Telah terjadi kerancuan dalam mengartikan "Matematika".
Seolah-olah "Matematika" hanya berlaku untuk fenomena yang berirama,
beraturan, berkorelasi, atau berurutan.
Sedangkan untuk fenomena yang komplek sulit untuk membawanya ke
matematika. Selanjutnya muncul pemikiran bahwa apa yang komplek itu tidak
bisa dilihat secara matematis. Terlebih untuk hal-hal yang semakin komplek
lagi akibat adanya faktor eksternalisasi, seperti sosial, politik, dan
psikologi.
Ini jelas merupakan pembodohan intelektual. Seolah-olah Matematika
tidak mau berurusan dengan hal gituan.
Mendingan mengatakan seperti contoh berikut ini :
"Penggunaaan Matematika untuk politik, psikologi, dan sosial jauh
sulit untuk menuju kepastian ketimbang penggunaan Matematika untuk
teknologi ---> dilihat dari karakteristik khas intelektual manusia".
Dengan kata lain, kalau selama ini Matematika kurang populer dalam
urusan sosial, politik, dan psikologi ... itu bukan karena Matematika.
Tetapi karena karakteristik khas intelektual manusia itu sendiri.
Salam,
Nasrullah Idris
----------------------
Bidang Studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi
http://bdg.centrin.net.id/~acu