http://www.berpolitik.com/

Manuver dan Sekongkol Politik Mega-Akbar

 Jakarta -- Menjelang Agustus 2000, saat SU MPR Tahunan digelar, kondisi
politik
 Indonesia kian memanas saja. Hari-hari ini, setelah bermacam skenario
 menjatuhkan Gus Dur muncul ke permukaan, giliran hitung-hitungan meraih
posisi
 puncak menggantikan presiden RI ke-4 itu. Lalu, bagaimana Mega-Akbar
 bermanuver?

 Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Akbar Tandjung tampak aktif menanggapi
dan bersikap
 terhadap perkembangan situasi politik terakhir yang menggema di Indonesia.
Sementara,
 seperti biasanya, Megawati Soekarnoputri, baik dalam kapasitasnya sebagai
wakil presiden
 atau ketua umum PDI Perjuangan, penuh dengan diam. Kondisi politik yang
kritis tak
 menggerakkan dirinya angkat bicara.

 Namun, diamnya Mega, seperti biasanya pula, kira-kira kadar substansinya
hampir sama
 dengan bersuaranya Akbar. Kepada Mas Dur, begitu Mega biasa memanggil
Presiden
 Abdurrahman Wahid, bukanlah berarti manut mawon sendiko dawuh (mengikuti
begitu saja
 tanpa reserve). Buktinya, bila menengok ke belakang, menjelang kongres
PDI-P di Semarang
 hingga pelaksanaannya; diamnya justru menjadi senjata bagi "lawan-lawan"
politiknya di partai
 berlambang banteng bulat itu untuk tidak berkutik

 Kini, Mega pun diam. Tapi, orang-orang dekatnya terus bergerak. Sepertinya
melakukan
 strategi taktik "pesanan" Mega. Dari bertemunya fraksi-fraksi di DPR (minus
FKB dan
 F-TNI/Polri) menggolkan penggunaan interpelasi sampai menyiapkan manuver
terhadap
 kemungkinan pergantian Gus Dur. Setali tiga uang, Akbar pun begitu. Mencoba
independen
 menempatkan dirinya sebagai wakil rakyat, tetapi celah pergantian presiden
kiai itu tak luput
 dari perhatiannya. Meski, pos yang diincar berbeda dengan Mega. Jika Mega
mengincar kursi
 presiden, maka Akbar wakil presiden.

 Lirikan Mega-Akbar ke posisi kursi RI-1 dan RI-2 tampaknya kian menguat.
Selain karena Gus
 Dur makin tak jelas arah pernyataan-pernyataannya, bahkan saling
bertentangan satu sama
 lain. Perubahan Tata Tertib (Tatib) MPR yang kini sedang digodok di Panitia
Ad Hoc (PAH) II
 Badan Pekerja (BP) MPR juga memberikan peluang. Yaitu, meski SU Tahunan
tidak bisa
 menjadi Sidang Istimewa (SI), tetapi SU Tahunan dapat merekomendasikan
untuk dilakukan SI.
 Caranya, dapat dilakukan dengan dua cara. Ialah, "Melalui usulan DPR dengan
tiga kali
 memorandum, atau melalui rekomendasi dari SU Tahunan," kata Ketua PAH II BP
MPR Rambe
 Kamarulzaman, di Jakarta, Selasa (4/7).

 Nah, bila melihat jumlah anggota DPR yang menandatangani penggunaan
interpelasi sebanyak
 332 orang, maka tinggal menambah 19 orang saja untuk melakukan apa saja di
SU Tahunan
 MPR. Termasuk, mendongkel Gus Dur dari kursi kepresidenan. Sebab, angka
sejumlah 351
 (dari 700 anggota MPR) telah memenuhi syarat demokratisasi dalam menentukan
suatu
 keputusan di MPR. Itu berarti, kran besar telah mengocor bagi gerilyawan
politik untuk merebut
 kekuasaan. Siapa pun kekuatan yang mampu menggalang bagi pencapaian
kekuasaan
 semakin memiliki alasan.

 KAUKUS FRAKSI-FRAKSI DPR
 Tudingan Gus Dur hingga pemecatan terhadap Laksamana Sukardi dan Jusuf
Kalla, membuat
 Golkar dan PDI Perjuangan memiliki satu kepentingan yang sama. Karena,
tuduhan Gus Dur
 hingga sekarang pun belum terbuktikan. Sementara, Gus Dur sendiri
terindikasikan terlibat
 dalam Buloggate dan Bruneigate.

