedia memenuhi permintaan Jensen mengenai tender listrik
bertegangan tinggi itu. Cuma, karena tak mengerti tender secara teknis, ia
meminta Jensen menghubungi Direktur Utama PT Perusahaan Umum Listrik Negara
(PLN), Kuntoro Mangkusubroto, di Jakarta.

Ternyata, Februari sebelumnya, Jensen sudah bertemu dengan Kuntoro. Saat
itu, Kuntoro baru sebulan menjadi orang nomor satu di PLN. Ia datang bersama
Daniel Tay. Di lingkungan istana, Daniel dinilai sebagai kawan baik Gus Dur
selama belasan tahun. Ia banyak membantu Gus Dur sejak masih menjadi Ketua
Umum PBNU. Menurut orang penting di istana kepresidenan, istri Daniel sering
memberikan ramuan Cina untuk pengobatan mata Gus Dur. Sejumlah embel-embel
serba dekat dengan Gus Dur itu tak ampuh untuk membuat Kuntoro memberi
tanggapan memuaskan. Jensen pun melaporkan Kuntoro ke Gus Dur.

Alwi mengakui kedekatan Daniel dengan Gus Dur. Alwi bilang, Daniel adalah
wakil Jensen di Indonesia. Sedangkan perwakilan ABB di sini, yang mendirikan
perusahaan patungan ABB Sakti Industri, menolak berkomentar soal kaitan
Jensen dan Daniel Tay dengan ABB.

Sepulang dari kunjungannya bersama Gus Dur ke luar negeri, Alwi dikabarkan
langsung meminta tim Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 166 Tahun 1999 untuk
rapat, pada 26 April lalu. Tim Keppres 166 dibuat untuk mengatur
restrukturisasi dan rehabilitasi PLN. Tim tersebut beranggotakan, antara
lain, Kwik Kian Gie dan Alwi. Kuntoro hadir dalam rapat itu.

Sumber Gatra di Kantor Menteri Negara Investasi dan Pembinaan Badan Usaha
Milik Negara (BUMN) menyebutkan, dalam pertemuan itu Alwi tak secara tegas
menjagokan ABB. Ia hanya bilang, pemenang tender itu adalah Bukaka, namun
terlibat korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Urutan kedua tak pantas
tampil karena belum berpengalaman. Sedangkan urutan ketiga? "Harusnya dia,
tapi bagaimana ya, harganya tinggi," tiru sumber Gatra itu. Maksudnya, ABB
dimenangkan, walau harus menurunkan harganya. Tapi, gagasan seperti ini
ditolak Kuntoro, karena akan memancing protes dari konsorsium Bukaka dan
Hyundai, sebagai pemenang tender pertama dan kedua.

Kwik mengajukan alternatif lain: pemenang tender bisa melaksanakan proyek
asalkan Bukaka tak disertakan. Usulan itu juga ditolak. Akhirnya Alwi
memilih jalan tengah, tender diulang. PLN khawatir usulan Alwi ditolak Japan
Bank for International Corporation (JBIC), lembaga Pemerintah Jepang untuk
pendanaan proyek internasional, yang dulu dikenal sebagai OECF. Alwi
menjamin, kapasitasnya sebagai Menteri Luar Negeri akan membuatnya gampang
mengontak JBIC agar bersedia terhadap permintaannya. "Atas jaminan itu tim
sepakat memerintahkan PLN menender ulang," ujar seorang sumber.

Kuntoro mengakui, ia diminta Kwik membuat surat sesuai dengan hasil rapat
tadi. Surat tender ulang PLN ke JBIC dan konsorsium Bukaka diteken pada 11
Mei lalu. "Kami tak punya alasan lain, kecuali diinstruksikan langsung oleh
Menko Ekuin," kata Tunggono, Direktur Operasi PLN.

JBIC juga mendapat kiriman itu dan tak berkeberatan terhadap permintaan
Alwi. Tapi, Alwi membantah berita tadi. Menurutnya, pembatalan itu terjadi
karena ada permintaan dari JBIC.

Rencananya, proyek listrik tersebut ditender ulang, 25 Juli mendatang. PLN
masih mempersilakan Bukaka untuk ikut serta dalam proyek pembangunan
transmisi sepanjang 310 kilometer itu. Namun, Bukaka agaknya sudah kapok.
Jusuf Kalla, Presiden Komisaris Bukaka, lebih memilih jalur hukum: mensomasi
PLN. Surat teguran itu dikirimkan awal Juni ini.

Somasi dan berbagai penjelasan Jusuf Kalla itu tak membuat Gus Dur mengubah
keputusannya. Malah sewaktu di Kairo, Selasa pekan lalu, Gus Dur mengulangi
kalimatnya: Bukaka pernah gagal melaksanakan proyek. "Saya sudah tanya ke
Departemen Pertambangan. Bagaimana orang tak melaksanakan janji kok bisa
menang tender lagi," ujarnya. Perjalanan Gus Dur di Kairo itu merupakan
bagian dari lawatannya ke luar negeri, seusai memeriksakan matanya di Moran
Eye Center. Bahkan, kata Gus Dur, tender itu berbau KKN karena diteken empat
hari menjelang berakhirnya jabatan Presiden Baharuddin Jusuf Habibie,
Oktober tahun lalu.

