Rekan-rekan yth.,

Menanggapi isu tentang pak dubes yang menyebut milis permias=sampah,
barangkali ada baiknya pula kalau kita mencoba melihat dan merasakan
kembali kira-kira apa saja yang telah termuat dalam milis permias ini
dalam kurun waktu setahun terakhir ini saja. Dan, rasanya, menurut
pandangan saya, apa yang disebut oleh pak dubes tsb memang KURANG TEPAT,
namun maknanya juga TIDAK JAUH dari kata 'sampah' tsb.

Jujur saja, selama setahun ini, kemungkinan hanya ada BEBERAPA tulisan
yang bermanfaat bagi satu atau beberapa orang pelanggan milis permias
ini. Juga tidak nampak ada gagasan bersama atau telaahan bersama, yang
mengarah kepada pemecahan atau sumbang saran terhadap masalah bangsa
Indonesia saat ini, yang berhasil dimunculkan dan ditindaklanjuti dalam
diskusi. Selebihnya......, kita sama-sama tahu.... Kita telah lebih
banyak terjebak dalam adu argumentasi terhadap sesuatu hal/isu yang
sebenarnya TIDAK BERIMPLIKASI apapun terhadap perbaikan bangsa dan
negara kita, dan diperparah lagi dengan mendahulukan 'AKU'nya.

Lalu, dengan isi yang lebih banyak KURANG BERMANFAAT-nya dari pada
manfaat-nya tsb, masihkah kita bangga dengan milis permias ini?
Kalau mau jujur, kenapa kita tidak berani bilang TIDAK BANGGA...?
Dengan kenyataan tsb, kenapa kita tidak berani menanamkam jauh-jauh
dalam lubuk hati kita bahwa milis ini sebenarnya sama sekali tidak
membuat saya bangga.

Biarkanlah lubuk hati kita merasakan sendiri kenyataan ini......
Biarkanlah lubuk hati kita menjadi sedih dan menangis karenanya......

Ya....., sebagai pelanggan milis ini, kita layak untuk sedih dengan
kenyataan ini. Dan, kalau mau, kita juga layak menangis untuk itu.

Biarkanlah lubuk hati kita bertanya, kenapa milis permias ini kok
menjadi begini menyedihkan..., kenapa milis ini isinya cuman
pertengkaran....., kenapa milis ini dipakai hanya untuk
'gagah-gagahan'....., kenapa di milis ini tidak muncul sesuatu yang
berkualitas......., kenapa di milis ini jarang muncul pemikiran untuk
memecahkan persoalan bangsa.........????

Lalu, dimana letak kelebihan anggota milis ini yang sebagian besar
sedang dan telah belajar di negara adidaya dan gudang ilmu pengetahuan
ini? Mana hasil gemblengan universitas Amerika itu.....?? Mana
kematangan dan kebijakan berpikir dalam mencermati persoalan
bangsanya....?? Mana tulisan-tulisan dengan kekayaan
referensinya.....???

Dan, biarkanlah lubuk hati kita yang mencari jawabannya......

Salam,
Budi

PS: Lain lubuk lain ikannya. Lain hati lain sambel gorengnya (...???)



Marianus DATUBARA wrote:
>
> Salam PERMIAS,
>
> Ini untuk kedua kalinya -kalau tidak salah lho- saya membaca nama Bapak
> Dubes RI kita di AS di bawa2 di milis permias@ dengan pernyataannya yang
> mengatakan bahwa permias@ kebanyakan sampahnya (bau donk..hehehe...).
>
> Well, taruhlah pernyataan itu pernah beliau ungkapkan -entah dimana itu-
> dan taruhlah pernyataan beliau itu benar adanya, so adakah terlihat niat
> dari beliau untuk 'sejenak' mengintip ke dalam permias@ kebenaran kata2
> beliau tsb. dan berusaha -sebagai seorang Bapak- untuk memberikan suatu
> 'wejangan' di dalam milis ini bagaimana caranya agar milis permias@ yang
> tercinta ini tidak 'kebauan' oleh sampah lagi.
>
> Hmm, jawabnya ada dalam hati Bapak Dubes RI. Bukan begitu, Bapak Dubes?
>
> Kalau Bapak Dubes RI hanya mendengar atawa membaca beberapa potong email
> yang ada di dalam permias@ ini (saya katakan beberapa potong email, coz
> tidak mungkin beliau mengikuti permias@ sejak awal berdirinya, wong saya
> sendiri hanya berani men-judge permias@ sejak saya hadir disini kok) itu
> sich tidak ada bedanya dengan 'kebanyakan' orang Indonesia lainnya, yang
> -katanya- bisa ngeritik doank. So, no wonder negara kita berantakan gini,
> wong untuk level permias@ aja, ada orang -Dubes RI lagi- bisa seenaknya
> ngeritik, tapi tidak ada di dalam milis permias@ ini (oops, gimana kalau
> ternyata ada, Dharma? Hehehe..maaf, pak Dubes, but aniwei, kok Bapak nggak
> nulis aja di [email protected]...).
>
> Terus terang, sebenarnya saya tidak ingin mengomentari komentar mas Dody,
> tapi perlu mas Dody ketahui, bahwa saya akan saya menghargai orang yang
> memberi kritik kepada permias@ apabila orang tersebut benar2 terlibat di
> dalamnya, sebagai misal, mas Syamil, mas Yohanes, mas Moko, mas Jaya, mas
> Yusuf, mas Mubasyir, mas Pandu, mas Okki, mas Arya, Daeng Ida, kang Nasrul
> (walaupun nyelimet, saya sangat menghargai ide2 kang Nasrul..Go Nasrul!!),
> lae Irwan, mas Agus van Syracuse dan saya juga lho (plus yang lainnya yang
> saya lupa nama2nya), dan apabila mereka ini mengeritik permias@, dan sudah
> barang tentu, kita semua yang ada di milis ini berusaha untuk memperbaiki
> atawa paling tidak meningkatkan mutu dari penulisan di dalam permias@ ini.
>
> So, mas Dody, kapankah anda terakhir kali menulis di permias@? Maukah anda
> menunjukkan kepada rekan2 yang saya sebutkan namanya diatas bagaimana cara
> menulis yang baik, dan saya yakin, mereka akan belajar banyak dari anda.
> Let's do it, dude...;)
>
> Kalau tidak salah, beberapa waktu yang lalu, mas Budi dan lae Irwan asyik
> diskusi tentang "pemain dan penonton sepakbola", so, di posisi mana nich
> mas Dody berada..;))
>
> Well, akhir kata, sepotong komentar mas Dody, kalau dilihat dari sisi yang
> lain, akan memberi makna yang dalam, yaitu akan di bawa kemana milis yang
> menjadi kebanggaan PERMIAS selama 8 tahun terakhir ini? Jawabnya, hm, kita
> semua yang berada di milis permias@ ikut bertanggung jawab terhadap sampah
> atawa tidaknya milis ini.
>
> Dan, saya berani katakan, milis permias@ bukanlah milis sampah ataupun ada
> banyak sampah, karena 'sampah' biasanya tidak ada di dalam rumah.
>
> Salam hangat,
> Dharma Datubara

Kirim email ke