 Di lain pihak, kalangan politisi dari Poros Tengah merasa kecewa ketika Gus
Dur berupaya
 merangkul Israel dan mencabut Tap MPRS No.XXV/1966 tentang Pelarangan
Ajaran Komunis
 dan Marxisme. Dari situ terbentuklah penggalangan kekuatan antar fraksi
(partai) yang terus
 menyoal kepemimpinan cucu K.H. Hasyim Asy'ari itu sebagai presiden.

 Sebab, Gus Dur telah dianggap oleh orang-orang yang terlibat dalam
penggalangan ini,
 melakukan manuver. Misalnya, dengan munculnya kritik-kritik kepada Gus Dur
yang
 dimaksudkan untuk mendukung kepemimpinannya supaya selamat, malah
ditanggapinya
 sebagai rongrongan.

 Karena itu wajar bila AM Fatwa dari Fraksi Reformasi menjuluki Gus Dur
sebagai biang
 manuver. "Saya mau mengatakan bahwa ternyata dia itu yang paling produktif
dalam
 menciptakan, bukan sekadar isu tapi manuver politik. Gus Dur itu biang
manuver," kata Fatwa.

 Belakangan, penggalangan itu berkembang menjadi persekutuan yang mengarah
terbentuknya
 sebuah kaukus. Pesertanya pun bertambah, terdiri dari lima fraksi anggota
DPR RI; PDI-P,
 Golkar, Reformasi, PPP, dan PBB.

 Meski, anggota fraksi yang mengikuti rapat dalam kaukus ini bukanlah para
ketua fraksi, tetapi
 dengan mobilitas tinggi kalangan muda tersebut mampu menggalang kekuatan
dalam
 menyikapi berbagai perkembangan politik, terutama berkaitan dengan
kepemimpinan Gus Dur.
 "Sudah beberapa kali kami mengadakan rapat bersama," kata anggota Fraksi
PDI-P Zulvan B.
 Lindan.

 Menurut tokoh muda PDI-P yang menjadi bagian dari kaukus itu, yang rutin
mengikuti
 pertemuan antara lain; Zulvan sendiri, Didi Supriyanto dari FPDI-P, Ade
Komaruddin dari FPG,
 Ahmad Mukhowam, Suryadarma Ali dari FPP, Alvin Li Ling Piao Fraksi
Reformasi, dan Hamdan
 Zulva dari F-PBB. Selain mereka, ada sejumlah tokoh lain yang sering
mengikuti pertemuan;
 sehingga kira-kira semuanya berjumlah 19 orang. Tempat pertemuan itu,
berpindah-pindah, dari
 Hotel Mulia hingga Hotel Darmawangsa.

 Dalam pertemuan-pertemuan kaukus ini dibahas soal-soal yang sangat
sensitif, yakni mengenai
 keberadaan Gus Dur sebagai pimpinan nasional. Mulai dari memetakan posisi
Gus Dur
 sebaiknya sebagai kepala negara, yang lebih simbolik; dan Mega sebagai
kepala pemerintahan,
 mengurusi opersionalisasi pemerintahan; sampai hal-hal yang sangat teknis.
Antara lain,
 menyangkut apakah dalam menginterpelasi Gus Dur nanti bila dari jawaban
presiden dinilai
 telah berbohong akan dikenakan apa, dan kalau sebaliknya bagaimana.

 Termasuk, langkah-langkah yang akan diambil kaukus ini apabila Gus Dur
ternyata memberikan
 jawaban sebelum masa reses DPR (21 Juli) atau sesudah SU Tahunan MPR.
Masing-masing
 memiliki konsekuensi sendiri-sendiri yang sudah dirancang para anggota
fraksi-fraksi tersebut
 dalam rapat-rapat dimaksud.

 Selain itu, menurut sumber Berpolitik.Com yang pernah mengikuti pertemuan
itu, kaukus
 antar fraksi juga membahas share kekuasaan sekiranya Gus Dur terpaksa harus
turun di
 tengah jalan. Mekanismenya, melalui pembagian kekuasaan dengan sistem
proporsional; yaitu
 fraksi yang mendapat suara terbanyak dalam pemilu 1999 berhak menempati
kursi presiden,
 dan berikutnya wakil presiden. Pembagian model ini juga diterapkan dalam
pembagian jatah
 menteri. Nah, sudah bisa dihitung bahwa pertemuan-pertemuan kaukus antar
fraksi ini, yang
 sudah berhasil mempersatukan suara 332 dalam persetujuan penggunaan hak
interpelasi,
 bermaksud mengantarkan Megawati Soekarnoputri ke kursi RI-1 dan Akbar
Tandjung ke kursi
 RI-2.