Omongan Gus Dur dibantah Jusuf. Ia bilang, hasil tender proyek listrik itu
sebenarnya belum diteken PLN. Tatkala memimpin PLN, Adhi Satrya ingin
menekennya pada Desember tahun lalu, tapi Gus Dur mencegahnya. "Jadi tak
benar isu yang berkembang bahwa tender telah diteken semasa pemerintahan
Habibie," katanya. Selain itu, semua proyek yang dimenangkannya telah
dilaksanakan. Ia menilai Gus Dur asal omong.

Jusuf juga menyangkal kemenangan konsorsiumnya berbau nepotisme. Sebab,
harga yang ditawarkannya paling rendah ketimbang peserta lain, yaitu US$
74,7 juta. Bantahan itu diperkuat surat Inspektorat Jenderal Pertambangan
dan Energi yang dipimpin Doddy Susilo Wardojo, yang menegaskan bahwa
kemenangan Bukaka tak berbau KKN. Walau, Doddy dan konco-konconya
menyatakan, secara finansial, keuangan Bukaka bisa dipertanyakan. Hingga
kini, kisruh antara PLN dan konsorsium Bukaka-Mega-Wijaya itu masih belum
usai.

Kasus Bukaka-PLN bukan masalah pertama yang menyeret Alwi. Sebelum ini, Alwi
diseruduk sejumlah kasus. Misalnya kasus duit Yanatera Bulog senilai Rp 35
milyar, impor gula, dan terakhir kasus perdagangan barter minyak dengan
Pemerintah Irak.

Dalam hal gula, Alwi dikabarkan menerima "hibah" gula impor senilai Rp 37
milyar. Sumber Gatra di lingkungan NU menyebutkan, penjualan bahan pemanis
itu akan disumbangkan untuk komputerisasi di Partai Kebangkitan Bangsa
(PKB). Selain Alwi, Rozy Munir (Menteri Negara Investasi dan Pembinaan BUMN)
dan Khofifah Indar Parawansa (Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan)
dikabarkan ikut menerima "hibah".

Ketua Umum PKB Matori Abdul Djalil, yang juga lawan politik Alwi di PKB,
rupanya tak sreg terhadap pemberian ini. Sumbangan terhadap PKB pun batal.
Namun Matori, ketika dihubungi Gatra, tak mau menjawab masalah ini.
Sedangkan Alwi mengaku tak tahu-menahu adanya kasus gula itu (lihat: Jensen
Kawan Lama Gus Dur).

Anggota Komisi VIII DPR, Pramono Anung, punya bukti lain mengenai ulah Alwi.
Ia, kata Pramono, disebut-sebut ikut membuat surat kepada Pemerintah Irak.
Selain Alwi, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Luhut Pandjaitan, serta
Menteri Pertambangan dan Energi Susilo Bambang Yudhoyono, meneken surat
kepada Paha Yasin Ramadan, Wakil Presiden Irak.

Surat tertanggal 5 Juni itu memberitahu bahwa PT Perta Oil Marketing
ditugasi mengangkut minyak Irak ke Indonesia senilai US$ 50 juta per tahun.
Minyak ini nantinya ditukar dengan makanan. Perta Oil adalah perusahaan yang
dulunya dimiliki Mohamad (Bob) Hasan dan Grup Humpuss. Pramono masih
mempertanyakan mengapa Perta yang kebagian rezeki.

Kasus minyak, gula, dan Bulog adalah tiga hal yang kemudian merembet ke
Alwi. Entah kenapa, Alwi, yang khotbah agamanya di televisi menyejukkan itu,
terus-menerus menjadi gunjingan. Mungkinkah karena ia orang dekat Gus Dur,
sehingga menjadi sasaran tembak? Ataukah karena memang cukup alasan untuk
melibatkan nama Alwi? Semua masih belum terang benar.

Dalam pandangan Pramono, keterlibatan Alwi dalam berbagai persoalan memang
berlebihan. "Mestinya Alwi mengurusi hubungan luar negeri dan menciptakan
image yang baik mengenai Indonesia," katanya. Urusan perdagangan dan
ekonomi, menurut Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan itu, biar
ditangani menteri yang bersangkutan.

Meski diberondong "peluru tajam", Alwi tampak tenang. Ia menilai, munculnya
berbagai tudingan merupakan bagian dari upaya membangkitkan semangat
anti-Alwi. "Saya melihat yang mau menembak saya sudah kehabisan amunisi,"
ujar Alwi. Cuma, siapa yang kehabisan amunisi, Alwi tak mau menunjuk nama.

Aries Kelana, Asrori S. Karni, Ronald Panggabean, Rohmat Haryadi, dan Zainal
Dalle (Makassar)

________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com

Kirim email ke