 SEKONGKOL MEGA-AKBAR
 Isyarat melengserkan Gus Dur dari kursi kepresidenan lalu mengangkat
Megawati ke posisi
 RI-1 dan Akbar ke RI-2, menurut seorang sumber Berpolitik.Com,
persekongkolan ini
 mendapat dukungan dari mantan Presiden Soeharto (biasa disebut Cendana).

 Melalui pertemuan Wiranto dengan Mega yang sudah berlangsung empat kali
belakangan ini;
 pada pertemuan terakhir Wiranto membawa pesan dari Cendana. Isinya, supaya
Mega naik dan
 Cendana akan mendukung. Konsesinya, menurut sumber tadi, agar Soeharto
tidak
 dikuyo-kuyo. Di sisi lain, yang kemudian menjadi klop, Ginandjar yang
dikenal dekat dengan
 Cendana, berada di belakang Akbar. Di sini, kongsi Mega-Akbar berjalin
berkelindan.

 Gerilya yang dimainkan dalam upaya pendongkelan Gus Dur untuk menuju RI-1
dan RI-2 bagi
 Mega-Akbar adalah: di kubu Akbar mereka memanfaatkan bola liar bernama Adi
sasono. Adi
 yang sedang mencantolkan diri ke Ginandjar; kabarnya, karena Adi
menginginkan posisi
 menteri di kabinet Mega-Akbar nanti; dimanfaatkan Ginandjar untuk membujuk
mantan
 Presiden B.J. Habibie mendukung pendongkelan Gus Dur. Maksud Ginandjar,
tentu saja, selain
 keperluan soal pendanaan juga dukungan dari masyarakat kawasan Indonesia
Timur.

 Lalu, Adi bersama Ginandjar berangkat ke Jerman menemui Habibie
membicarakan rencana
 pendongkelan Gus Dur. Sayang, tawaran Adi Sasono dan Ginandjar kepada
Habibie itu ditolak.
 Alasan Habibie, Gus Dur telah berhasil dalam pemerintahannya. Ialah, bahwa
Wiranto tidak
 dijadikan sebagai penjahat perang dalam kasus Timor Timur; Soeharto tidak
dijadikan sebagai
 tersangka dalam kasus-kasus korupsi, kolusi, nepotisme (KKN)-nya; serta Gus
Dur menjadi
 presiden didasarkan pada proses yang demokratis, legitimasinya kuat.

 Segala isu yang menyangkut keterlibatan Adi tentu saja ditolak tokoh
politik asal Pekalongan
 ini, termasuk pertemuan Adi-Ginandjar-Habibie di Jerman yang menurut Watik
Pratiknya benar
 adanya. Menurutnya, ia tidak pernah ke Jerman menemui Habibie. Apalagi,
sampai membujuk
 Habibie agar mau bersama-sama mendongkel Gus Dur. "Saya ke Jerman saja
tidak, apalagi
 membujuk Habibie. Isu itu pasti disebarkan oleh orang yang tidak waras,"
katanya kepada
 Berpolitik.Com. Selain, ia juga membantah keras rumor yang mengabarkan
bahwa dirinya
 mengincar posisi menteri dalam kabinet baru di bawah Mega nanti, bila
skenario
 persekongkolan ini berhasil.

 Sedangkan di pihak Mega, Taufik Kiemas (suami Mega) berperan besar
memanfaatkan mantan
 Menteri Keuangan kabinet Soeharto Fuad Bawazier. Kebetulan, Fuad, menteri
masa-masa
 terakhir Soeharto berkuasa itu, sedang mendekati Taufik Kiemas karena
kekecewaannya
 terhadap Gus Dur (Lihat Ambisi Fuad Terus Jadi Menteri). Kiemas lalu
memanfaatkan Fuad
 untuk mendekati Amien Rais yang belakangan, dalam konteks pendongkelan
terhadap Gus
 Dur, tidak tegas mendukung Mega. Persoalannya, mengapa Mega memandang Amien
sebagai
 faktor penting untuk memberikan kepastian dukungan?

 Menurut sumber Berpolitik.Com, karena bila tokoh Poros Tengah itu
mensolidkan kembali
 fraksinya, jumlah orangnya bisa lebih besar dari PDI-P. Buktinya, bila
tanpa dukungan PKB
 sekalipun, dalam pemilihan presiden 1999 lalu suara Poros Tengah dan Golkar
(termasuk andai
 tanpa Golkar) jumlahnya lebih besar dari PDI-P; selain kepiawian Amien
mencari dukungan dari
 beberapa unsur organisasi massa dan lain-lain. Di sini, Amien memiliki
orang-orang yang
 sangat respek kepadanya (pengikut Amien); yaitu, sebagian dari Golkar,
Utusan daerah,
 TNI/Polri, unsur HMI, Muhammadiyah, dan Iramasuka. Dari sisi ini, bila
PDI-P berkoalisi dengan
 Golkar pun belum tentu cukup kuat.

 Sayangnya, Amien sempat ragu-ragu menerima bujukan Mega hingga pencapaian
 persekongkolan Mega-Akbar terhambat. Sebab, Amien khawatir dikhianati Mega.
 Kemungkinannya, kalau Amien mendukung Mega lalu menyatakan perlunya
mendongkel Gus
 Dur; lantas Mega malah memakainya sebagai kartu truf menjebak Amien.
Caranya, Mega
 melapor Gus Dur lalu membikin konsesi sendiri sama Mas Dur. Nah, di sinilah
peran Fuad
 dibutuhkan Mega.

 Di tengah kekhawatiran Mega akan penggolan dirinya menjadi presiden tanpa
dukungan Amien
 dan Amien yang masih memandang tawaran Mega sebagai jebakan, menurut sumber
 Berpolitik.Com, maka terjadilah pertemuan 6 tokoh di Bappenas, Rabu (21/6).
Masing-masing,
 Amien Rais, Bambang Sudibyo, dan Hatta Rajasa dari Poros Tengah dan Kwik
Kian Gie,
 Soetjipto, dan Pramono Anung dari PDI Perjuangan. Hasilnya, selain skenario
pembagian
 kekuasaan bahwa Gus Dur ditempatkan sebagai kepala negara dan Mega kepala
pemerintahan,
 Amien menempatkan pada posisi penentang yang baik sebagai oposisi.

 Posisi pelengkap Amien dalam upaya menggolkan Mega-Akbar inilah yang
membuat PDI-P dan
 Golkar masih terus memburu Amien. Apalagi, dalam pertemuan di Jalan Irian,
Menteng,
 beberapa pekan lalu antara Amien dan Gus Dur terang-terangan Amien tak
mengharapkan Gus
 Dur jatuh.

 Karena itu, geng ITB yang ada di PDI-P dan Golkar, plus Poros Tengah untuk
membujuk
 Amien, terus bergerilya meyakinkan Amien Rais; bahwa Gus Dur tak pantas
lagi memimpin
 karena dugaan keterlibatnnya dalam kasus Bulog dan bantuan Brunei, serta
 pernyataan-pernyataannya yang ngacau. Nama-nama geng ITB di ketiga partai
tersebut adalah:
 Arifin Panigoro, Heri Akhmadi (PDI-P), Ginandjar dan Adi Sasono (Golkar)
dan Hatta Rajasa
 (Poros Tengah).

 Kepentingan sekongkol Mega dan Akbar di sini, masing-masing mempunyai
alasan yang
 sangat penting untuk tidak lagi menunda kesempatan. Bagi kelompok Mega,
ketua umum
 PDI-P tersebut kesempatannya untuk menuju RI-1 justru sekarang ini, sebab
sebagian
 kekecewaan pengikutnya di tingkat bawah kurang memungkinkan lagi PDI-P
mampu memimpin
 dalam perolehan suara. Selain, dukungan kepada Mega sekarang ini terus
mengalir. Beberapa
 kelompok Islam yang sebelumnya menolak Mega malah mendukung.

 Sementara, bagi Golkar juga hampir sama. Sekaranglah kesempatan meraih
kembali
 kekuasaan yang pernah dinikmatinya selama 32 tahun di pemerintahan
Soeharto. Karena, bila
 lambat bergerak, dosa-dosa Golkar segera terungkap. Lalu, akses terhadap
kekuasaan pun
 akan segera sirna.

 Masalahnya, akankah rencana besar PDI Perjuangan dan Golkar terwujud? Bila
melihat sikap
 Amien terakhir kepada Gus Dur barangkali sign dari Amien segera mendukung
pola sekongkol
 Mega-Akbar. Menurut Amien, Gus Dur itu ngomongnya tiap hari berubah, kita
dipaksa sebagai
 bangsa Indonesia yang besar untuk menyesuaikan dengan pemimpin seperti itu.
"Nah,
 sekarang terpulang apakah dia bisa atau tidak. Kalau bisa kita teruskan
kalau tidak kita
 hentikan saja," kata Amien. Nah! *** (diq)

Kirim email ke